Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Prawacana Aku, "Manusia"

20 Juni 2019   14:25 Diperbarui: 20 Juni 2019   16:25 0 1 0 Mohon Tunggu...
Prawacana Aku, "Manusia"
ilustrasi diambil dari pixabay.com

Dengan segala bentuk dari romansa, problematik, bahkan wacana ke aku-an yang agung membuat, aku harus membangun sendiri kebingungan ini. Sejengkal mencoba berpikir, merasa, bahkan menduga dengan segenap pemikiran yang tersisa di kepala.

Dari wacana ke wacana "aku" hidup, kepedihan, harapan yang tidak sesuai dengan kenyataan, aku hanya bisa merangkak, namun aku ingin bisa terbang.

"Sepertinya terdapat kerancuan yang dalam. Begitu dalamnya ia hanya sesal. Mengapa ada kisah tak sengaja ini "kehidupan"? Penjelmaan ini, palsu, menipu dalam kata indah retorika".

Ada lelah di balik suara-suara tak dirindukan, yang bergema dari kejauhan para pelita kehidupan. Kau dan dia, ada karena luka yang terlibat dalam kecewa, pengekangan, dan bedil-bedil senjata yang menganga di sana.

Aku kecewa terhadap dirinya, aku, kamu dan kamu. Lamunannya garing, seperti sawah yang tidak di air-i bertahun-tahun lamanya.

Jiwa-jiwa yang mencintai dengan harapan kehidupan, siap-lah menjemput kekecewaan, yang datang diserambi depan pintu hatinya sendiri.

"Kau akan menjadi sesal, jika kau merasa, kau dan aku dikecewakan oleh harapan cinta romansa palsu kehidupan, atas nama kemanusiaan. Sebenarnya mereka telah luluh lantak, bahkan "ketika kau dan aku hancur bersamanya masa lalu, masa dimana membiarkan dirimu termakan abu, menjadi keabadian, kemudian dilarung dibawah dalamnya lautan itu".

Akan aku lupakan semua, seperti hantu, tidak terlihat, jika terasa rasalah merasa dengan tiada, agar ketenangan ada seperti sajadah yang dibuat untuk beribadah.

Karena sajadah tidak tahu yang kau mau, ia hanyalah tatakan untuk setiap harapan-harapan, yang menguatkanmu, dengan sedikit serakah, menginginkan menjadi sempurna, menurut egomu dan nalarmu sendiri.

Harapan seperti sindrom kekakuan bagi mereka para pelita kehidupan kini. Menginginkan apa yang tidak bisa dilakukan, dengan takut, dengan sedikit, curang seperti mereka para bebal disana dengan peragaan kampanyenya.

Apakah aku juga ingin mencurangi diriku seperti mereka itu? Yang tidak terduga, bawalah aku kegerbang kehidupan masa lalu saja. Agar jalan ini terang, siapa mereka, siapa aku, dan bagimana tentang keminatan kehidupan ini, "meluruskan atau membela upaya hidup mereka para penghuni tepian sungai sana".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
KONTEN MENARIK LAINNYA
x