Mohon tunggu...
KOMENTAR
Money Pilihan

Bang Syahrir dan Teori Angsa Hitam

15 Juni 2022   12:21 Diperbarui: 15 Juni 2022   12:56 355 1
Sudah dua minggu, buku ini ngetem saja di tas saya. Dikirim oleh senior saya di HMI, paman saya kalau di kampung dan mitra DPR kalau di tempat kerja.

Beliau peneliti ahli utama di bidang fical policy; Kementerian Keuangan, abangda Ir. Syahril Ika. Belakangan, kami lebih sering berkomunikasi urusan di kampung.

Saya belum sempat membacanya, karena KRL tak selowong dulu. Setelah rekayasa rute Bogor-Jakarta yang cukup melelahkan. Bejibun orang tertancap padat, sejak di peron hingga dalam KRL.

Dan baru kali ini, buku saya keluarkan dari tas. Saat membaca judulnya, teringatlah saya teori BLACK SWAN; Nassim Nicholas Taleb (2007). Teori angsa hitam atau judul bukunya, THE BLACK SWAN.

Bahwa Pandemi Covid-19, adalah suatu kondisi yang unpredictable. Tapi berdampak besar. Menimbulkan shock yang lumayan dahsyat terhadap ekonomi Indonesia. Pun extremely menuntut transformasi di bidang fiscal policy dan monetary policy.

Teringatlah saya di triwulan ke dua tahun 2020. Dampak pandemic begitu terasa. Ekonomi yang ditopang insentif mobilitas, tiba-tiba stag dengan mengalami koreksi cukup dalam; 2,97%. Padahal, di kuartal IV 2019, ekonomi masih tumbuh 4,97%. Pembatasan moblitas manusia/PSBB sd PPKM, membuat ekonomi tiba-tiba stag !

Dari sisi market, index composite mengalami tekanan hebat. IHSG terprosok ke 4000-an. Yield bond terkerek hingga 8%. Tekanan terhadap pasar equity, menyebabkan dunia usaha mengalami kekeringan likuiditas. Setali tiga uang dengan tekanan terhadap kurs.

Meski tidak tampak, tapi sesungguhnya pemerintah dan DPR di dera panic attack. Sebab itulah, tanpa tedeng aling-aling, APBN-P 2020, diveto oleh Perpu, tanpa perlu mendapat persetujuan DPR. Sudah tentu melanggar konstitusi/UUD 1945.

Lalu Perpu tersebut, diundangkan menjadi UU No 2 Tahun 2020 Tentang PEN. Tentu saja saya merekam peristiwa itu dengan baik. Karena saya aktif sekali menulis, tiap minggu terkait ihawal dimaksud.

Saat-saat itulah, tersembul diskursus APBN sebagai coounter-cyclical policy. Meniscayakan ekspansi fiskal jor-joran dan insentif fiskal habis-habisan.

Konsekuensinya, defisit APBN bengkak >5%. Pembiayaan utang di atas Rp.800 triliun (untuk kewajiban bunga + pokok). Kendati melanggar UU 17, tapi UU 02 yang DNA-nya dari Perpu, mentoleril.

Dari sisi moneter, BI pun berperan sebagai monetary counter cyclical policy. Bank sentral terlibat dalam membeli SBN di private placement. Singkatnya ini quantitative easing ala Indonesia.

Kebijakan suku bunga rendah, ditahan selama 2020-2021. Demikian pun dari sisi makroprudensil, GWM di jaga pada level rendah, agar perbankan tetap terjaga likuiditas dalam menjalankan intermediary functions. Intinya BI memainkan three intervention, baik dari sisi menjaga inflasi, nilai tukar dan suku bunga/BI 7-Day Repo Rate.

Singkat cerita, dengan pendekatan fiscal and monetary policy, Indonesia mengalami abundance liquidity. Berkelimpahan likuiditas.

Dari sinilah social safety net kita memiliki bantalan cukup tebal dalam APBN. Selain itu, dana PEN mengalir ke sektor esensial, dari belanja pemerintah, ke sektor kesehatan terkait penanganan Corona, restrukturisasi kredit, insentif fiskal dan menyuntik ekuitas ke BUMN. MESKIPUN KORUPSI PEN TERJADI UGAL-UGALAN.

Jadi dalam kondisi tersebut, APBN dan kebijakan moneter, benar-benar pasang kuda-kuda sebagai counter cyclical policy. Kendati di kuartal 2 2021, berbagai indikator makro ekonomi mengalami tekanan cukup dalam, namun cenderung lentur dan bergerak ke arah pemulihan di kuartal selanjutnya.

Singkat cerita, buku ini, mendokumentasi preseden Indonesia dalam menghadapi suatu shock ekonomi yang tak diduga sebelumnya, atau apa yang ditulis Nashim Nicholas, THE BLACK SWAN. Teori angsa hitam.

@KRL Bogor-Jakarta
by Munir

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun