Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bola Pilihan

Habis Asia Terbitlah Afrika

29 November 2022   14:51 Diperbarui: 29 November 2022   15:08 194 6
Judul di atas adalah satu pendapat saya, tentang jalannya pertandingan kedua fase grup Piala Dunia 2022, yang tuntas digelar pada Selasa (29/11 dinihari WIB). Setelah sebelumnya tim-tim Asia mengejutkan di pertandingan pembuka, dengan menyumbangkan tim-tim seperti Jerman dan Argentina, giliran wakil Afrika unjuk gigi di pertandingan kedua.

Dimulai dari grup A, dimana Senegal yang tak diperkuat Sadio Mane menang 3-1 dan menyudahi perjalanan tuan rumah Qatar. Gol-gol Boulaye Dia, Dedhiou dan Bamba Dieng menghidupkan peluang Singa Teranga lolos, dan akan menjalani duel hidup-mati melawan Ekuador di partai terakhir.

Setelahnya, wakil-wakil Afrika yang lain lalu ikut menampilkan performa cukup baik.

Di grup F, Maroko sukses membuka asa untuk lolos ke babak perdelapan final, usai membekap Belgia 2-0. Meski Belgia masih diperkuat Kevin De Bruyne dan tampil dominan, Maroko mampu bermain efektif dan mencetak gol lewat aksi Sabiri dan Aboukhlal di babak kedua.

Dengan hasil ini, tim Singa Atlas hanya tinggal butuh minimal hasil imbang melawan Kanada yang sudah tersingkir. Kalaupun kalah, Hakim Ziyech dkk masih bisa lolos jika Kroasia bermain imbang dengan Belgia, atau Belgia hanya menang tipis dari Kroasia.

Bergeser ke grup G, ada Kamerun yang mampu menahan imbang Serbia 3-3. Tanpa Andre Onana yang dicoret, Tim Singa Lapar mampu bermain lepas.

Sebenarnya, anak asuh Rigobert Song ini sempat tertinggal 1-3 saat turun minum, setelah gol Casteletto mampu dibalas oleh Pavlovic, Sergej Milinkovic-Savic dan Aleksandar Mitrovic. Tapi gol-gol Vincent Aboubakar dan Felix Choupo-Moting di babak kedua memastikan torehan poin pertama Kamerun sejak Piala Dunia 2002

Dengan hasil ini, Kamerun akan menentukan nasib di laga penentuan melawan Brasil yang sudah lolos,  sementara Serbia akan berhadapan dengan Swiss di laga hidup mati.

Di grup H, Ghana yang memberi perlawanan sengit saat kalah 2-3 dari Portugal di laga perdana kembali menjalani duel sengit saat menghadapi Korea Selatan.

Secara permainan, Son Heung Min dkk tampil cukup baik, dan langsung memegang kendali sejak menit-menit awal. Tapi, Ghana yang mampu bermain efektif sukses membuat dua gol lewat Salisu dan Mohammed Kudus. Dua gol ini membuat The Black Stars unggul 2-0 saat turun minum.

Selepas jeda, Korea Selatan kembali mendominasi, dan sempat menyamakan skor jadi 2-2 lewat sepasang sundulan jitu Cho Kyu Sung. Harapan untuk menang pun kembali muncul

Tapi, efektivitas Thomas Partey dkk sekali lagi menghukum Tim Ksatria Taeguk. Lewat sebuah skema serangan balik cepat, Mohammed Kudus kembali mencetak gol, dan membuat Ghana menang 3-2.

Dalam pertandingan ini, efektivitas memang jadi kata kunci buat anak asuh Otto Addo, karena mereka hanya membuat  3 tendangan ke gawang, tapi semuanya sukses menjadi gol.

Meski begitu, hasil ini masih belum memastikan nasib kedua tim. Ghana masih harus menjalani laga hidup mati melawan Uruguay, sementara Korea Selatan harus berhadapan dengan Portugal, tanpa didampingi pelatih Paulo Bento yang dikartu merah wasit.

Sayangnya, seperti kata pepatah "tiada gading yang tak retak", kiprah cemerlang wakil Afrika di pertandingan kedua juga menghadirkan satu cerita muram. Di grup D, Tunisia yang sempat menahan imbang Denmark tanpa gol tumbang 0-1 atas Australia lewat gol tunggal Mitchell Duke.

Dengan hasil ini, langkah Tim Elang Khartago untuk lolos jadi semakin sulit, karena di pertandingan terakhir bertemu juara bertahan Prancis yang sudah lolos.

Uniknya, kiprah cemerlang wakil Afrika ini seperti jadi sinar yang menutupi redupnya kiprah wakil Asia di saat bersamaan. Seperti diketahui, selain Iran yang menang 2-0 atas Wales dan Australia yang mengalahkan Tunisia 1-0, tim-tim Asia kompak menuai kekalahan.

Qatar ditekuk Senegal 3-1, Kosta Rika mengalahkan Jepang 1-0, Arab Saudi dibekap Polandia 0-2, sementara Korea Selatan harus mengakui keunggulan Ghana dengan skor 2-3. Bukan hasil yang baik, tapi harapan itu masih ada di partai terakhir, kecuali pada Qatar yang sudah pasti tersingkir.

Sebagai pecinta sepak bola, kebanyakan dari kita pasti berharap, ada kejutan yang bisa membuat Piala Dunia 2022 jadi lebih dinamis. Dengan demikian, terlepas dari berbagai kritik di sekitarnya, Piala Dunia di Qatar bisa tetap diingat, karena punya kualitas dan dinamika kompetisi yang spesial.

Akankah?

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun