Mohon tunggu...
KOMENTAR
Olahraga Pilihan

Medali Emas Itu Susah

3 Agustus 2021   16:35 Diperbarui: 3 Agustus 2021   16:59 384 7
Medali emas itu susah. Begitulah pendapat saya soal peluang bersaing atlet Indonesia di Olimpiade 2020. Secara total, Indonesia ambil bagian di 8 cabang olahraga dengan menyertakan 28 orang atlet.

Maklum, pesaingnya datang dari seluruh dunia, bukan hanya seluruh kecamatan. Olimpiade jelas bukan turnamen tarkam atau antar kampung yang kalau kata Warkop DKI "Semua Bisa Diatur".

Terlepas dari terpaan pandemi yang ujungnya serasa menunggu godot, sebenarnya persiapan kontingen kita, bahkan sejak sebelum corona tak lagi hanya jadi merek bir, kurang ideal.

Memang, di event Asian Games, yang biasanya jadi "batu loncatan" menuju Olimpiade, Tim Merah-putih berhasil mendapat total 31 medali emas di tahun 2018.

Kelihatannya bagus, tapi hanya untuk cabor bulutangkis (2 emas) dan angkat besi (1 emas) yang memang berhadapan langsung dengan kontingen China, sang langganan peraih medali emas Olimpiade.

Terbukti, dari kelima medali yang didapat, semuanya berasal dari cabor bulutangkis dan angkat besi. Mereka memang sudah terbiasa menghadapi lawan kuat dan terasah karenanya, jadi layak mendapat medali di Tokyo.

Saya tak bilang capaian Indonesia di Asian Games 2018 semu, karena jumlah medali emas yang didapat memang cukup banyak. Masalahnya, capaian hebat di rumah sendiri ini belum cukup representatif untuk dijadikan acuan, kecuali pada cabang olahraga olimpik, dengan lawan tanding yang benar-benar kuat.

Sedikit kejam, tapi itulah kenyataannya. Dari 31 medali emas yang didapat, lebih dari separuh diantaranya (14 medali) datang dari pencak silat, paralayang (2 medali) dan wushu (1 medali). Ketiganya adalah olahraga yang tak dipertandingkan di Olimpiade 2020.

Jadi, wajar jika langkah kontingen Indonesia di Olimpiade kali ini terasa lumayan berat. Di bulutangkis saja, ada Denmark, tim kuat dari Eropa, dan Taiwan yang sama-sama meraih satu medali emas.

Situasi semakin tak mengenakkan, karena ada begitu banyak petinggi partai politik yang mendadak pansos di media sosial. Tak ada apresiasi, apalagi ikut repot membina atlet, tapi tak malu-malu memasang foto diri dan partainya besar-besar. Menjijikkan.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun