Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Karyawan, Belajarlah pada Manusia Pengangguran

8 Mei 2019   11:26 Diperbarui: 9 Mei 2019   13:24 0 12 3 Mohon Tunggu...
Karyawan, Belajarlah pada Manusia Pengangguran
sumber; pixabay.com, illustrations/tekanankerja kantor membuat stres

"Manusia pekerja, menjadi manusia pengangguran itu sangat perlu, untuk tahu rasanya menjadi manusia paling bebas sedunia"

Hal yang paling tidak membebaskan adalah keterikatan manusia dengan pekerjaan di abad 21 ini. Terlebih kita bekerja untuk orang lain dan hasilnya dibayarkan melalui orang lain. Rasa-rasanya kita bekerja itu harus sesempurna mungkin, tanpa cacat sedikit pun. Tetapi sebagai karyawan yang dibayar untuk bekerja, seakan kita tidak bisa berbuat apa-apa dengan kasus semacam itu. Sepertinya karyawan diciptakan untuk patuh dan sempurna sebagai manusia pekerja.

Merujuk pada penelitian-penelitian yang ditulis di media-media masa tentang, pekerjaan yang dilakukan generasi milenial diteliti cukup akurat. Mungkin karena usia saya masuk dalam generasi itu, jadi saya memperhatikan lebih tentang hal-hal yang berkaitan dengan generasi milenial. Salah satu penelitian mengungkapkan bahwa generasi milenial tidak bahagia dengan pekerjaannya? Saya juga salah satu dari orang yang tidak bahagia dengan pekerjaan  saya saat ini.

Untuk mempertanyakan masalah saya sebagai karyawan, tentu yang tidak bahagia dengan pekerjaannya, saya pun membuat survay kecil terhadap rekan-rekan seperjuangan saya. 

Dari satu hingga sepuluh, rata-rata juga sama seperti saya, "tidak suka atau tidak bahagia dengan pekerjaannya". Alasan mereka beragam dari yang gaji kecil hingga tanggung jawab yang besar minim apresiasi. Kebanyakan dari mereka sudah mulai ancang-ancang akan keluar dari perusahaan kalau ada pekerjaan yang lebih baik, atau membangun usaha sendiri. Rata-rata dari mereka ingin pekerjaan yang lebih baik, dan menjamin masa tuanya.

Jika ditelaah lebih dalam memang kelihatannya miris. Ketika pekerjaan sulit di dapat, justru kebanyakan yang kerja tidak bahagia dengan pekerjaannya. Dunia sepertinya akan terbalik, "terbalik karena kerasnya tahan rasa kehidupan manusia pekerja" melanjutkan eksistensi hidup dengan perihnya kerja berserta tanggung jawabnya.

Saya terkadang juga berpikir, salah satu upaya bereksistensi hidup manusia adalah bekerja. Saya juga sadar pekerjaan pun mengganggu kebebasan eksistensi kita. Terkadang sayapun bertanya bagaimana menyeimbangkan itu? Apakah hidup manusia modern harus seperti ini? Ya sudahlah, sepertinya mungkin dunia diciptakan untuk begini membuat sengsara para kelas pekerja.

Menjadi karyawan sepertinya memang minim harapan. Bahkan ketenangan jarang sekali didapatkan. Saya mengira setiap level manajemen mengalami hal yang sama. Dunia kerja tidak ada gaji besar, "tanggung jawab kecil". Semakin besar gaji akan semakin besar pula tangung jawabnya. Bahkan rata-rata orang bergaji besar, jika sebagai karyawan setiap waktunya adalah bekerja.

Mungkin pilihan bekerja sebagai karyawan adalah suatu nasib yang harus dibayar. Tetapi bukan tidak mungkin nasib itu dapat diubah. Rasa beratnya untuk berubah, ketika hasil dari bekerja kita habis untuk kesenangan mengobati ketidakbahagiaan kita sebagai pekerja. 

Kalau sudah seperti itu, mungkin akan menjadi karyawan selamanya? Kemungkinan karena ia tidak punya pilihan lain dari hasil uang yang dikumpulkan untuk merubah nasibnya, seperti berwirausaha yang harus dengan modal.

Pengorbanan untuk perubahan sepertinya memang perih seperih karyawan berjuang menggalang modal untuk berdikari. Sebagai karyawan memang harus pantang bilang akan indah pada waktunya. Waktu pun tidak akan bisa menjamin para karyawan-karyawan lebih baik hidupnya. Kedepan ekonomi semakin bebas, modal adalah hal utama dalam perjalanan ekonomi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3