Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Aku, Politikus, dan Rakyat Jelata

17 Juni 2019   16:38 Diperbarui: 20 Juni 2019   01:29 0 8 3 Mohon Tunggu...
Aku, Politikus, dan Rakyat Jelata
Ilustrasi kesenjangan sosial. (THINKSTOCKS/ARTISTICCO)

Aku seperti jejak yang tidak terketahui itu. Semua hanya di belakang layar yang megah, revolusioner, bahkan catatan-catatan kecil perjuangan dengan kepalsuan para pemangku kepentingan disana.

"Ketika kita berjuang dengan cara untuk menang, tetapi menjadi kalah dalam tahap kehidupan selanjutnya".

Tetapi bagaimana sistem feodalisme ini tetap jalan dinegri yang katanya meraih merdeka dengan caranya sendiri? Tidak cukupkah para jelata berjuang sampai titik darah penghabisan untuk merdeka bersama?

Menyambung kembali harapan-harapan, tanpa orang-orang dari sana yang merebutnya? Bangsa yang baru menjadi republic namun berwajah feodal itu?

Realitasnya kini setelah semua berlalu, jelata hanyalah kaki politisi yang berkempentingan. Mungkin perjuangan politisi hanyalah mengganti orang-orang itu, kue kuasa itu atas nama negara.

Jelata akan di tempat perjuangannya sendiri, setelah perjuangan kebebasan bersama itu tercipta, tetapi kebasaannya terpenjara oleh hukum Negara yang dapat terbeli. Dalam kenyataannya "Jelata" harus mencari cara bagaimana kebebasannya untuk mencari penghidupan yang lebih layak dari waktu ke waktunya.

Bibitan politikus mungkin kini sedang bersenang-senang, tanpa rasa bersalah disana dengan segenap apa yang telah mereka kuasai. Ia ingin berkuasa terus dan menerus, kalau bisa sampai pada turunan ke tujuhnya.

Umumnya mereka tanpa tahu, bagaimana berjuang untuk diri mereka sendiri, bukan dari dinasti, bukan dari kapital yang meninggi, juga bukan dari pencucian-pencucian uang yang tidak terketahui atas nama rakyat jelata dan bangsa ini.

Kisah ini hanyalah narasi, bagaimana suatu bangsa berdiri atas nama para jelatanya yang progresif ini, sebagai petarung dan pejuang kebebasan atas nama politik dari politikus membelenggu.

Mimpi itu tidak akan pernah kosong seperti mereka "jelata" yang mengorbankan diri untuk diri mereka sendiri, keluarga mereka, tentu juga orang-orang yang mereka cintai. Terbolak-baliknya atas nama zaman pasti memenangkan pemenang yang sebenarnya.

Jelata adalah pemenang yang tertunda itu, dengan segenap apa yang mereka punya yaitu dirinya sendiri.Untuk itu salah satu dari mereka "jelata" harus berkuasa, mengadilakan bangsa dan negara.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3