Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Pandemi, Momentum Menyemai Budaya Inklusif

25 November 2020   22:54 Diperbarui: 26 November 2020   07:43 68 3

Pada masa pandemi Corona seperti sekarang, banyak kegiatan yang serba terdigitalisasi, mulai dari pertemuan, belanja, sekolah sampai rapat kantor. Benar, pandemi memang berhasil menghilangkan banyak hal bersifat fisik atau pertemuan langsung.

Sebagai seorang berkebutuhan khusus, saya melihat situasi ini sebagai satu momen langka, karena batasan fisik akhirnya menjadi samar. Mereka yang punya keterbatasan fisik, mendapat ruang dan posisi setara.

Dengan bertumpu pada teknologi digital, perbedaan antara sekolah umum dan sekolah luar biasa menjadi tak terlalu jomplang. Apalagi, jika pada prosesnya ditemukan anak-anak berkebutuhan khusus, yang secara kemampuan teknis bisa bersaing langsung, dengan anak-anak lain.

Dengan tersamarkannya batasan fisik, seharusnya menerapkan budaya inklusif dengan cara membaurkan anak berkebutuhan khusus dan anak "normal" bukan perkara sulit. Apalagi, jika pihak sekolah mau memberi langkah penyesuaian.

Kebetulan, dalam situasi "normal" tanpa pandemi, situasi itu pernah saya alami di tingkat sekolah. Tepatnya, dari SD sampai SMA dulu. Waktu itu, saya dibatasi beraktivitas fisik dalam pelajaran olahraga. Sebagai gantinya, saya diberi tugas membuat makalah atau kliping olahraga.

Selebihnya, saya tinggal melakukan penyesuaian secukupnya dan sebisanya. Tak ada masalah secara teknis, kalaupun ada perundung, jumlahnya hanya segelintir dari keseluruhan. Malah, ada banyak teman yang tak sungkan membantu, dan dalam perjalanannya menjadi teman baik.

Meski kadang pernah merasa terasing, karena menjadi anak berkebutuhan khusus satu-satunya di sekolah, waktu perlahan mengubahnya menjadi rasa syukur, karena situasi ini justru menjadi bekal berharga bagi saya, saat studi di universitas, dan hidup di dunia nyata. Malah, saya mendapati, universitas lebih terbuka kepada orang berkebutuhan khusus, karena mereka tak membedakan mahasiswa dari faktor fisik.

Saya tidak bilang mengumpulkan anak berkebutuhan khusus dalam satu kelompok atau satu sekolah adalah ide buruk, karena tetap ada sisi positif di situ. Tapi, akan lebih baik jika mereka juga dibekali dengan pengalaman membaur dengan orang "normal".
 
Bukan untuk uji nyali atau gagah-gagahan, tapi untuk membekali supaya mereka siap menjalani kehidupan nyata di masyarakat. Karena, mereka adalah bagian dari masyarakat, dan harus siap hidup di masyarakat.

Mungkin, ide soal membaurkan anak berkebutuhan khusus dengan anak lainnya terdengar sulit di masa lalu. Tapi, entah kebetulan atau bukan, pandemi Corona justru bisa menjadi momentum positif untuk memulainya, karena batas yang ada mulai tersamarkan.

Inilah satu kunci, yang nantinya bisa berperan krusial, dalam menerapkan budaya inklusif. Jika budaya inklusif terbangun, diskriminasi fisik di tingkat sekolah bisa dihapus. Ini akan terbawa di dunia kerja dan kehidupan sehari-hari, karena faktor fisik tak lagi jadi alat diskriminasi.

Dengan demikian, akan tercipta kesetaraan lintas batas, dan tak akan ada lagi ketimpangan dalam berbagai hal, hanya karena faktor fisik. Semua dianggap setara sebagai manusia, dan dapat diperlakukan secara adil, seperti bunyi sila kelima Pancasila, "keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia".

Pastinya, butuh waktu untuk dapat mewujudkannya secara utuh. Dengan catatan, semua pihak terkait mampu memanfaatkan momentum pandemi ini dengan baik. Selebihnya, tinggal bagaimana semua dimulai dan ditekuni, sehingga dapat membuahkan hasil positif.

Berani?

KEMBALI KE ARTIKEL