Mohon tunggu...
KOMENTAR
Fiksiana Pilihan

Kutemukan Rasa pada Sudut Senja

3 Juni 2021   20:28 Diperbarui: 3 Juni 2021   20:38 181 12

Barangkali kalian tau, aku hanya seorang emak biasa yang menyukai serangkai kata. Hanya sebatas suka. Namun aku mencoba untuk bisa. Meski tak banyak karya yang aku punya. Hanya beberapa dan biasa.

Aku sadar waktuku tak sebebas itu untuk lebih banyak belajar. Pun seringan itu kuhabiskan mengais kata sembari mengayun pena. Aku harus membagi dengan tugas utama.

Namun, jika aku memiliki waktu luang, jemariku tak sadar mengalun begitu saja. Walau tak banyak kata, tak mengapa. Yang penting aku menemukan rasa menjadi sebuah karya.

Aku sempatkan juga membaca buku atau artikel sesempat mataku bicara. Jika lelah, tidur.

Begitulah ritme penaku mengurai cerita. Terkadang tanpa jeda meniti baris-baris di atas kertas atau layar kaca. Apa yang ada saja. Hingga tak terasa beberapa kata kutulis, apa adanya.

Kadang sebuah artikel panjang kubuat, atau puisi singkat. Suka-suka aku saja. Yang penting masih seputar mengolah rasa. Dan penaku sempatkan bicara, biasa. Tersebab aku bukanlah pujangga. Bukan pula ahli bahasa.

Aku tak pernah memiliki hal yang istimewa. Aku membagi apa yang aku rasa dengan biasa-biasa saja. Aku suka rangkaian kata sederhana. Yang penting tertata, tentu akan mudah dibaca siapa saja.

Menulis, menuang rasa, menjadi karya. Aku pikir ini menjadi rangkaian yang biasa dan sederhana.

Ya, sederhana itu memang biasa, meski tak semudah menuang rasa. Namun jika temukan kata menjadi serangkai makna. Hingga pesan pun terbaca dalam sebuah karya. Itu yang tak biasa.

Tulisan ini sekadar tulisan ringan biasa. Disini, aku hanya ingin menyampaikan sedikit coretan kata. Tentang rasa dan senja.

Mengapa? Karena tanpa rasa penaku tak bisa bicara. Ya, begitulah adanya. Dan tanpa kehadiran senja rasaku seakan terhenti pada satu masa. Kok bisa? Entahlah, aku hanya ingin mengatakan jikalau senja itu tak biasa.

Bagiku, senja bagai pembatas masa. Pada senja bisa kuungkap rasa. Semburat jingga mampu berkata bahwa esok masih tersisa asa. Sebagai pijakan menyusun kisah yang tak sama. Kuharap kalian percaya.

Senja memiliki kekuatan hati. Dia hadir sekadar menyapa bukan menelan mimpi. Dia pun berjanji menggelar asa kembali kala terbit mentari. Hingga kutemukan rasa pada sudut senja saat kumenepi.

Ya, menepi sebelum bermimpi. Ketika waktu luang menyapa, senja berhasil menemuiku pada serangkai kata. Raga yang mulai meletak lelah. Kucoba hentikan sejenak sebelum mata terasa lengah. Hingga kutemukan larik-larik kata. Di antara serpihan rasa yang bersandar pada sudut senja.

Rasa yang kerap menuntun rangkaian kata menjadi sebuah karya. Dengan rasa apa yang ada di alam pikir pun bisa terbuka. Lalu tertuang pada gerakan tangan, berujung pena layangkan senyuman. Yang hantarkan pada serangkai pesan. Sebagai pengingat diri? Tentu saja.

Aku suka pengingat diri. Agar aku selalu ingat dengan yang memiliki diri. Kata orang, agar tak lupa maka tulislah pada lembar memori.

Dan mengapa harus senja? Ya, karena aku merasa pada sudut senja kutemukan rasa. Dengan rasa kataku bicara. Senjalah yang menuntun penaku bagaimana mengolah rasa menjadi sebuah karya. Hingga titik yang tak terukur masa. Itulah caraku.

Sekali lagi, aku hanya seorang emak biasa yang mencoba untuk bisa, mengolah rasa menjadi sebuah karya. Kalian tentu lebih bisa. Dan aku sangat percaya.

KEMBALI KE ARTIKEL