Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Penulis - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Kamu bintang besar! Apa yang akan menjadi keberuntungan Anda jika Anda tidak memiliki sesuatu yang membuat Anda bersinar? -Friedrich Nietzsche-

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Anak Muda Tidak Salah Hidup "Prihatin"

12 Februari 2019   11:35 Diperbarui: 23 April 2021   09:17 495
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Anak muda hidup prihatin. | Sumber gambar: ibnu-dhynawan.blogspot.com

Dalam pengertian orang Jawa, hidup dengan cara prihatin bukanlah hidup yang dilalui harus dengan bersedih, kekurangan dan tidak menikmati hidup. Gaya hidup prihatin bagi sebagian besar orang jawa adalah lelaku atau cara hidup dengan berpikir, peduli dan sederhana.

Tentunya tidak ketinggalan adalah siasat dalam memperlakukan hidup sebagai manusia agar selamat dan tidak kekurangan menjalani kehidupan. Dimana ketika hidup dalam kekurangan kita cenderung menjadi tipikal orang yang meminta-minta.

Sebagaimana tentang filosofi manusia Jawa yang harus eling dan waspada. Eling berarti ingat, waspada diartikan juga mawas diri. Kita hidup memang selalu harus mengingatkan diri akan waktu dalam hidup kita. Mengapa? Supaya tidak terjebak dalam keadaan hidup yang dangkal.

Bagi saya hidup dangkal adalah hidup yang hanya mengalir saja tanpa dilalui dengan renungan. Untuk itu berpikir sebelum bertingkah sangat diperlukan untuk menaksimalkan hidup itu sendiri.

Saya akan ambil contoh bagaimana keadaan dangkal dalam hidup itu terus berlangsung. Bukan anti pada moderintas, bukan juga membuat hidup ini tidak untuk dinikmati.

Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah sesuaikah hasil dari kita dapat dalam bekerja untuk menjalani hidup hingar-bingar? Kita sama-sama tahu bahwa kemudahan mengakses gaya hidup dan banyaknya pilihan akan barang membuat budaya konsumerisme baru dijaman muktahir ini.

Tidak ada yang salah, itu memang hasil dari kerja keras kita.  Tetapi apakah hidup selalu diisi dengan hanya membeli? Berpikir terlebih dahulu adalah jawaban untuk menimbang, sudah efektifkah barang-barang apa yang kita beli?

Tidak cukup hanya itu, berpikir juga sebagai daya tangkis dimana arus mengajak untuk hidup dengan trand tebaru yang semakin masif. Juga dengan ajakan-ajakan treveling dengan biaya yang mahal untuk memenuhi foto media sosial kita.

Hidup memang tidak lepas dari membeli, alangkah lebih bijak jika membeli apa yang perlu saja untuk dibeli saat ini. Dengan berpikir dan cara hidup prihatin kita dapat lebih bijak untuk mengefektifkan belanja kita.

Baca Juga: Hidup Berkecukupan? Tetaplah Membumi

Karena efektifnya kita dalam belanja akan melepaskan kita pada kecanduan belanja yang bisa saja kita idap dengan mudahnya dijaman serba ada dan serba mudah ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun