Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik Pilihan

Masyarakat Global Memasuki Masa Kedigdayaan Cina dalam Era Disrupsi Revolusi Industri 4.0: Paradoksal Pertikaian dan Hegemoni Cina dengan Amerika Serikat

4 Desember 2020   01:45 Diperbarui: 5 Februari 2021   01:33 1098 9
Di tahun 2016, saya terbelalak mendengar kemenangan besar Partai Republik (Republican Party) yang di pimpin oleh Donald John Trump mengalahkan kandidat pesaingnya, Hillary Clinton dari Partai Demokrat (Democratic Party) melalui channel CNN di YouTube. Hasil analisis saya terhadap Trump memenangi Pemilu 2016 adalah ekonomi dan politik global dihadapkan pada konstelasi perang urat ekonomi antara Cina dan Amerika Serikat (AS) merupakan strategi politik luar negeri AS memulihkan hegemoni ekonomi yang direbut oleh Cina. Donald Trump merupakan raja media massa dan konglomerasi Amerika Serikat, yang selama kampanye mengelu-elukan make American great again in Industrial Revolution 4.0 menjadi paradoksal di batin dan pikiran saya. Mengapa menjadi kegundahan hati saya atas kemenangan Trump? karena secara politik internasional yang berlangsung di dunia membangkitkan kepemimpinan populisme. Kepemimpinan populisme merupakan paradigma baru (new paradigm) di dalam ilmu politik selain new democracy, yang memiliki tujuan menarik dukungan dari masyarakat yang merasa aspirasinya tidak diperhatikan oleh pemerintah saat itu sedang berkuasa. Dalam ilmu politik, populisme menggambarkan suatu masyarakat yang terbagi menjadi dua kelompok: “the pure people” (the good) dan “the corrupt elite” (the bad). Berkembangnya populisme karena ada masyarakat yang teralienasi dan termarjinalkan secara sosiopsikologi akibat-akibat kebijakan pemerintahan yang sedang memerintah tidak pro-rakyat dan melanggengkan oligarkhi.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun