Toto Priyono
Toto Priyono Kariyawan Swasta

Hal yang paling mengecewakan itu sempitnya pengetahuan.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Sayang, Aku Hanya Mampu Berimajinasi

5 Agustus 2018   23:53 Diperbarui: 6 Agustus 2018   00:10 818 0 0

Aku menunggu hari itu datang, hari dimana kita bertemu. Disini aku tetap dengan imajinasi-imajinasi itu, membawakan bunga yang cantik untukmu, membuatmu kagum denganku, dan pertemuan berkesan kita. Juga bernyanyi tentang perasaan kita.

Cintaku yang manis, sampai kapankah kau terus hanya membekas dikepalaku saat malam menjelang tidur tiba? Seperti si miskin cinta, aku hanya berpikir dan merasa cinta ini ada, semua ada pada kamu. Sungguh aneh, semua terlihat seperti nyata dalam bayang-bayang ku. Aku ingin imjainasi ini berlalu seperti badai ditengah ombak.

Si kancil menjelma menjadi aku yang sedang bernyanyi malam hari, ia terus menghibur dirinya. Seperti sedang menggelorakan dirinya dengan cinta, tidak lebih dengan dirinya sendiri. Mencoba dan terus mencoba mengimprovisasi pikiranya dengan cinta, kelembutan, bahkan tentang dimana ia akan menjadi kapal bagi para penumpangnya.

Berbahagia, mungkinlah mereka yang pandai merubah setiap gairah menjadi sepucuk rasa bahagia. Meskipun hanyalah rasanya saja namun cukuplah untuk mengisi hari dan sedikit rasa. Tentang anak-anak yang lucu, mirip siapakah dia? Aku atau dirimu? Kurasa sangat indah panggilan ayah bagiku, ibu bagimu! 

Aku tunggu hari-hari dimana kita berjuang untuk melindungi kita, keluarga kecil kita, membuat gubuk kecil yang patut ditinggali, tertawa bersama, sedih saling berpelukan. Rasanya indah sekali dunia ini, cinta bisa merubah itu sayang! Aku merindukanmu cinta, aku menunggumu, maukah kau menikah denganku cinta? Membangun dunia dengan cara kita?

Sedikit-sedikit kau harus tahu indahnya simfoni cinta dari Keny G, the weding song membelaiku malam ini. Kau juga harus paham the power of love lagu dari celine dion, betapa syahdu suranya seperti denting lirih dalam hatiku. Merdu sekali dalam telingaku, seperti bisikan-bisikan kata dari bibirmu yang tipis itu, cintaku!

Kau tahu sayang? Malam ini aku berkata-kata seperti pujangga yang paling masyur sendunia. Taukah kau yang melandasi itu sayang? Namun sebenarnya pujangga ini sedang tersesat sayang. Ia butuh kamu menjadi penerang dalam hidupnya, tepat disinggasanya. Sekali lagi sayang saat ini aku hanya mampu menyapamu lewat imajinasiku saja sayang!