Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis Dengan atau Tanpa Harga

7 Januari 2019   16:14 Diperbarui: 7 Januari 2019   16:31 206 1 1
Menulis Dengan atau Tanpa Harga
sumber foto: perstarwaw.blogspot.com

Mungkin terlalu jauh saya mengenal budaya pragmatisme dalam ide-ide tentang kehidup ini. Pragmatis sendiri berarti bersangkutan dengan nilai-nilai praktis. Tanpa sadar kita terbawa arus yang sangat deras, bagaimana saya akan membawa kehidupan saya dengan cara saya sendiri? Imajinasi manusia selalu menunjukan, bahwa harapan kitalah yang sebenarnya terlalu tinggi pada diri kita. Tidak jarang, kita bisa sedikit mengharapkan hasil melampaui kebisaan kita dengan harga tinggi. Tetapi kita terkadang menjadi seseorang yang kabur pada kesadaran realitas kita. Siapakah yang akan menghargai kita dengan kebisaan kita yang hanya sedikit? Bisa saja diluar sana yang mempunyai kebisaan dengan kita juga masih banyak dan sama belum dihargai oleh khalayak umum.

Bagi saya menulis itu cara saya menjadi kehidupan itu sendiri. Siapa yang tidak mau tulisan kita dihargai dengan dasyatnya? Setiap orang yang bisa menulis dan ingin menjadi penulis pasti menginginkannya. Tidak peduli tulisan yang dia tulis layak atau tidak dibaca oleh orang lain. Bukan mengerdilakan tetapi tidak semua karya merupakan karya yang baik dan layak dihargai. Jadi, saya berpikir untuk tetap menulis walapun dengan atau tidak dengan harga. Karena bagi saya setiap tulisan layak untuk dibaca. 

Menulis ibarat membangun, bukan hanya peradaban, menulis juga membangun diri sendiri. Dengan menulis kita dapat merekam apa yang menjadi pikiran dalam diri kita. Menulis juga menilik kembali ide-ide yang kita ingin kemukakan. Dan yang terpenting dari menulis adalah eksistensi yang dapat terbagikan lintas generasi.

Ibarat semut yang tidak terlihat di sudut jalan sana, menulislah dengan sepenuh jiwa. Akan dapat banyak manfaat jika kita terus menulis terutama manfaat untuk kesehatan mental kita. Jika tulisan kita baik untuk orang lain pasti, sekecil apapun nama kita pasti akan terendus pada akhirnya. Semuat saja kecil terasa ketika menggigit manusia, apalagi tulisan yang dapat menyegarkan jiwa. 

Saya sedikitpun tidak mau minder dengan apa yang saya tulis. Menurut saya karya terbaik dari kepenulisan manusia adalah tulisan yang lahir dari ide dan tangan kita sendiri. Bacaan yang paling renyah dibaca adalah bacaan yang kita ciptakan sendiri. Apapun kitalah yang paling mengerti kita sendiri. Membaca tentang diri akan sangat berguna bagi hidup kita. Bukankah upaya menulis bagi seseorang itu untuk lebih mengenal dirinya sendiri dengan lebih baik?

Dihargai memang perlu, tidakpun bukan masalah bagi saya, mungkin bagi kita yang sedang belajar menulis untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Terkadang dihargai juga harus ikut bertanggung jawab terhadap yang menghargai kita. Setiap apa yang kita tulis harus sesuai dengan harapan mereka. Jika tidak mereka akan kecewa, pasti ada penghakiman-penghakiman yang keluar dari pendapatnya. 

Mejadi penulis tidak dihargai merupakan penulis kebebasan itu sendiri. Dia tidak terikat dengan otoritas manapun, pasar atau para penikmat tulisannya. Penulis yang baik adalah mereka yang menulis secara autentik, dan menciptakan pembaca yang autentik juga pada akhirnya. Mari menulis dengan jiwa sebenarnya kita, jika layak pasti penghargaan dari luar akan datang dengan sendirinya.