Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Pemimpin Harus Mengenal Wahyu Mahkota Rama?

27 Mei 2019   14:55 Diperbarui: 10 Juni 2019   23:57 0 2 0 Mohon Tunggu...
Pemimpin Harus Mengenal Wahyu Mahkota Rama?
Ilustrasi diambil dari kanal Youtabe rTV

Terlepas sebagai karya fiksi atau fakta yang benar terjadi di masa lalu. Karya cerita, baik dari film atau sadiwara radio "kolosal" dalam hal ini menjadi daya tarik yang setidaknya "saya gemari".

Meskipun saya adalah generasi muda (milenial) yang kebanyakan di dalam generasinya sendiri tidak peduli akan cerita-cerita yang dianggap kuno. Tetapi, "saya harus mendobrak doktrin zaman ini". Tetap, sumua karya ada baiknya untuk kita, setidaknya untuk menambah wawasan pengetahuan kita sebagai manusia.

Memang tidak salah, kita sebagai generasi muda mempertanyakan cerita-cerita kuno itu yang "absrud menurut zaman". Untuk saya, tidak masalah tiba-tiba manusia dapat menjadi besar (raksasa), senjata keluar dari dalam dirinya sendiri, atau raja-raja yang punya keterikatan dengan makhluk-mahkluk astral dan sebagainya.

Bagi saya, karya kolosal dalam bentuk drama atau semacamnya sangatlah penting bagi pengetahuan manusia. Bukan karena saya menaruh perhatian lebih pada keilmuan mistik di dalamnya. Melainkan cerita masa lalu yang punya relevansi dengan saat ini. Untuk itu, cerita drama kolosal sangat patut sebagai bahan dasar pemikiran hidup manusia.

Falsafah kehidupan, sosial, politik dan lain sebagainya yang terkandung dalam karya drama kolosal, saya kira dapat juga di jadikan metode pembelajaran untuk kehidupan saat ini ditilik dari cerita kehidupan masa lalu.

Saya sendiri berpandangan bahwa; karya drama kolosal melampaui hiburan. Ia " karya kolosal" merupakan prodak dari kebudayaan, "asli budaya kita sendiri dan kondisi masyarakat pada saat itu". Bahkan tidak sedikit adalah sebuah pelajaran kehidupan bermasyarakat.

Mungkin saya sebagai manusia yang dianggap "maju" kehidupannya saat ini harus banyak berterimakasih pada seniman-seniman karya kolosal yang berjasa besar pada masa itu. Kini dengan kecanggihan teknologi saya dapat menikmatinya sebagai "wacana pengetahuan" itu sendiri.

Karena mereka "seniman kolosal" tidak hanya melahirkan untuk menyambung kebudayaan lintas generasi, tetapi lebih dari itu, "yang sejatinya untuk mendidik manusia dari perspektif kehidupan masa lampau". Terkait atau tidak untuk kehidupan saat ini? inilah hal subyektif itu, tergantung diri kita masing-masing.

Setidaknya, ranah kebudayaan memang selalu menarik. Benar, ia tidak hanya membangkitkan romansa hidup seperti; zaman feodalisme, kesaktian manusia, dan kearifan hidup masa lampau. Saya kira, dari banyak karya drama kolosal yang ada di Indonesia, dua yang menurut saya penting untuk di telaah sebagai pengetahuan. Dua tersebut antara lain: seri Drama Kolosal Legenda Angling Dharma dan Misteri Gunung Merapi.

Dari berbagai drama seri ceritanya sendiri, yang paling menarik tentu tentang kepemimpinan dalam politik "Raja". Dalam hal ini, seri dari kolosal "Angling Dharma". Tetapi di seri drama kolosal Misteri Gunung Merapi sendiri juga apik dalam menerangkan gonjang-ganjing kerajaan Mataram saat itu, terutama faktor transisi kepemimpinan Sultan Mataram.

Sekilas cerita drama seri kolosal Legenda Angling Dharma

Disebutkan dalam drama seri kolosal Angling Dharma tentang Wahyu "Mahkota Rama" yang wajib di ketahui oleh seorang Raja. Pada saat itu Angling Dharma adalah Prabu dari Kerajaan Malawapati yang dikenal sebagai raja yang bijaksana, sakti dan cinta terhadap rakyatnya.

Suatu ketika disaat dia "Angling Dharma" bersama istrinya Setyawati, ia mendengar suara sepasang cicak yang sedang iri dengan kemesraan dirinya dan istrinya. Lalu Angling Dharma tertawa dan praktis menyinggung istrinya. Dijelaskan oleh Angling Dharma bahwa; ia punya ilmu "aji gineng", dimana ia bisa mengerti pembicaraan semua jenis binatang.

Karena itu istrinya "setyawati" mempertanyakan cinta Angling Dharma terhadapnya, alasanya tidak diperbolehkannya istrinya untuk juga dapat menguasai ilmu pembicaraan binatang. Bukan apa, ketika ilmu itu diturunkan kepada orang lain, walaupun istrinya sendiri ia "Angling Dharma" akan mati. 

Itulah kenyataannya, setelah ia "Angling Dharma" diturunkan ilmu tersebut, yang menurunkan itu juga mati. Adalah Naga Benggala yang menurunkan ilmu tersebut. Naga benggala merupakan naga Pertapa atau Naga Resi. Dalam tradisi Hinduisme "Resi" disebut juga orang-orang suci yang bijaksana.

"Seorang wanita tidak pernah berpikir dengan akalnya", itulah kata terakhir yang di dengar oleh Angling Dharma dari perbicangan sepasang domba ketika akan melakukan ritual Pati Obong. Pati Obong sendiri dilakukan atas permintaan istri yang menuntut kesetiaan cinta suami "Angling Dharma". Alasanya tentu karena tidak bisanya ilmu mengetahui pembicaraan binatang di ajarkannya kepada istrinya.

Ritual pati obong merupakan ritul mati dengan kesadaran ingin mengakhiri hidup melalui kobaran api. Ajakan untuk pati obong sendiri di iyakan oleh Anggling Dharama untuk membuktikan kesetiaannya kepada istrinya "setyawati" yang berjanji sehidup semati. Tetapi atas dasar kecintaan kepada rakyat, dan rakyat sendiri sangat terpukul raut wajahnya melihat ritual pati obong yang dilakukan oleh sang prabu Angling Dharma, ia mengurungkan niatnya untuk pati geni bersama istrinya, "Setyawati".

Pasca kematian istrinya "Setyawati", prabu angling dharma dipenuhi kegelisahan akan bayang-bayang wajah istrinya di dalam istana. Untuk itu dia berkelana untuk melihat luasnya jagad raya. Tentu mencari ilmu untuk membuat ia semakin menjadi seorang Raja yang lebih bijaksana. Dalam perjalannya sendiri, ia sempat di kutuk menjadi burung Blibis oleh penyihir yang menaruh dendam padanya.

Dari perwujudan burung blibis sendirilah ia bertemu dengan penganti istrinya "setyawati" yang telah meninggal karena Pati Obong. Pertemuan dengan Sekarwangi "calon istri" sendiri bertempat di kerajaan Bojonegara. Kebetulan Sekarwangi adalah putri dari Raja Bojanegara. Kemudian Sekarwangi yang menjadi istri baru Angling Dharma di bawa ke Malawapati sebagai pemirsurinya, dan menjadi ratu bagi Kerajaan Malawapati.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3