Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Hal yang paling mengecewakan itu sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana

Roman | Bagian 2 | Panggil Saja Aku Selamet

6 Januari 2019   20:33 Diperbarui: 7 Januari 2019   22:06 123 0 0
Roman | Bagian 2 | Panggil Saja Aku Selamet
dokpri

Awal Mula Menjadi Slamet

Namun apakah hidup ini perlu disesali? Rasanya bagi selamet tidak. Setelah ia naik kelas menjadi kelas empat. Ia hanya ingat satu semsester saja. Selebihnya ia hanyalah sebatang manusia yang diharapkan hidup oleh keluarga dan pesimisme tetangga-tetangga disekitarnya. Ia menderita sakit yang panjang dan jika ditafsirkan olehnya sendiri dia serasa hidup kembali.

Tiga bulan  bahkan lebih bukanlah waktu yang sedikit. Selama itu dia berada dalam karantina tubuhnya yang sakit. Tentang desas-desus misteri apa yang membuatnya sakit selamet tidaklah tahu. Selamet ingat sebelum ia sakit. Mungkin ini bisa menjadi pertimbangan bagaimana ia menjadi korban gosip para tetangga dan para manusia-manusia yang tidak suka dengan keluarganya.

Rasa suka atau tidak suka dalam kehidupan memang wajar. Seperti hitam dan putih kehidupan ini. Mereka tidak akan mungkin bersatu dalam harmoni. Tetapi mereka dan kita sama-sama memperjuangkan hidup kita. Rasa lelah dalam menjalani hidup ini pun sama-sama kita rasakan bersama. Selebihnya manusialah yang menciptakan drama-dramanya sendiri dalam kehidupan yang sempurna ini.

Manusia menjalani apa yang akan dia sukai. Mengobati luka-luka dihati disebabkan oleh perihnya kehidupan. Namun bagaimanapun hidup adalah pembelajaran bagi setiap insan yang menjalaninya. Suka tidak suka atau senang tidak senang, kita akan terus terperangkap badan kita selama hidup kita.

Tidak ada yang lain untuk menyadarinya. Yang hidup pasti manusia akan tua, sakit dan mati pada akhirnya. Jika manusia harus memilih dalam kehidupan ini, pilihlah menjadi dirimu sendiri yang baik seperti cerita selamet memperbaiki setiap jalan dalam hidupnya. Walau musuh terbesar dalam hidupnya adalah dirinya sendiri.

Sebelum selamet sakit, seperti biasa dia adalah anak kecil yang riang. Tetap bermain dengan teman-temannya. Tidak peduli teman dari tetangga atau teman sekolahnya. Sesekali ketika di lupa pulang dan badannya tidak terurus keluarganyalah yang mengurusnya. Membersikan badannnya yang dekil dan merapikan rambutnya yang semrawut.

Bukan itu, anak-anak adalah permainan yang unik tanpa berpikir dosa, baik atau buruk untuknya. Seharusnya jika anak tidak tahu peliharalah ia dengan memberi tahu dan memberi apa yang mereka butuhkan dalam permainnannya. Tidak peduli apapun permintaannnya sebagai orang tua wajib memberinya.

Jika tidak mampu berikanlah pengertian terbaik, terkadang itu akan sangat berharga baginya dibanding apa yang menjadi permintaannya. Anak-anak hanyalah kepolosan, ia tidak akan pernah tahu maka dari itu sebagai orang tua  wajib memberinya pengetahuan untuknya dan untuk hidupnya.

Tidak ada keburukan yang tidak harus dijujuri, seperti kita menyadari keburukan, ia memang harus dikatakan. Bagi selamet bermain lotre dengan hadiah adalah permainan yang mengasikan, misterius dan melatih ketajaman perasaan. Kira-kira mana dari masing-masing kertas ini yang akan memberinya hadiah terbaik dari lotrenya. Sayangnya permainnanya harus dibeli dengan uang, meskipun permainan yang gratis ada namun tetap.

Adakalanya anak-anak juga bosen dengan permainan yang itu-itu saja. Ia butuh sesuatu yang lain, dari dan untuk yang lain agar lebih menantang dan mengundang kesenangan-kesenangan yang lain. Anak-anak belum bisa bekerja, dari mana ia mendapatkan uang? Ketiaka orang tunya tak cukup kaya dan memanjakannya, bagaimana caranya dia mendapatkan uangnya?

