Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Berlalu

10 Juli 2020   09:08 Diperbarui: 10 Juli 2020   09:26 47 11

Bagaimana pendapatmu setelah mendengar semuanya? Apa ingatanmu langsung mengarah padaku? Ku syukuri jika memang seperti itu. Setidaknya beritanya mampu membuatmu ingat padaku. Lalu? Apa yang ada di benakmu? Menanyakan bagaimana perasaanku?

Tenang, aku bahkan ingin mengajakmu tertawa bersamaku. Menertawakanku, yang dulu.
Yang mengacuhkan saranmu 10 tahun lalu.
Saat aku terlalu kaku melihat hal baik dari matamu.
Saat aku terlalu naif pada cara pandangku.

Tak ada yang disesali. Karena ini sudah selesai.
Tiba-tiba aku hanya rindu padamu. Pada kita yang akan bertemu dan membahas tentangnya lama. Dan setelahnya kita akhirkan dengan tawa bebas, setelah kita puas mengingat segala hal bodoh waktu itu.

Kamu tau? Padahal baru beberapa hari lalu aku menuliskan sesuatu tentangnya. Ingin ku ajukan padamu agar kau membacanya, tapi sekarang kau bagiku sama sepertinya, Jauh. Meski hanya beberapa meter dari sekitarku.

Dan akhirnya saat nanti kopiku habis, aku sudah siap mendo'akan perahu nagaku berlayar seperti apa yang aku angankan beberapa waktu lalu. Aku percaya pada perahu naga itu. Seperti apapun badainya, ia akan kuat karena ia patuh pada arah jalannya yang lurus.

Akan aku ikhlaskan satu-satunya mata yang paling teduh yang aku kagumi sedari 7 tahun lalu. Semoga ia akan terus meneduhkan mata baru yang memandangnya kali ini dengan penuh. Dan sudah saatmya akan aku akhirkan titik di tulisanku.

Titik yang sebenarnya titik. Bukan titik yang setelahnya akan ada kalimat sambung lagi. Titik yang berhenti bahkan sebelum arsyNya menjadi saksi. Titik yang ku beri setelah langkah kaki itu pergi. Setelah kalimat "Terima Kasih" .

KEMBALI KE ARTIKEL