Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Pemikir yang Bebas

16 Maret 2019   12:46 Diperbarui: 16 Maret 2019   13:38 111 1 0

Upaya berpikir yang mungkin telah menjadi lelah. Sudut media komersial muktahir sudah terlampau banyak. Tetapi kisah seorang penulis pemula telah hambar. Tanpa nama dan data, kapital hanya angan-angan dari setiap jemari-jemarinya saja.

Semakin jauh tanpa nama besar untuk mulai sumbangsinya. Media seperti para Politikus mengumpulkan data, entah benar atau tidak, dikonsumsi oleh publik adalah tujuannya.

Data telah menjadi barang yang dicari-cari sebagai penyangkalan mencoba patut untuk dipercayai. Seakan kebenaran dan pengetahuan menyambah data.

Bukankah pada kenyataannya data hanya akan membuat kita tahu? bukan, atau? Tidak juga membuat kita berpikir kan? Kenyataan yang terbalik. Untuk itu upaya menjadikan orang cerdas sangat jauh dari harapan. Data akan terus disampingkan dengan kebohongan. Menjadikan seseorang cerdas bukanlah dengan data.

Aku kira, ini suatu kesalahan yang dilestarikan. Bukan hanya dari semesta Ideologi Politik tapi dari semesta media-media komersial yang hanya mengundang kapital. Semua bergantung hasil, dan dalam perjalanannya membuat bodoh manusia adalah suatu kelanggengan.

Ketika kecerdasan yang dibuat itu menyadarkan, ide-ide bukanlah kebenaran apalagi dengan data yang mereka agungkan. Mencerdasakan yaitu membuat seseorang berpikir. Jika hanya untuk digurui dengan wacana pengetahuan berbasis data, maka, cukupkah?

Label tahu, bukankah hanya didapat dari dua kata antara benar dan salah? Upaya berpikir membuat suatu kesimpulan yang akan kita buat sendiri. Sejak itu ia memulai petualangan intelektual baru pada kehidupannya yang nyata. Mati dan hidupnya dipantentan pada kekuatan berpikir dari dalam dirinya sendiri dan untuk dirinya pula.

Ini memang akan membuat kerancuan baru pada akhirnya. Mengoncang kemapanan doktrin yang telah lama dibuat media-media. Dalam hal ini media itu menyangkut apapun dari dasar-dasarnya.

Karna pada hakekatnya, media adalah pijakan yang dibuat untuk tujuan tertentu. Dari banyak tujuan-tujuannya, faktor untuk menjadi diuntungan merupakan hal utama. Seperti media indoktrinasi dogma, ideologi untuk halauan politik, dan kesuksesan dalam hikayat masyarakat kapitalisme modern.

Jika kecerdasan itu mencuat, rancangan besar oleh yang diuntungakan akan runtuh. Kesangsian menjadi biang, bahwa, mempertanyakan kembali akan muncul, sudahkan apa yang dilakukan menguntungkan diri? Atau diri dijadikan keuntungan untuk diri-diri lain? Kecerdasan akan mencari bagaimana posisi diri yang nyaman itu. Biarlah bagaimana diri akan pilihan menjadi rujukan.

Memang ada kenyamanan yang tidak didapat antara kucing hutan dan kucing perumahan. Tetapi perkara kebebasan diri merupakan hal dasar dari bagaimana hak yang telah memodifikasi atas nama pencinta hewan. Bila kucing perumahan makan tidak mencari sendiri, tetapi ia adalah obyek hiburan bagi majikannya. Hidup terkukung pada tembok-tembok keliling perumahan.

Berbeda dari Kucing hutan yang liar, insting tajam sebagai hewan jalanan menyala dalam logikannya. Jika tanda bahaya itu memaksanya, antara dua hal luluh dan melarikan diri, di sanalah kemerdekaan Kucing hutan yang liar.

Semua keputusan ada dalam dirinya sendiri. Meskipun harus hidup pada ketidakpastian makan yang harus mereka jalani. Tetapi apapun itu, tentu metafora Kucing juga dapat dijadikan makluk lain seperti Kambing bahkan satu contoh manusia.

Ada kalanya banyak rasa mengerus hati, meski keluaran tidak terus sejalan dengan kepastian hasil namun sudahlah. Perbedaan manusia dengan hewan itu harus ada, dan disadari dari dasar diri manusia yang bijaksana.

Jika hewan tidak bisa menulis atau melukis logikanya, kebisaan manusia dalam hal itu harus menyadarkan. Meski ia bisa, yang lain-pun dapat, mungkin karna pilihan yang memilih seseorang.

Bayangkan pada satu Box Redaksi Koran Harian, naskah banyak sekali memenuhi Box itu. Di sisi lain setiap hari hanya satu artikel yang dimuat di dalam badan Koran hariannnya. Sayangnya sebagus apapun tulisanmu, tanpa data engkau tidak akan dapat berkata-kata.

Meskipun permainan logikamu ciamik seperti Rene Descartes filsuf dari Prancis. Namun itu bukanlah jamianan dapat uang 200-300 Ribu Rupiah sekali engkau mengirim tulisan.

Mungkin kita para pengirim naskah haruslah bersabar bahkan mematikan harapan. Memang tanda bahagia adalah hobi yang dapat dibayar. Bukan materilasime, tetapi, manusia tidak mau, jika kau dapat dari apa yang kami buat, memakan keuntungannya sendiri tanpa kami, apa bedanya dengan kreatifitas logika yang tidak dihargai? Jika ia terus berlangsung, masikah anda sebagi pengirim naskah?

Kapitalisme muktahir memang sinis, merka memilih siapa-siapa orang yang pantas dijadikan obyek dalam akumuliasi modal kehidupan. Kerancuan ini memang seakan bertepi kemudian.

Meski dibayar dalam berkarya adalah suatu yang sulit, namun ketika bahagia ada dari menulis, lukislah ia dalam semseta pemikiran yang bebas. Kritik-lah mereka yang patas dikritik tanpa malu engaku telah dibayar.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2