Mohon tunggu...
Toto Priyono
Toto Priyono Mohon Tunggu... Liberal Javanese People

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan, "Intuisionisme". Tertarik dengan : Filsafat Romantisisme, Sosial-Budaya, Sastra dan Politik

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Dalam Pusaran Politik Indonesia, "Liberal" Berarti Tengah

12 Januari 2019   20:24 Diperbarui: 12 Januari 2019   21:07 0 1 0 Mohon Tunggu...
Dalam Pusaran Politik Indonesia, "Liberal" Berarti Tengah
sumber foto: poliklitik.com

Akhir-akhir ini muncul tokoh yang wari-wiri mengisi talkshow di televisi. Namanya begitu populer ketika tokoh ini mengatakan "kitab suci adalah fiksi". Iya betul, dia adalah Rocky Gerung mantan dosen filsafat salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia. 

Namun dia kini tidak aktif megajar lagi di lembaga pendidikan itu. Alasan terkuat dia tidak mengajar dilembaga pendidikan itu adalah Rocky Gerung bukanlah pengajar tetap di lembaga pendidikan tersebut. Sebenarnya tidak penting dia mengajar atau tidak, karena Indonesia punya alternative pengetahuan lain dari demokrasi yang dibawa dalam setiap agrumennya ketika tampil diacara televisi.

Mengapa saya menulis tentang Rocky Gerungitu karena namanya begitu populer di lini masa youtabe. Hampir setiap saat saya membuka aplikasi ini terpampang wajahnya. 

Bahkan yang membuat menarik sendiri adalah judul cover  dari para youtuber mengulas beragam komentar-komentarnya diberbagai acara talkshow televisi. Dari sekian banyak video yang terdapat di youtube kebanyakan merupakan kritik-kritik pedasnya terhadap pemerintah. 

Bagi saya ini menarik untuk menyehatkan demokrasi di Indonesia ini. Tetapi juga, saya sayangkan ketika setiap komentar-komentarnya dijadikan dalil untuk kampanye salah satu calon menumbuhkan kecintaan buta tanpa nalar yang benar-benar rasional.

Saya mengenal Rocky Gerung jauh sebelum dia wara-wiri ditelevisi sebagai pembicara dengan kapasitas pengamat  kontestasi politik saat ini. Saya dahulu mengenal dia sebagai ilmuan politik juga dosen filsafat dengan sepesialisasi membahas filsafat politik khusunya demokrasi. Saat itu ketika saya mengenalnya, dia adalah seorang pembicara suatu forum sekaligus akademisi. 

Jurnal perempuan dan freedom institute merupakan sedikit dari banyaknya forum --forum yang pernah mengundang dia sebagai pembicara. Kebetulan juga karena di upload ke aplikasi youtube saya menjadi tahu kapasitas sesungguhnya Rocky Gerung  sebelum dia wara-wiri diundang ke berbagai acara televisi.

Disamping sebagai akademisi, Rocky Gerung  juga merupakan seorang politikus yang terlahir dari lingkungan kampus. Dia adalah salah satu tokoh pendiri Partai Serikat Rakyat Independen.  Tujuan dari terlahirnya partai SRI sendiri adalah sebagai perahu Sri Mulyani untuk menjadi pemimpin tahun 2014 lalu. 

Sedangakan ideologi partai  mengusung ideologi kampus di mana "kampuslah tempat berpikir paling bebas". Jadi jelas para tokoh pendiri partai ini mengusung kebebasan dalam berpikir sebagai ideologi partai SRI. Terlepas dari narasi ini, Rocky Gerung sendiri diasosiasikan oleh sebagian kalangan sebagai representasi dari golongan liberal.

Secara pribadi saya setuju dengan konsep liberal dalam pusaran politik Indonesia. Dengan itu  sayapun setuju dengan Rocky Gerung di mana berpikir dalam kehidupan demokrasi harus diberi ruang se-luas-luasnya juga se-bebas-bebasnya

Seperti kata Rene Decartes "Aku berpikir maka aku ada". Maka dari itu "masyarakat harus berpikir bebas untuk diakui sebagai masyarakat yang sebenar-benarnya".  Karna ketika demokrasi sudah pada sampai tujuannya, Negara tidak akan dibutuhkan lagi. Masyarakat dapat bertumbuh dan mengatur dirinya sendiri sebagaimana demokrasi itu tercipta, dari dan untuk rakyat.

Tetapi kenyataannya mengacu iklim politik yang terjadi saat mendekati pemilihan presiden. Dominan identitas sebagai bahan argumentasi publik hanya untuk saling menjatuhkan  antar sesama calon presiden. 

Tujuannya tidak lain yaitu demi memenangkan pemilihan umum yang tinggal hitungan bulan lagi. Jelas, sama-sama kita ketahui bahwa argumentasi Rocky Gerung sering dijadikan dalil menyerang paslon lain yang kebetulan petahana dan ada dalam pemerintahan.  Mereka saling berujar atas nama demokrasi dan tetap rakyat dijadikan pembelaan menyerang sesama paslon untuk kebencian dan fitnah.

Untuk itu, saya mencemaskan fenomena Rocky Gerung dan pemikirannya yang sudah menjadi alternative pengetahuan publik akan demokrasi dalam politik muktahir ini. Pemikiran liberal yang dibawa Rocky Gerung adalah buah dari demokrasi yang sudah kita bangun. Saya berharap pemikiran liberal yang dibawa tetap sebagai pengetahuan politik publik. Dia (Rocky Gerung) harus terus berbicara sebagai pengamat kebijakan publik bukan sebagai politisi yang tergabung dalam salah satu tim pasangan calon presiden.

Tentu saja jika argument-argumen yang selama ini Rocky Gerung bawa pada acara talkshow televisi untuk menaikan pamor dirinya dan bertujuan secara pribadi ikut juga menikamti kue kekuasaan Negara jelas, hanya akan menyisakan kekecewaan publik terhadapnnya. 

Ketika sudah di pemerintahan, masyarakat akan sanksi dan jelas dia akan tunduk pada aturan pemerintahan. Suara kritisnya akan hilang ditelan gempat-gempitanya kekuasaan. Dan terpenting Rocky Gerung tidak membawa ide liberal dalam bangunan kehidupan masyarakat demokrasi Indonesia. Dia hanya memanfaatkan liberalisme untuk kepentingan pribadi siasat politik dan berkuasa.

Dalam politik, "liberal berarti tengah", membela masyarakat sipil dan membuat kehidupan bernegara semakin baik, bebas tanpa represi pemerintah. Saya harap Rocky Gerung dengan asosiasi liberal yang melekat padanya terus berkomitmen terhadap hal-hal seperti ini.