Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Rindu yang Terlampau Air Mata

28 Mei 2019   06:31 Diperbarui: 28 Mei 2019   06:48 101 8
Tiba-tiba aku menjadi malam
Di matamu
Dan sekujur keinginan
Memadukan apung yang terlampau asin
Padahal kejenuhan ini masih bercerita tentang rindu

Kenangan tentang kita memanggil
Dari balik dinding keangkuhan
Menancap di kerlingan waktu
Mengguncang dingin
Ketika tubuhmu masih dalam balutan ombak

Musim cinta yang kunanti tak juga menepi
Di kejauhan mata nampak menganak sungai
Antara datang dan pergi
Tidak ada kemenangan yang paling stabil
Hampa
Segalanya menjadi kesukaran
Bahkan biji-biji puisi inipun mati
Sekejap, lepas

Melintas pada langit kemarau
Aku kekeringan
Saat hidup sulit disiasati
Sebab jejak lumpur gemar mendekati ganjil
Yang semestinya bisa di sederhanakan menjadi kebahagiaan

Sesungguhnya engkau adalah ruh pagi
Merasuki jalan darah hingga tubuh tidak baik-baik saja
Ketika jarak begitu penghalang
Pada seberangmu yang belukar
Juga seberangku, kalah perang

Jemari mencoba merakit huruf-huruf
Untuk menjadi genap
Kemudian menyibak bayangmu
Menjadi satu-satunya lukisan
Karena aku hanyalah kegilaan
Atas cinta
Yang teratasnamakan kekasih

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun