Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bisnis

Sepuluh Tahun Kedepan Bagan Siapi Api Akan Menjadi Kota Mati

15 Agustus 2013   22:06 Diperbarui: 24 Juni 2015   09:16 29597 3

Bagan Siapi Api, adalah ibu kota nya Kabupaten Rokan Hilir Profinsi Riau. Di mana pada awalnya Bagan Siapi Api adalah merupakan Kecamatan dari kabupaten Bengkalis. Bagan Siapi Api yang kini menjadi ibu kota dari Kabupaten Rokan Hilir memiliki 13 Kecamatan, dan lebih kurang 280 Desa dan Kelurahan. Sejak sekitar14 Tahun yang lalu, Kecamatan Bagan Siapi Api memekarkan diri menjadi Kabupaten baru dengan nama kabu paten Rokan Hilir pada tanggal 4 Oktober 1999, berdasarkan Undang Undang No : 53 Tahun 1999.

Sejak memekarkan diri dari Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir di pimpin oleh pelaksana Bupati, barulah pada tahun 2002 Rokan Hilir di pimpin seorang Bupati yang depenitif Hasil Pemilihan DPRD Kabupaten Rokan Hilir yakni Wan Thamrin. Selama 5 tahun sejak memekarkan diri dari Kabupaten Bengkalis, yaris tidak terlihat adanya geliat pembangunan di kota yang pada awalnya terkenal sebagai kota penghasil ikan nomor dua di dunia setelah Negara Penazuela.

Pada saat itu kota Bagan Siapi Api bagaikan kota kuno di mana tidak di temui adanya jalan ber aspal, yang ada hanya lah jalan yang terbuat dari kayu berbentuk pelataran yang menghubungkan rumah rumah penduduk dari rumah yang satu kerumah yang lain. Karena tanah daratan kota Bagan Siapi Api itu adalah tanah yang berawa rawa, yang berada di pinggiran pantai Selat Malaka.

Daerah yang berawa rawa di aliri oleh sungai Rokan ini, ditemukan oleh delapan belas imigran Cina yang datang dari Profinsi Fu-Jian pada tahun 1826. Kedelapan belas migran dari Negara Tirai Bambu ini yang terdiri dari, Ang Nie Hiok, Ang Se Guan, Ang Se Pun, Ang Se Teng, Ang Se Shia, Ang Se Puan, Ang Se Tiau, Ang Se Po, Ang Se Nie Tjai, Ang Se Nie Tjua, Ang Un Guan,Ang Cie Tjua, Ang Bung Ping, Ang Un Siong, Ang Sie In, Ang Se Jian danAn The Tui,dalam perjalanan mereka lari dari tanah leluhur mereka, secara kebetulan menemukan daratan di muara sungai Rokan, yang belakangan di beri nama Bangan Siapi Api

Pembangunan kota yang terkenal dengan sebutan kota seribu kubah dimulai ketika H. Anas Maa’mundan H. Suyatno terpilih menjadi Buapti Rokan Hilir pada Tahun 2007, kemudian terpilih kembali untuk yang kedua kalinya dengan pasangan yang sama pada tahun 2011. Di bawah kepemimpinan Anas Maa’mun geliat pembangunanRokan Hilir tampak terlihat nyata. Pembangunan sarana prasarana seperti jalan gedung perkantoran dan sekolah di bangun oleh Anas dalam kurun waktu selama tujuh tahun kepemimpinan nya.

Pembangunan yang dilaksanakan oleh Anas, layak nya seperti perawan tua yang sedang bersolek dengan mek-up dan lipstick pembangunan. Kesungguhan Anas dalam memoles pembangunan di kota Bagan Siapi Api terlihat bagaikan lampu Aladin dalam kisah seribu satu malam. Hanya dalam kurun waktu tujuh tahun perobahan kota Bagan Siapi Api bagaikan siang dengan malam. Tanah yang berawa rawa disulap menjadi daratan yang terjal, diatas tanah yang telah menjadi terjal inilah dibangun inprastruktur, mulai dari sarana jalan sampai kepada gedung perkantoran.

Taka da lagi jalan di kota Bagan Siapi Api yang tidak beraspal hotmix, dan jalan lingkungan yang dibangun dengan cor semen. Pendek kata kota Bagan Siapi Api saat ini layak nya seperti perawan tua yang sedang bersolek.Anas sebagai Bupati Rokan Hilir boleh merasa bangga dengan apa yang telah di lakukannya untuk masyuarakat Rokan Hilir. Termasuk kebanggaan Anas adalah dengan berhasilnya membawa Perguruan Tinggi Bidang Pemerintahan yakni, Institut Ilmu Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) ke Rokan Hilir. Kampus IPDN yang ada di Ujung Tanjung Kabupaten Rokan Hilir adalah satu satunya Kampus IPDN yang berada di luar pulau Jawa.

Hanya saja kota Bagan Siapi Api, akan menjadi kota Mati, jika Pemerintahnya tidak secepatnya melakukan pembangunan kota stelit di henderland wilayahnya. Walaupun Pemerintah Rokan Hilir memiliki Anggaran Pendapatan danBelanja Daerah (APBD) sebesar lebih kurang Rp 1,8 Triliun, dan pemerintahnya juga telah membuka akses jalan menuju kelur masuk kota Bagan Siapi Api, seperti jembatan Pandamaran yang menghubungkan kota Bagan Siapi Api ke wilayah Sumatera Utara dari Jalur Pantai, mulai dari Kecamatan Kubu, Panipahan, di Rokan Hilir Profinsi Riau dan menembus ke Sungai Berombang Kabupaten Labuhan Batu, terus menembus Kecamatan Tanjung ledong Labuhan Batu Utaradan Kecamatan Sungai Kepayang Kabupaten Asahan serta kota Tanjungbalai di Propinsi Sumatera Utara.

Karena letak kota Bagan Siapi Api sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Rokan Hilir, secara jalur ekonomi tidak lah strategis. Kota Bagan Siapi Api berada sekitar 100 Km dari jalan lintas Sumatera Jawa. Dengan perjalanan sekitar dua jam. Orang tidak akan memasuki kota Bagan Siapi Api jika tidak memiliki keperluan yang penting, mengingat jarak tempuhnya yang begitu memakan waktu cukup lama. Yang idial nya, pusat pemerintahan Rokan Hilir itu bukan di kota Bagan Siapi Api, tapi melainkan adalah di Ujung Tanjung yang berada di jalur lintas Sumatera – Jawa.

Jika Pemerintah nya tetap mempertahankan kota Bagan siapi Api sebagai pusat prekonomian dan perkantoran tetap dipertahankan, paling lama sepuluh tahun kedepan, kota Bagan Siapi Api akan menjadi kota Mati. Karena kota Bagan Siapi Api tidak strategis untuk jalur prekonomian. Kepala Daerah Rokan Hilir kedepan setelah Anas Maa’mun, harus jeli memandang hal ini. jika tidak Kota Bagan Siapi Api akan jauh tertinggal dengan daerah lainnya yang ada di Profinsi Riau.

Politik koncoisme, dan kemauaan segelintir orang yang tetap menginginkan kota Bagan Siapi Api untuk tetap di pertahankan sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Rokan Hilir, sudah tidak relevan lagi. Bagi setiap calon Kepala Daerah Rokan Hilir harus berani menentang keiinginan segelintir orang yang tetap menginginkan kota Bagan Siapi Api menjadi pusat Pemerintahan Rokan Hilir. Karena kota Bagan Siapi Api tidak strategis dalam jalur ekonomi.

KEMBALI KE ARTIKEL