Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Puisi | Terbaring di Keranda Sepi

19 Mei 2019   19:09 Diperbarui: 19 Mei 2019   23:19 155 26
1/
Jakarta. 19 Mei 1998 (Sore)
"Mari berkumpul! Kita berdoa!"

berlapis-lapis kemarahan menghimpun harapan. pengorbanan menuntut pembalasan. luka, darah dan kematian harus dihentikan. berpijak pada keutuhan bangsa. bersatu dengan doa.

2/
Jakarta. 20 Mei 1998 (Pagi)
"Batalkan! Jangan sampai anak bangsa jadi korban!"

kesunyian pagi dihajar deru kendaraan lapis baja. ribuan serdadu memanggul aneka senjata. blokade kawat-kawat berduri melintang di tengah jalan. tetamu menempuh jejak penguasa di rumah tak bertuan. sedangkan penghuni bersemadi di luar halaman.

awan-awan hitam tak pernah berdamai dengan angin, tak henti terhempas dalam pergumulan ingin. berhembus di ujung barat mengelus pelosok timur. terbentang syair-syair perlawanan, mengalir dari air mata dan mata air tanpa sumur. keberanian berpadu kemarahan, bersama menerjang benteng tirani. setiap kawan dan siapa lawan ditandai.

3/
Jakarta. 21 Mei 1998 (istana)
"Demi keutuhan bangsa, saya menyatakan mundur..."

tugas selesai, keinginan tercapai. cucuran air mata, berbaur teriakan suka cita. sujud syukur tersaji di hadapan sangkur. tebaran doa berganti bunga. dan, kembali menuju lorong-lorong persembunyian asa.

4/
(tanpa tanggal, tanpa tahun, tanpa tempat)

lelaki tua mengulang genangan kenangan. menakar lukisan usang perasaan, tak lagi mampu menukar lirik-lirik rongsokan. menunggu pemilik nurani, yang terbaring di keranda sepi. menengadah pada langit, berujar kalimat pahit.

"Akh! Anak-anak reformasi sedang tidur!"

Curup, 19 Mei 2019
zaldychan

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun