Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Hal yang paling mengecewakan itu sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

Sistem "Outsourcing" dan Dilema Karyawan Kelas Dua

11 Januari 2019   10:07 Diperbarui: 11 Januari 2019   21:41 759 2 2
Sistem "Outsourcing" dan Dilema Karyawan Kelas Dua
Sumber foto: kajianpustaka.com

Karyawan kelas dua sepertinya tepat disematkan pada karyawan Outsorcing. Mengapa dikatakan karyawan kelas dua? Karena jelas, ia beda tetapi sama. Mereka berpendapatan dari sumber yang sama hanya sumber pendistribusiannya yang berbeda. Satu, dari langsung tangan pertama sebagai manajemen induk disebut karyawan organik. Dua, dari tangan kedua sebagai manajemen alih daya disebut karyawan kelas dua.

Berbeda bagi saya itu tidak masalah. Dalam hidup, kondisi sosial sudah mendesign secara otomatis karna memang menurut saya kehidupan itu memilih. Seakan takdir yang diciptakan hidup adalah sebagai kelas itu sendiri. Diterima saja, mungkin nasib kita hanyalah menjadi karyawan kelas dua. 

Meskipun status terkadang ambigu namun tetap, karyawan kelas dua juga ikut sama diakuinya sebagai kelas satu ketika diluar berhadapan dengan Customer. Hanya saja nasib kita berbeda walaupun kita bekerja untuk tujuan Customer yang sama. Baju dan manajemen boleh berbeda tetapi kita saling bekerja sama pada dasarnya.

Sepertinya menjadi karyawan kelas dua tidaklah harus hitung-menghitung pendapatan. Tidak usah juga berharap tentang pendapatan yang tinggi seperti atau mendekati karyawan organik. Karyawan kelas dua tidak mungkin bisa karna sudah dipotong dari manajemen yang menjadi tangan kedua dari induknya. 

Inilah dilemanya, karyawan kelas dua hanya berharap pada upah minumum yang ditetapkan pemerintah. Itu saja tidak jaminan akan diikuti menejemen tangan kedua. Mereka selalu beralasan ketika tidak sesuai dengan upah minimun aturan pemerintah, menejemen rugi, anehnya tetep jalan sebagai mitra induknya.

Keganjilan-keganjilan seperti muncul begitu saja. Level sangat jauh berbeda ketika dibadingkan antara manajemen induk dan menejemen mitra yang menyediakan karyawan kelas dua. Tidak jarang karna ikatan kerja yang sama, antara karyawan organik dan karyawan kelas dua mau tidak mau demi kelancaran bekerja berada di kantor yang sama. 

Oleh karna itu karyawan kelas dua justru lebih dekat dengan menejemen induk. Perhatian untuk menyerap aspirasi dari karyawan kelas dua juga lebih baik manajemen induk dari pada manajemen mitra itu sendiri yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap aspirasi-aspirasi karyawan kelas dua ini.

Pada kenyataannya justru karyawan kelas dua lah yang selalu salah jika meluapkan aspirasi. Selalu jika aspirasi atas inisiatif sendiri pada manajemen mitra selalu dikacangi. Dengan pertimbangan belum bersifat cepat dan bersangkutan secara pasti dengan menejemen induk. Karna perhatian lebih besar dari menejemen induk dari pada mitra. 

Dan juga pertemuan sering dilakukan oleh petingi manajemen induk dari pada petinggi manajemen mitra sendiri. Keadaan inilah yang sering membuat kerancuan sendiri antara karyawan kelas dua dan manajemen mitra alih daya.

Setiap pertemuan manajemen induk mempertanyakan apa masalah kalian ketika bekerja? Kalian berarti karyawan kelas dua karena kebanyak karyawan kelas dua langsung terjun ke lapangan. Disinilah problem itu hadir, jujur tidak jujur ujung-unjungnya juga akan ditindak lanjuti sebagai evaluasi kepada manajemen mitra. 

Kita diam berarti kita tidak jujur dengan masalah kita, padahal masalah itu banyak terutama kurang profesionalnya menejemen mitra. Antara lain kurangnya perhatian pada peralatan kerja dan sarana penunjang kerja yang kurang juga diperhatikan.

Jadi menurut saya mengapa kurang profesional? Karena seharusnya yang bertanya apa maslah kami di lapangan dalam bekerja seharusnya manajemen mitra bukan menejemen induk. Seharusnya aspirasi kami manajemen mitra yang menerima dan ditidaklanjuti sebagai masalah internal.  Itu juga berarti harus di selsaikan secara internal tidak melibatkan manajemen induk. 

Lagi-lagi ketika kami jujur tentang masalah kami kepada manajemen induk dan manajemen induk menegur lalu memberikan sangsi kepada manajemen mitra kami lah pihak yang tersalahkan. Kami bicara tidak bicara akan salah pada akhirnya.

Diam berarti tidak ada progres penyelsaian masalah, berbicara berarti akan dapat tekanan dari manajemen mitra karena bicara ceplas-ceplos pada manajemen induk mengakibatkan adanya teguran bahkan sangsi. Dalihnya adalah mengapa tidak diadukan ke manajemen mitra terlebih dahulu. Lagi dan lagi manajamen mitra tidak mau salah. Seharusnya ini jadi bahan manajemen mitran menyadarkan dirinya sendiri untuk lebih peduli dengan aspirasi karyawannya.

Tetap jika sistem alih daya ini terus berlangsung tidak akan ada efesiensi dalam hal manajemen sumber daya manusia. Koordinasi akan terhambat antara kerja dan manajemen sumber daya manusia. Menurut saya sistem alih daya merupakan sistem yang boros waktu dan proses dalam setiap koordinasinya. Sistem alih daya seharausnya dihapus karena sudah tidak efektif sebagai menejemen abad 21 baik barang atau jasa.

Tetapi mengapa justru sistem alih daya semakin menjamur bahkan dinilai bisa menjadi solusi bagi perusahaan induk? Sebab perusahaan alih daya juga datang membawa modal untuk disuntikan kepada manejemen induk yang miskin. 

Dari situ menejemen induk mendapat investasi modal tambahan untuk beck up anggaran belanja oprasional perusahaan induk. Sedangkan biaya untuk oprasioanal dialhikan untuk ekspansi perusahaan induk supaya bisa tetap kompetitif menjaring costumer baru perusahaan induk itu.

Sebenarnya mereka saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya. Membesarkan perusahaan mereka masing-masing dengan modal yang dipinjamkan dan hasil dari jasa membantu pihak pertama perusahaan induk. Perusahaan induk akan membayar jasa dan  mengembalikan biaya oprasional yang ditanggung perusahaan mitra setelah masa perjanjian ditetapkan antara dua pihak. 

Menurut saya itulah teori dasar langgengnya sistem alih daya dalam ekonomi muktahir ini. Keduanya memang bergantung dan akan saling menggantungakan diri untuk sistem ini.