Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Bagi saya, hal yang paling mengecewakan sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Filsafat Pilihan

Menjadi Sampah, Menjadi Bebas

14 Desember 2018   21:04 Diperbarui: 14 Desember 2018   21:34 218 1 0
Menjadi Sampah, Menjadi Bebas
siemens.com

Selayaknya mendung ia tidak akan mengakui bagaimana banyaknya air hujan yang akan dia produksi. Kau mengaku bagian dari yang lain hanya karna ada yang kurang dari dirimu sendiri. Sepertinya sudah, aku tidak peduli pada pengakuan apapun dari diri mereka. 

Memang serasa terbuang seperti sampah, tidak diakui, tidak dipandang bahkan tidak dijadikan bagian dari diri mereka. Namun bukankah kita harus sadari? Betapa enaknya menjadi seorang yang terbuang itu? Ia terbang tinggi bebas menikmati dunia batinya sendiri tanpa ditanggung jawabi untuk sepadan dengan yang lain.

Terbuang tidaklah mengawasi diri sendiri untuk menyenangkan mereka yang telah mengakui dirimu. Tindak tanduk terbuang akan mengikuti bintang dalam bak sampahnya sendiri. Ia terlepas dari mentalitas krumunan yang suatu saat menjadi racun dalam hidup. Sudah baikkah kita kepada mereka? Sudah pantaskah sikap kita? Bahkan kau tidak menjadi dirimu kala itu, menahan sisi emosimu hanya untuk menyenangkan yang lain.

Bergantung dan merasa bagian dari diri yang lain tanpa mengenal dirinya bagai layangan terhempas angin. Hidupnya hanya sebatas komunitas, memandang sebelah mata yang lain, bahkan acuh memagari dirinya untuk mengenal sesuatu yang lain dari komunitasnya. Mentalitas krumunan kecil maupun besar tidak akan pernah berubah, ia dan mereka adalah budak komunitasnya.

Bertindak dalam krumunan emosinya tidak bebas. Ia tidak akan jernih melihat yang lain. Mereka tidak akan peka terhadap yang lain. Energinya terpengaruh komunitasnya, ia sendiri, mencoba menjadi bersama, bangun bersama hancur bersama. Mentalitas krumumunan gerak kerja seperti pedoman, suara yang terpengaruh dan mempengaruhi, tanpa merasa, dan mendengar keajaiban yang lain. 

Mungkin gerak kerja dalam diriku tidak terlalu peduli dengan diri yang lain. Bagaimanapun seseorang hidup dengan dirinya sendiri. Ketika mereka akan hidup bersama seharusnya sudah mengenal diri sendiri. Agar terbebas dari mentalitas krumunan yang mengekang, satu suara dan disandra memerdekakan diri masing-masing. 

Aku tahu, tapi aku tidak akan mencoba untuk bagaimana menjadi diakui itu. Datanglah jika kau ingin datang bersama keaslian dirimu. Aku fokus pada diriku sendiri, untuk menjadi diriku dan mengikuti apa yang aku rasa dalam diriku juga. Aku tidak ingin peduli karna akupun punya tujuan hidup yang harus aku tuju tanpa melibatkan krumunan dan dilibatkan krumunan.