Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Apakah Semua Pengalaman Menyadarkan?

10 November 2019   09:54 Diperbarui: 10 November 2019   09:59 0 0 0 Mohon Tunggu...
Apakah Semua Pengalaman Menyadarkan?
sumber gambar: esqtraining.com

Ketika orang berbicara, apa yang salah dari pembicaraan itu? Mungkin benar, tidak semua konsep apa yang menurut satu manusia ideal, "ideal" juga menurut manusia lain. Dalam hal ini menjadi delima mungkin ada, mengapa dikatakan sebagai suatu dilema, karena tidak ada yang pasti dalam manusia bersudut pandang, semua serba apa yang baik menurut penafsirsanya sendiri.

Peradaban yang memilih, mungkin pantas disematkan sebagai acuan yang akan terus dikumandangan manusia abad 21. Bukan apa, pesatnya teknologi, mode, dan pemikiran mengenai kehidupan sendiri begitu maju diabad ke-21 ini. Sepertinya kondisi inilah yang membuat memilih sebagai manusia didalammnya, yang berpikir dengan cenderung menimbang. Apakah sesuatu "memilih" itu hanya akan menjadi kesia-siaan belaka, atau malah menambah beban hidup yang ada?

Memilih memang bukan perkara gampang, seperti memilih dalam menulis topik-topik apa yang belum tersentuh oleh kebanyakan pemikir lainnya. Atau tulisan-tulisan dengan kadar harus dibaca dua atau tiga kali untuk paham konten yang disajikan dari penulis kepada pembaca itu sendiri. Tetapi perkara bentuk dari apa pilihan itu, tidak lepas adalah konsekwensi yang harus ditanggungnya sendiri, bagaimana melihat pahit didalam manis sebagai konsekwensi dari pilihan itu?

"Memang menjadi manusia bukan hanya harus ditangguhkan pada pilihan, tetapi juga memilih  apa yang ingin dipilihnya sendiri. Tentang berbagai pengetahuan disana, apakah menjadi sebuah rujukan untuk manusia dalam menentukan pilihannya sebagai keputusan hidup yang harus dipilih mereka pada akhirnya"?

Semacam menjadi ajang untuk renungan bawasannya; "manusia bukan hanya memilih yang akan baik untuk dirinya sendiri, tetapi untuk memilih siapa yang akan hadir dalam hidupnya juga adalah bentuk dari pilihan hidup yang tidak harus manusia kesampingkan baik dalam menjadi sendiri atau didalam kerumunan".

Hanya menjadi pengumbar kata sebenarnya; "orang lain menjadi penimbang apa yang disesalkan dengan keputusan orang-orang lainnya yang menurutnya gajil". Tetapi disini apakah ada orang yang mampu mendengarkan orang lain, yang lebih lagi dari itu menuruti apa pendapat orang lain? Jelas sebagai pertanyaan sendiri ini sudah sesuatu yang gambling. Konsep dari ideal itu sendiri tidak mungkin akan bertumbuh dari pemikiran manusia lain selain dirinya sendiri.

Tetapi kesadaran dalam pengetahuan itu merupakan suatu hal yang pokok, dimana sebagai "contoh" menjadi manusia agar ia tidak gagal lagi pada pilihan yang akan dipilihnya sendiri. Mungkin kata-kata ini seperti abstrak didalam setiap pembacaannya. Namun yang perlu diingat, apapun tulisan seorang manusia, ia bukan saja terinspirasi dari kadar-kadar sosial yang membawa pada imanjinasinya, tetapi tatapan pada realitas sendiri, ia melahirkan sebuah pemikiran yang patut untuk dikaji.

Dan pengetahuan seperti menjadi kompas yang didalamnya, yang terbentuk sebagai suatu kesadaran baru bagi manusia. Memang dalam mendengarkan orang lain, manusia hanya butuh kesadaran dalam mendengarkan, tentu disini bukan manusia satu menuruti manusia lainnya, tetapi menjadikan pandangan orang lain sebagai bentuk kesadaran yang lain dari dirinya juga "patut" untuk diperhitungkan. Adakalanya dibalik orang lain adalah neraka yang "Jean Paul Satre" kumandangkan tidak dapat disemaatkan pada orang-orang yang telah mencapai kesadaran.

Manusia memang butuh orang lain sebagai cermin, dimana sudah tepatkan tindakan yang harus kita "manusia " lakukan? Inilah mengapa orang lain memang harus didengarkan setidaknya untuk menjadi tanda bahwa; "kita tidak akan terlalu jauh bertindak ceroboh dalam menentukan pilihan, karena memilih pilihan sama halnya; kita akan dihadapkan pada kebahagiaan dan penderitaan kita sebagai manusia."

Menjadi manusia berarti dia berkuasa atas dirinya sendiri, namun tentang kuasa-kuasa yang akan mereka implementasikan dalam memandang hidup itu sendiri, apakah pengalaman yang berulang-ulang tidak akan menyadarkannya dalam menanggapi kuasa untuk pilihannya tersebut?

Tentu ini bukan sesuatu yang mudah untuk dimengerti, terkadang pengalaman saja tidak cukup menyadarkan orang yang memilih dengan kehendaknya sendiri secara terburu-buru. Ada saja manusia yang harus mengalami pengalaman tertentu untuk menyadarkannya, tetapi tidak semua pengalaman itu menyadarkan bagi manusia-manusia yang belum mampu menyadarkan dirinya sendiri. Pengalaman saja belum cukup untuk menyadarkan manusia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2