Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Lelahnya Melintas di Ibukota, Andai Pemimpin Jakarta Lebih Peka

8 April 2011   03:28 Diperbarui: 26 Juni 2015   07:01 247 0

Jakarta kotaku indah dan megah ...

Disitulah aku dilahirkan ...

Ternyata rumahnya bejubel ...

Oh, banyak penghuninya .....

Tepat pukul 06.00 pagi setiap harinya saya berangkat menuju kantor untuk menunaikan tugas abdi negara. Konon orang bilang, tanpa macet Jakarta tidaklah Jakarta. Sesungguhnya malu namunjustru tampaknya orang berusaha memaklumi ihwal macet bahkan bangga bila bisa hidup di metropolitan Jakarta. Sama seperti orang kebanyakan yang terbiasa melintasi jalanan ibukota, saya pun merasakan betapa sulitnya hanya untuk berpindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Tentu saja, karena saya hanyalah rakyat jelata, peluh dan rasa penat senantiasa menyelimuti sewaktu saya berusaha survive di ramainya kota Jakarta, sangat beda dengan perlakuan istimewa pejabat negara atau orang penting lainnya ketika berada dalam kondisi yang sama.

Sebenarnya ingin rasanya melihat Jakarta menjadi lebih baik, terkadang tergelitik di hati dan pikiran ini, kapan Jakarta tercinta bisa lebih nyaman dilalui dan aman untuk melakukan aktivitas sehari-hari yang sifatnya mobile. Namun setelah saya timbang dan timang, ternyata saya masih bermimpi besar saja, belum ada perubahan yang nyata ketika kita berada di posisi jalan protokol, arteri atau alternatif sekalipun. Mungkin nanti 10 atau 20 tahun lagi impian saya tentang Jakarta yang nyaman dan aman bisa terwujud, atau bisa saja tidak akan terwujud sama sekali karena Jakarta sudah tenggelam akibat banjir, stuck total, atau bahkan saya sudah meninggal karena polusi asap kendaraan yang luar biasa plus perilaku tidak tertib jalan raya ibukota.

Cobalah anda survei atau minimal tanyakan secara acak kepada penduduk Jabodetabek di mana pun berada, apa mereka puas dengan kondisi lalu lintas di Jakarta?, jika sebagian besar menjawab ke arah tertentu, maka sudah barang pasti pemerintah pusat dan daerah khusus ibukota harus melakukan tindakan cepat dan nekat untuk menyelamatkan kebesaran dan kesakralan kota besar pusat segala urusan negara dari traffic disaster. Hapus coreng moreng wajahnya dengan kecerdasan dan keberanian para pengambil kebijakan yang mengaku serba bisa.

Sebagai perbandingan, melintas dari Tangerang Selatan ke Jakarta Pusat membutuhkan waktu setidaknya 100 menit dengan jarak tempuh 45 km, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 30 km/jam. Bayangkan jika jalanan sedang dalam puncak kemacetan, pasti akan lebih lama lagi bukan. Di Jepang, jika penduduk kota ingin ke kota Saitama ke kota Tokyo yang berjarak 50 km hanya membutuhkan waktu 50 menit. Bukannya ingin sempurna, tetapi sangat masuk akal jika semua orang ingin lebih cepat, nyaman dan aman berada dalam perjalanan. Baik dengan menggunakan sarana transportasi pribadi maupun transportasi massal.

Entah sudah berapa banyak yang menulis tema serupa tentang kemacetan Jakarta di berbagai media, tetapi tidak ada salahnya jika pemerintah mengumumkan kemajuan rencana aksinya kepada seluruh khalayak melalui media pula untuk membuat masyarakat lebih tenang dan tidak terus-menerus menagih janji pemimpinnya yang mengklaim dirinya sebagai ahli tata kota. Masalah biayakah, regulasikah, lahan, partner atau mungkin mental yang menjadi kendala, tolong sampaikan sehingga kami bisa berpikir untuk membantu menyelesaikan tantangan yang ada. Jika kami sebagai rakyat masih dihargai.

Saya masih cinta Jakarta sebagai tempat mengadu nasib dan mencari rejeki, tetapi jika wacana pemindahan ibukota harus terjadi, apa boleh buat saya terima jika hal tersebut ternyata lebih baik bagi saya sebagai masyarakat awam untuk jangka panjang. Mungkin terkesan egois, tetapi itulah, kadang kepolosan menjadi lebih berharga daripada kepintaran jika mampu menteramkan kehidupan kita. Ada baiknya rencana kerja pemerintah benar-benar memperhatikan kebutuhan rakyat, entah bagaimana caranya aspirasi masyarakat bisa minimal tertampung , maksimal menjadi rekomendasi pelaksanaan. Atau mungkin anggota dewan yang terhormat kurang menyimak kesulitan yang dialami rakyat dan kemudian menyampaikan pesan keprihatinan tersebut kepada pemerintah sebagai masukan perbaikan program/ kegiatan di tahun berjalan dan tahun yang akan datang.

Rakyat memang bodoh dan tidak pantas diikutsertakan dalam pembahasan pembangunan gedung baru yang akan menelan anggaran negara sebesar 1,16 triliun, tetapi tidak ada salahnya jika rakyat juga punya usul saran agar sebaiknya uang sebanyak itu bisa digunakan memperbaiki sarana prasarana ibukota agar menjadi lebih pantas ditinggali, bukan kosmetika belaka yang tidak berguna. Fungsi pemimpin yang merasa pintar dan amanah adalah memberikan pengayoman dan perlindungan dalam berbagai bentuk kepada rakyatnya agar lebih mencintai pemimpinnya karena telah berbuat hal yang benar dan terbaik demi kemaslahatan bersama.

KEMBALI KE ARTIKEL