Disitulah gaya berpikir khas anak-anak. Dia akan bekerja sesuai apa yang bisa ia kerjakan. Ya, dibawah lemari ada uang, tidak peduli itu uang siapa dan untuk apa kepentingannya, dan selamet, mengambilnya untuk membeli kesenangannya. Dan itulah cara yang dilakuakan anak-anak membeli kesenangan dengan melibatkan uang.

Jika berhenti disitu saya juga sangsi terhadap mereka para koruptor negri. Ia butuh kesenangan lain mungkin dia menggunakan cara masa kanak-kananknya untuk bisa mengakses semua itu. Gajinya bekerja tidaklah cukup untuk mengakses kesenangnya, tanpa ia mau tahu apa yang disebabkan oleh prilaku korupsinya. Yang terpenting semua kesenangan bisa di akses dan dicapainya.

Semua manusia butuh senang dan selagi ada lahan yang bisa diambil untuk memfasilitasi kesenangnya ambilah seperti masa kanak-kanak ada uang dibawah lemari itu.  Korupsi memang tidak dibenarkan, juga mencuri dimasa anak-anak  itu dilakukan. Walaupun korupsi yang dirugikan negara tatapi tetap manusia lain akan rugi oleh apa yang dilakukan kita, seperti orang tua tetap rugi uangnya dicuri anaknnya.

Tidak ada jaminan juga prilaku koruptif itu dasarnya dari anak-anak yang tidak mampu membeli kesenangnya lalu kemudian mencuri. Hipotesis hanya akan menjadi hipotesis tetapi dugaan boleh dijadikan pembelajaran dan menalar sesuatu yang belum terpecah. Atau  jangan-jangan benar, korupsi ada karna pola asuh dari orang tua yang tidak pernah tahu apa yang dibutuhkan anak-anaknya. Kemudian anak-anak mencuri uang seperti orang dewasa yang sudah bekerja tetapi  gajinya kurang lalu korupsi membeli kesenangan hidupnya.

Biarlah semua itu menjadi mesteri yang cerah bagi para koruptor negri ini yang jumlahnya semakin bertambah. Selamet kecil mana peduli dengan semua itu. Selamet kecil hanya peduli ketika lahan uangnya sudah tidak ada dibawah lemari. Ia tetap bermain lagi, sesekali ia ikut ayahnya kesawah. Untuk apa? Ia mencoba peduli dan meraih belas kasih dari orangtuanya kemudia ia diberikan uang oleh ayahnya.

Uang itu juga sama membeli apa yang bisa membaut senang dalam hidp masa kanak-kananknya. Sebentar lagi lebaran, selamet sudah tidak sabar lagi menunggu sodara dan kakaknya pulang. Masa lebaran adalah masa terbaik memulai membangun kesenangan bagi anak-anak. Banyak uang lalu-lalang diwaktu lebaran. Selamet akan mendapatkan uang yang banyak dari krabat-krabantnya yang pulang dari perantuaan. Tidak hanya dia yang berada di masa-masa keemasan dalam hidupnya, anak-anak lain juga merasakan hal yang sama.

Kita membeli tamiya, membeli baju bola, seakan dunia adalah milik kita para anak-anak. Semua serba mengadu, baju mana yang terbaik? Tamiya siapa yang melaju paling cepat? Kita berkompetisi ala anak-anak, punya apa kita dalam permainan ini. Jika ia punya banyak dan sesuatu lebih dari dirinya, dia akan disegani teman-temannya. Jadi sayapun ingin bertanya apakah itu juga factor yang mempengaruhi kita di waktu dewasanya masa kehidupan dan umur kita?

Manusia menganggap kehidupan harus punya aji. Aji yaitu bentuk penghormatan dari orang lain terhadap diri kita. Menjadi dewasa sekan menjadi pemeran dalam kompetisi dunia ini. Kita harus glamor agar menjadi pusat perhatian. Manusia harus punya barang yang menjadikan dirinya menarik untuk orang lain. Juga manusia harus punya karir yang cemerlang agar tidak menjadi kecemasan bagi pasangannya kelak. Dan katanya selamet didalam pengelihatan masa depannya ada dalam pusaran kehidupan seperti itu.

Selamet tidak peduli masa depannya diwaktu masa kanak-kanaknya. Ia terlihat cuek dan tetap menikmati alam bermainnya. Ia tetap menonton bola dilapangan desa dengan hujan-hujanan. Terkadang dia juga harus pulang sendiri kerumah tanpa teman-temannya. Lebaran berlalu dia masih ingat berwisata di goa jati jajar bersama teman-temanya. Menikmati pantai logending di pesisir selatan kebumen daerah jawatengah.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2