Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Sebagai Jiwa Pemenang Abad 21

27 April 2019   07:05 Diperbarui: 7 Mei 2019   11:36 0 2 1 Mohon Tunggu...
Sebagai Jiwa Pemenang Abad 21
ilustrasi diambil dari pixabay.com

Sukar, memang terlihat sangat sukar rupa-rupa fenomena abad 21 ini. Abad ini adalah abad dimana yang tidak mampu berinovasi terhadap dirinya sendiri akan musnah. Bukan musnah pada arti yang sebenarnya,"tetapi musnah dengan perlahan ditelan sakitnya ego karna nafsu dan rusak dilalap kemunafikan yang indah".

Jiwa-jiwa sakit merupakan sebagian besar penghuni abad 21 ini. Setiap hari sudut layar digital dipenuhi dengar sikap narsistik kawanan anak-anak setengah dewasa yang menganggap dirinya sempurna tanpa dosa. Terkadang hal yang konyol dijadikan bahan menelanjangi diri dengan elegan. 

Tetapi ya, tidak apa, karena kebanyakan orang menganggapnya hal yang wajar. Aku pun mecoba berpikir tentang ini. Apakah tidakan sebagian anak-anak setengah dewesa itu kreatif? Aku berujar tidak juga.

Kreatif bagiku adalah mereka yang sedang mencari tempat tinggal baru dan membuat sistem kehidupan baru selain bumi. Abad 21, manusia menjadi semakin rakus, maka dari itu kedepan bumi bukanlah tempat yang bersahabat untuk ditinggali dengan kepemilikn lahan yang terus di kavling-kavling oleh manusia itu sendiri. Aku percaya ketika orang-orang tidak merasa lapar secara terus menerus bumi akan kembali bersahabat bagi manusia.

Sikap merayakan era digital abad 21 memang sangat menyamarkan. Banyak berbagai gaya hidup disitu, propaganda dogma yang memabokan, ujaran untuk paling sempurna dimuka bumi, dan banyak hal lain yang tidak tertangkap oleh pemikiran umum saat ini. 

Ketika banyak orang merayakannya, bagaimana sikap seseorang yang menganggap abad 21 era digitalisasi ini biasa saja? Tetaplah tenang dengan diri sendiri, terkecoh isu-isu murahan hanyalah membuat kepala Anda terasa lebih pusing dari sebelumnya. Sepertinya dibalik manusia rakus uang, juga rakus akan nama besar untuk dirinya sendiri.

Tetapi hidup diabad 21 jangan pernah melupakan uang sebagai instrumen penting didalamnya. Kini bagaimana bisa abad 21 mengekspresikan diri tanpa menggunakan uang? Meskipun tanpa uang bisa tiduran seharian ditempat tidur, apakah tidak merasa bahwa apa yang ditiduri didalamnya ada transaksi uang yang tidak menyadarkan?  Hay, tempat tidur itu dipajaki dengan uang pada abad 21 ini. 

Ya ,abad 21 adalah abadnya orang-orang penuh dengan kerja untuk mendapatkan uang. Semakin banyak uang dihasilkan semakin baik kehidupanmu pada zaman ini. Bukanlah hal yang salah bila hidup diabad 21 ini, memberdayakan orang lain untuk kemakmuran diri sendiri dan memperjuangkan nama besar atas nama pribadi pun halal hukumnya.

Dibalik gemerlapnya rupa-rupa abad 21 terselip pertanyaan yang terbaik, apakah masih bisa hidup tanpa uang? Dan orang paling benar abad 21 ini menjawab, bisa asalkan kau tidak hidup didunia. Lalu kemana aku akan pergi? Yang gratis itu disisi tuhan, carilah tuhan, tetapi jangan cari tuhan di dunia "tuhan sudah mati di dunia" meminjam kata dari "Friedrich Wilhelm Nietzsche" . 

Orang benar berbicara lagi, "untuk bisa di sisi tuhan orang di dunia pun pada abad 21 ini meyakini banyak syarat". Kembalilah mereka bertanya, syaratnya apa? "Kau harus murah hati berbagi uang dulu sebelum ditempatkan disisi paling indahnya Tuhan". 

Mereka pun berujar, apa yang tidak dengan uang? Untuk lahiran pun butuh banyak uang, matipun membawa kebaikan yang didasari dengan uang. Ah, hidup macam apa ini? Jangan-jangan Tuhan hadir karena uang?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
KONTEN MENARIK LAINNYA
x