Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Hal yang paling mengecewakan itu sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Pemilu 2019 Beda, Bersiap Menjadi Golongan Putih

11 Agustus 2018   11:28 Diperbarui: 11 Agustus 2018   12:12 384 1 2
Pemilu 2019 Beda, Bersiap Menjadi Golongan Putih
www.metrotabagsel.com

Satu hal, apa hasil yang bisa dipetik dari demokrasi kita? Saya rasa semua jauh dari visi demokrasi yang sesungguhnya. Seyoganya demokrasi adalah jalan memilih orang-orang terbaik untuk menjalankan pemerintahan yang demokratis, adil dan berpihak kepada rakyat tanpa embel-embel golongan tertentu.

Namun kini yang terjadi adalah hal buruk yang dikhawatirkan dari demokrasi tersebut. Demokrasi yang tujuannya diciptakan untuk menjaring orang-orang terbaik justru hanya menjaring mereka yang berambisi berkuasa dengan mengutamakan modal bahkan tidak sedikit juga mengandalkan kelebihan jaringannya untuk memuluskan langkahnya berkuasa.

Jelas pemilu kali ini tahun 2019 berbeda sekali dengan 2014 yang lalu. Pemilu tahun lalu setidaknya bangsa ini mempunyai harapan baru dimana ada sosok baru yang ikut dalam pemilihan presiden. 

Dia bukan bagian dari elite-elite sebelumnya. Sepakterjangnya pun cukup diakui dalam memimpin dari tahap demi tahap. Dan hasilnya dia menang dan mengambil alih kekuasaan itu.

Lima tahun sudah berlalu, saya kira 2019 juga akan mengundang orang-orang terbaik nuga untuk ikut dalam kontestasi politik yang demokrasi ini. Bukan pucuk pimpinan yang memimpin itu buruk, menurut saya cukup baik. Tetapi ada hal yang menurut saya dia menjadi buruk dan urung untuk respect ketika pemilu selanjutnya tiba. 

Faktor ketakutan, ambisi dan idealismenya dipemilu kali ini dipertanyakan, apakah dia memang berambisi untuk kuasa atau hanya alat orang-orang dia untuk berkuasa kembali? Itu menurut saya pantas untuk dipertanyakan.

Yang menjadi poin penting bagi saya adalah dia seorang petahana, seharusnya dia punya otoritas lebih dalam memilih calon wakilnya, yang ideal, yang kompetibel dan yang kompeten dalam mengurusi pemerintahan yang sebelumnya sudah teruji. 

Seorang pengendali yang bijak seharusnya juga pandai memilih dimana dia akan di beck up orang-orang yang kompeten dan kuat dibidangnya, namun sayang saya tidak melihat itu dari petahana dalam pemilu kali ini.

Bisa jelas terlihat, dia dan orang-orang disekitarnya hanya memilih orang yang punya simpatisan yang luas, juga jaringan yang luas untuk dipilih dan berkuasa kembali. 

Menurut saya jalan yang mereka tempuh ada faktor ambisi untuk berkuasa lagi tanpa memikirkan kebaikan untuk bangsa dan negara, justru yang terlihat malah untuk kepentingan diri akan kuasa dan para kroni-kroni dibelakangnya.

Bukan saya tidak melihat calon disamping yang ikut juga dalam kontestasi pemilu kali ini. Saya belum cukup yakin juga paslon samping sesuai dengan harapan banyak orang. 

Faktor provokasi jauh sebelum pemilu yang membuat saya menaruh tinta merah pada calon tersebut dan orang-orang dibelakanya. Meskipun kerja mereka belum bisa dipastikan baik atau buruk tetepi hati saya belum yakin mereka menjadi harapan selanjutnya.

Siapapun calon itu pada pemilu kali ini, saya rasa hanya ambisi yang berkata-kata. Diri saya melihat tak ada lagi calon yang benar-benar mengabdi untuk rakyat, bangsa dan negara. 

Atau jangan-jangan demokrasi akan terus melahirakan pemimpin berambisi berkuasa tanpa melihat dan ingin membenahi permasalahan-permasalahan yang ada. Melestarikan oligarki dan melanggengkan untuk satu kata berkuasa menguasai setiap apa yang dipunyai negara.

Saya rasa pemilu 2019 sudah tidak menarik lagi untuk diikuti, semua akan sama saja, tidak ada harapan kebaruan yang menjanjikan. Asa ini rasanya sudah terputus, mending menjadi pengikut saja negara ini mau dibawa kemana, tak bersuara dan tak mengharapakan apa-apa. Selagi masih bisa bekerja dan bertahan hidup, biarkan mereka yang antusias yang menikmatinya. Kali ini saya menjadi abu-abu, menjadi golongan yang paling bersih, paling putih.