Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Esais, Peminat Sosio-Humaniora, bermukim di Cilacap.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Seniman Kata-kata

3 November 2019   06:54 Diperbarui: 17 November 2019   00:33 49 3 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Seniman Kata-kata
sumber gambar : sarasvati.co.id

Sebenarnya tidak ada yang lebih menyulitkan dari bermain rasa untuk menjadi sebuah karya. Sebab semua rasa yang hadir terkadang tidak untuk diketahui oleh siapapun juga termasuk dirinya sendiri. Ketika kau diingini, bagaimana rasamu memberi tahu? Namun ketika kau tidak diingini, bagaimana rasamu meredam semua itu? Angan dan pikiran termasuk segala bentuknya seperti lebih baik dilepas saja dari ingatan manusia.

Manusia dan berbagai perasaannya, ia bukan hanya hidup, tetapi mati secara bersamaan diruang yang sama pula pada akhirnya. Terkadang yang dalam ungkapannya mempesona, ia sendiri tidak tahu akan keterpesonaannya itu. Panasnya siang ini, seperti tanda dalam ada, "kita semua si mahkluk yang menderita sebagai satu dari banyak manusia". Tetapi mengapa dengan berbagai imajinasi itu, bukankah nyatanya dia lebih indah dari relaitas itu sendiri yang terkesan di rasa menjadi lebih buruk jika dirasa keberadaanya?

Sebagai manusia peng-angan-angan memang semua yang terjadi serba untuk diharapakan. Siapa yang tidak ingin semua terjadi secara "pasti" dengan yang terharapkan sebelumnya? Bukankah semua manusia menginginkannya? Imajinasi memang selalu tidak dapat menunjukan ketidakadilan itu.

Mengapa dan selalu mengapa? Tentang ilmu yang tinggi harus dikejar manusia sebagai jembatan dari kesadarannya menjalani hidup ini.Terkesan sederhana memang, sembah pada rasanya sendiri sebagai manusia. Nestapa dan bahagia, haruskah aku gambarkan disaat debu-debu ini saling berterbangan searah dengan mata angin? Lalu bagimanakah dengan nasib yang diimpikan oleh imajinasi kemudian berbanding terbalik dengan realitas? Mungkinkah dapat selalu terperbaiki?

Yang tidak tergambar, hanya ada dalam ruang ungkapan metafora karya-karya surialis itu. Siapakah yang akan dapat membaca berbagai tulisan dari rasa ini, dimana aku harapkan sebagai karya yang akan masyur nanti didunia pasca modern? Lebih dalamlah bukan hanya sebagai manusia yang berpikir, tetapi "Jadilah binatang yang perasa". Kata-kata ini tentu yang disemboyankan oleh para seniman nyentrik itu; bawasannya mereka bekerja dengan naluri, tanpa berpikir struktural, dan juga tanpa waktu yang membebani mereka.

Namun apakah kau sebagai manusia yang berseni itu sudah tahu sedikit saja tentang rasa itu? Yang jelas sesuatu itu ada didalam dirimu! Manusia seperti melantur, ia bukan saja akan terjebak pada rasanya sendiri, tetapi berbagai kecemasan itu, dapatkah kau angkat aku sebagi anakmu yang lucu, bandel, dan sering membuat sakit hati pada rasamu sendiri? Anak itu adalah buah dari sebuah karya, ungkapan ketidakpuasan, sakit hati, bahkan harapan yang terkadang hilang bagai ditelan ruang kegelapan hidup manusia.

"Karena aku bukan, aku bukan manusia berpikir yang bisa bekerja secara rapi diruang tradisional dan mengingat apa yang mereka akan ingat sebagai tujuan hidup mereka. Aku hanya binatang yang merasa yang sedikit-sedikit mengobati hidup dengan berkarya. Dan pada rasa-rasa itu, seperti aku ingin memanggil namamu: "semua buah-buah yang akan menjadi karyaku selanjutanya". Bahkan disetiap detak jantung yang aku rasa bersama udara kotor dari jalanan itu menyapaku untuk aku lukis dia menjadi bersih kembali dengan kata-kata".

Andai sedikit saja kau tahu. Bagaiamana dengan rasa dan rasanya itu yang hadir tanpa permisi mengetuk ruang hati manusia? Ia tidak membingungkan, hanya saja ia menggelisahkan. Tentang menjadi cemas dan terus saja selalu mencemaskan hidup. Lalu kemudian menjadi penanya yang terbaik bagi dirinya sendiri. Apa sebenarnya rasa itu, apakah ia memang benar-benar ada dalam nyatanya rasa ini? Tetapi apakah kau tahu dari apa yang tertunggu itu sebagai jalan dari bayang-bayang hidupmu sendiri sebagai seorang manusia yang berseni untuk berkarya nanti?

Diam dan berpikirlah pada kehampaan rasamu sendiri sebagai manusia yang tertatih. Sesekali mencari apa kata dari intuisimu sendiri berkumandang. Tetapi kau harus bertanya, pada siapakah lagi bentuk dari tanya-tanyamu itu harus ditanyakan? Hari ini dimana aku ingin berpijak untuk menetapkan rasa batin sendiri saja tidak perlu, biarkan ia tertata secara alamiah saja sebagai ganjaran dari gambaran manusia santai. Dan berbagi ungkpan-ungkapan indah disana memang hanya akan membuat cemas seperti hujan yang tidak berhenti-berhentinya dari pagi sampai pagi lagi.

Hujan yang belum juga selsai di hari kedua bulan November ini. Ungkapan yang menggema dari kejauhan, "Anak kecil berbicara dengan lantangnya menyahut kata dari lelaki tua itu; Bagaimana dengan benih-benih padiku disawah? Musim penghujan dan kemarau bukan hanya akan tetap mencemaskan banyak manusia didalam beban-beban berbagai tafsirannya. Anak kecil itu benar: "Manusia mungkin terlahir sebagai kaum pencemas! Disaat kemarau meminta hujan supaya tidak kekeringan, musim penghujan meminta berhenti sejenak hujan itu supaya tidak kebanjiran".

Tetapi tentang bagaimana alam, apakah manusia dapat mengonterolnya? Bukan hanya menjadi teman bagi alam untuk saling mengerti, menjadi manusia juga harus mulai memadamkan api kecemasan yang lahir dari dalam dirinya sendiri. Apakah ini tantangan untuk menjadi binatang perasa itu? bukankah seniman juga masih sama dasarnya "binatang" yang menyatu pada alam dan sesekali harus terus memahaminya?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN