Mohon tunggu...
KOMENTAR
Olahraga

Batas Akhir Sindhunata (Mengenang Argentina)

5 Juli 2010   06:14 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:05 270 0
Sindhunata yang paling sedih dari semua pencinta sepak bola atas kekalahan Argentina (0-4) dari tim panzer Jerman. Kekalahan Argentina adalah batas akhir, pada jejak kaki terakhir Sindhunata boleh menikmati Piala Dunia 2010. Bagi Sindhunata, Senja Sudah Tiba (Kompas 5/7/2010), lantas pembaringan menanti mata tertutup. Tidak ada lagi tempat, ruang, dan waktu bagi dirinya menatap layar kaca dan bersorak. Argentina, Lionel Messi, dan Maradona dalam hati Sindhunata kini tertidur pula dan tiada lagi jawara yang pantas dielukan.

Sindhunata menyebut Mesut Oezil sebagai Messi Jerman. Messi lebih besar dari Christian Ronaldo. Maradona itu dewa bola dan Messi adalah titisannya. Sindhunata pula mengutuki Jose Mourinho karena menumbangkan Barcelona di babak semifinal Piala Eropa tahun ini. Kekalahan Barcelona adalah kekalahan Messi. Kekalahan permainan menyerang yang menawan. Yah, Messi benar telah menjadi batas akhir penerawangan Sindhunata soal sepak bola.

Ironisnya, tak satu pun gol yang bisa lahir dari pemain terbaik dunia itu. Kakinya seperti dikutuk dan keajaiban yang selalu dibicarakan orang itu pudar pasif. Bagi saya, Argentina lebih beruntung memiliki Carlos Tevez dan Gonzalo Higuain ketimbang Messi. Posisi Messi merancukan Tevez dan Higuain, dua pekerja yang ngotot demi tim. Messi adalah kehancuran, karena membuang berbagai peluang yang bisa menghasilkan kemenangan melalui kaki Tevez dan Higuain. Messi nampak tidak berbagi dan hanya mengandalkan dirinya dan kebintangannya. Dia kini punah oleh dirinya sendiri.

Sekali lagi, Messi menjadi bintang karena Andrea Iniesta dan Xavi Hernandez. Dua sosok lini tengah yang mumpuni itu telah menjadi pelayan yang baik bagi Messi. Ketika dua orang itu terceraikan, Messi kesepian, merana, dan sebatang kara. Maradona, dalam hal ini, tidak berhasil menghadirkan pelayan yang baik buat bocah yang belajar bermain itu.

Senang melihat Maradona kecut masai dengan pedang yang tertancap di jantung hatinya. Sang ‘dewa bola' ala Sindhunata itu kini ‘mengandung' pembelajaran berharga, dan boleh berharap bisa berucap "Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu!" Sebab, tiada bisa kemenangan dibeli dengan kedewaan, tiada pula bola bisa dipecundangi dengan kebintangan. Bola tetap mengalir sesuai yang dia kehendaki, tanpa tuan berdaging manusia. Lantas, manusia hanya bisa menerima takdirnya, menerima garis sejarah yang ditulis Sang Bola. Dia hanya boleh berkata, terjadilah padaku menurut perkataanmu.

Jerman memang menang. Itu catatan yang telah digoreskan bola. Namun, bola akan terus menggelinding. Sang manusia boleh saja bergerak bebas ke segala arah, di segala lini, berupaya menciptakan gol dan kemenangan. Cacau, Miroslav Klose, Thomas Muller, dan Lukas Podolski boleh bergerak menyerang. Namun, bola akan tetap pada garis lurusnya, pada rencananya untuk berlayar dan berhenti, menulis dan menciptakan sejarah. Kalau pun Jerman terpilih, itu adalah kehendaknya. Sebab, sejak mula rencananya telah konsisten, memilih sang juara sesuai dengan ukurannya sendiri.

Demikian Sindhunata meratapi kekalahan Argentina, meratapi anak dewanya Messi, sekaligus dewa bolanya Maradona. Sindhunata seolah memberontaki bola, memberontaki kehendaknya. Dia menciptakan sendiri batas akhirnya di sebuah senja yang telah tiba. Namun, itu akhir bagi dirinya. Tidak bagi bola, tidak pula bagi sejarah dan takdir. Sebab, bola itu tetap mengalir dan memilih pemenangnya. Yaitu, siapa yang bisa berkata pada dirinya sendiri: terjadilah padaku menurut kehendakmu!(*)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun