Mohon tunggu...
KOMENTAR
Diary Pilihan

Suara Katarsis

20 Maret 2024   00:19 Diperbarui: 20 Maret 2024   00:20 99 4
"Makanlah saat kamu benar-benar lapar, dan berhentilah sebelum kenyang."

Kata-kata ini mungkin terdengar klise, tapi menjadi satu peringatan keras saat aku dipaksa harus tegas dalam memberi batasan.

Semua berawal dari satu reuni dengan teman lama, yang sudah bertahun-tahun kukenal. Jika ibarat manusia, waktu perkenalan kami sudah cukup umur untuk ikut Pemilu atau punya KTP.

Meski cukup lama tidak berjumpa, hubungan baik tetap aman, tak ada masalah berarti. Kami sama-sama sudah paham isi dapur masing-masing. Ada saatnya mendekat, ada saatnya jaga jarak.

Sebenarnya, kami cukup seimbang secara kemampuan. Dia jenius secara akademis, tapi kurang bisa jadi pendengar, sementara  aku hanya seorang pendengar dengan prestasi akademis biasa saja.

Dalam banyak hal, kami cukup nyambung meski dia tipikal orang yang sulit didekati. Ibarat sebuah negara, dia seperti Korea Utara, rapat seperti tembok dengan barikade dan kawat berduri.

Cara berpikirnya kadang agak "tidak umum", seperti halnya negara tertutup bin totaliter. Ada gesrek sedikit saja, bisa merepotkan.

Selama bertahun-tahun, aku biasa mendengarkan omongannya seperti kaset pita. Biarkan dia bicara sampai habis, setelah itu terserah.

Tapi, seperti halnya perkara makanan, ternyata ada sebuah titik batas, ketika situasi mulai jadi toksik, bahkan dalam sebuah hubungan yang sudah bertahun-tahun ada.

Titik pangkalnya berawal dari urusan "didengar-mendengar", yang sudah lama mampu diakali. Entah kenapa, momen interaksi dengannya belakangan jadi terasa seram.

Dia masih dominan seperti dulu, dengan tingkat kejeniusan yang juga tinggi. Lengkap dengan pergaulan dan empati yang kurang 1 ons.

Bayangkan, manusia macam apa yang tega menanyakan hal-hal sensitif dan menyakitkan, tapi hanya berkata "O" sebagai wujud permintaan maaf, setiap kali dia terbukti salah?

Mungkin, inilah zona nyaman dia, tapi ketika dominasi itu mengarah ke superior, itu jelas mengerikan. Tak ada cukup ruang untuk mengisi energi atau sebatas bertukar energi.

Hanya ada ruang untuk mengurasnya, lengkap dengan perasaan seperti orang paling bodoh di dunia mendengar kata-kata cerdas dari orang yang tinggal di menara gading.

Aku bukan aplikasi kecerdasan buatan yang bisa menjawab banyak pertanyaan sekaligus secepat kilat, tanpa perlu didengar balik. Aku masih manusia yang perlu didengar balik dan punya hak berada dalam posisi setara.

Dia boleh saja berlindung di balik lukanya, tapi jika itu juga melukai orang lain, saatnya minggir. Ada banyak hal jadi terbengkalai akibat energi yang terkuras.

Rasa bersalah yang muncul setelahnya sungguh mengerikan, karena membiarkan waktu berlalu begitu saja. Tapi, itu justru menolong, karena aku jadi bisa melihat, seberapa tidak sehat situasi ini.

Dia memberi ide dan mencoba mengendalikan semua sesuai pikirannya, tapi meremehkan banyak hal. Tentu saja, ini tidak sehat untuk tetap dilanjutkan. Kalau dia tahu apa kerusakan yang sudah ada, sudah pasti dia akan jadi sesosok makhluk suci tanpa dosa.

Jawaban "O" khasnya sudah cukup menjelaskan, baginya ini urusan menang-kalah. Sekalipun sudah kalah telak, terlihat menang dengan jawaban "O" menjadi satu hal wajib.

Mungkin, inilah satu contoh sisi negatif feodalisme, yang ternyata sudah ada sejak masih dalam pikiran, bahkan menjadi senjata agar tak hilang muka saat kalah.

Sebenarnya cukup menyakitkan ketika hal baik yang sudah lama terjaga ternyata harus rusak. Mungkin, inilah cara semesta memilah dan memilih, tanpa bisa diatur. Ada saatnya mendapatkan, ada saatnya melepaskan, demi bisa terus melangkah.

Aku tidak akan berkata "Selamat Tinggal" atau "sampai jumpa lagi" kepadanya. Biarkan semua sesuai jalur, sehingga waktu bisa menjawab dengan tegas.

Setidaknya, untuk saat ini, jaga jarak aman.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun