Mohon tunggu...
KOMENTAR
Diary

Menjenguk Teman yang Sakit

21 September 2022   05:29 Diperbarui: 21 September 2022   05:31 134 23

Menjenguk Teman yang Sakit

Beberapa waktu lalu ada kabar dari Bu Ira bahwa teman yang sebentar lagi pensiun sakit.  Kami pun sepakat ke rumah Pak Wed hari Senin sore. Saya dan suami menjemput dulu dua teman yang rumahnya Ambarawa.

Walaupun sudah tidak menjadi guru di Gridaba ( SMP N 2 Banyubiru) kami tetap menjalin silaturahmi. Suka dan duka kami ikut merasakan.

Kurang lebih tiga puluh menit, kami berempat sampai di rumah guru IPS yang beralamat di daerah Banyubiru. Rumah yang halamannya ada pepohonan ini kami masuki.

Ada seorang lelaki muda di depan rumah.
"Mas, ini benar rumahnya Pak Widodo?" tanya Bu Nur ramah

"Nggeh," jawab lelaki lalu masuk rumah untuk memberitahu pada yang punya rumah. Sejenak seorang ibu cantik keluar menyambut kami dengan senyum. Kami pun bersalaman.

Oleh-oleh yang kami bawa,  diletakkan Bu Ira di meja ruang tengah. Kami pun mencari keberadaan teman yang dulu amat humoris.

"Oh Pak Wed," ucapku sambil menuju kamar yang terbuka. Kami berempat masuk kamar dan bersalaman dengan Pak Wed.

Tampak Pak Wed terbaring lemas dengan senyum tertahan. Dengan terbata-bata ia bicara sambil mengulurkan tangannya. Sejak sakit yang terakhir bicaranya tidak lancar.

"Gimana Pak Wed, cepat sembuh ya?" ucap kami bersalaman. Beliau tampak tersenyum dan berusaha bicara tetapi ada agak susah. Kami pun duduk di bibir dipan lalu bincang-bincang sebentar. Tak lupa kami mendoakan untuk kesembuhannya.

Menurut ibu Wed, baru kali ini penyakitnya benar-benar drop. Sebelumnya tetap biasa walaupun ada keluhan.

"Bu, Monggo minumannya di depan," tawar ibu Wed dengan senyum. Ibu yang tampak tegar ini pun bercerita panjang lebar tentang suaminya. Perjuangan untuk suami benar-benar membuat kami ikut merasakan kegigihan Bu Wed demi kesembuhan suaminya.

Saya pun hanya bisa menyimak saat beliau bercerita. Bu Wed membawa ke rumah sakit untuk mengecek tubuh Pak Wed dengan berbagai cara.  Sesaat kami ikut hanyut setelah Bu Wed bercerita kala Pak Wed mengikuti pengobatan dengan penuh semangat. Pak wed katanya ingin mengajar lagi usai sembuh.

Keinginan sembuh ada dalam pikiran sehingga beliau mengikuti anjuran dokter yang konon amat ramah dan peduli. Ternyata ada juga dokter yang ramah dan peduli dengan pasien. Kami ikut bersyukur setelah dari rumah sakit sudah banyak perubahan walaupun bicaranya belum lancar karena ada penyumbatan.

Fisiknya masih lumayan baik karena masih bisa berjalan. Tangan juga masih bisa digerakkan. Masih ingat kala beliau ikut serta dalam wisata beri keluarga besar Gridaba berwisata ke Bromo, Pangandaran dan terakhir ke Pacitan. Beliau masih kuat naik ke bukit untuk melihat indahnya laut pantai Kasap. Bahkan naik bukit saat di Bromo pun kuat.

Itulah kenyataan hidup. Ganjaran berupa sakit harus kita terima dengan lapang dada. Bisa jadi sakit bisa mengurangi dosa yang ada di diri kita. Kesabaran pun diuji.

Akhirnya kami mohon pamit. Kami mengalami Pak Wed dan istrinya.  Dengan menengok orang sakit, kita jadi merasa bersyukur diberi kesehatan. Betapa orang sakit itu banyak biaya dan merasakan tidak nyaman.
Selain itu menengok orang sakit dianjurkan oleh Rasulullah. Seperti dalam hadits berikut.

Nabi Saw bersabda," Orang yang menjenguk orang sakit maka ia akan berjalan di taman surga sampai ia kembali." Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
sahabat Tsauban r.a. Imam An-Nawawi Al-Bantan

Kami pun sampai rumah dengan selamat. Bersyukur bisa silaturahmi dengan teman lama. Semoga Allah memberi kesembuhan pada beliau dan bisa beraktivitas seperti biasa. Aamiin
 
Ambarawa, 20 September 2022

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan