Mohon tunggu...
KOMENTAR
Humaniora

Kebahagiaan Relawan

31 Desember 2020   23:30 Diperbarui: 31 Desember 2020   23:32 86 1

Jika yang dihitung berapa jumlah yang aku dapatkan sebagai pimpinan di sebuah lembaga keswadayaan ditingkat Kalurahan, pasti semua akan sepakat: akulah orang yang paling tidak beruntung. Mana mungkin akan bisa cukup, Rp. 500,000,-/bulan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami berlima. Belum lagi untuk keperluan dan biaya ketiga anak yang masih belajar di bangku sekolah.

Tetapi hidup bukan perkara untung dan rugi, atau berapa jumlah transaksi. Juga bukan didasarkan pada rumus matematika, yang hasilnya mutlak dan pasti.

Dan aku percaya, tidak ada "kurang" atau "lebih", sebab muara dari seluruh usaha dan ikhtiarku adalah menggenapkan rasa syukur agar senantiasa "cukup" dari seberapapun rezeki yang aku terima setiap harinya.

Inilah benang merah yang manjadikan hidupku lebih terarah, buah dari dua belas tahun mengabdi dan berkiprah, sebagai seorang "relawan" di sebuah lembaga keswadayaan, serta berproses dalam petualangan dan pertempuran: antara tuntutan kebutuhan materi melawan esensi kebahagiaan hidup yang hakiki.

Proses yang pastinya tidak mudah, namun semesta telah meniupkan mantra bijaknya: "yakinlah dan jalani apa yang menjadi panggilan nurani, niscaya akan kau temukan kebahagiaan yang selama ini kau cari."

Ya, dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat, meski belum seberapa dibanding para "pejuang" JNE, yang tetap setia menempuh jalan panjangnya untuk "Berbagi, Memberi, Menyantuni." demi membahagiakan seluruh member dan pelanggannya, tak terkecuali ke seluruh pelosok negeri.

Seberapapun berat tantangan, kerasnya medan, dan kejam cuaca, pantang bagi pejuang JNE untuk ciut nyali, sebab memberikan pelayanan terbaik adalah kata sakti yang terlanjur terpatri, jauh kedalam sanubari.

Dan, memasuki gerbang, "JNE 3 Dekade Bahagia Bersama," bukanlah sekadar rentang panjang usia, namun terjal pendakian yang begitu sarat akan makna, sebagai bagian dari proses menuju jasa pelayanan yang prima dan andal ke seantero bumi Nusantara.

Itulah mengapa, kesetiaan mengabdi, berbagi pengalaman, memberikan pendampingan dengan penuh keikhlasan, seperti taknpernah kehilangan daya dan energi.

Seolah aku temukan permata, pada wajah polos dan jujur mereka, ibu-ibu yang begitu sederhana dan bersahaja, yang masuk dalam daftar "base line" Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), sehingga berhak mengakses dana ekonomi bergulir dari program KOTAKU (Kota Tanpa Kumuh) Kementrian PUPR sebagai kelanjutan dari program PNPM-MP yang resmi berakhir tahun 2015.

Mereka tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang mengelola beragam kegiatan ekonomi produktif mulai dari pedagang kecil, petani "gurem", peternakan (sistem gaduh), industri rumahan, kerajinan dan lain-lain.

Dari sifat dan karakter mereka tentang kejujuran, gotong-royong, kepedulian, tenggang-rasa, kebersamaan, bantu membantu dan semangat berbagi, aku senantiasa belajar dan terbukalah "mata hati", bahwa kebahagiaan sejati sesungguhnyalah berada dan bertahta dalam diri kita sendiri.

Jika kami semua, yang mengemban tugas dan amanah untuk mengawal program pemberdayaan yang bernaung di bawah bendera Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) berstatus "relawan" tentu tak perlu kami persoalkan, sebab sebagai lembaga non profit, pekerjaan kami adalah murni perjuangan, namun bersifat profesional dengan pertanggung jawaban laporan melalui Rembug Warga Tahunan (RWT) setahun sekali beserta audit dari lembaga independen terkait.

Tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri menyaksikan dan menjadi bagian dari denyut dan geliat hidup KSM-KSM, yang terus bertumbuh dan berkembang meski pandemi terus menghadang. Kebahagiaan yang tak dapat dinilai dari sekadar uang. Dan aku akan tetap setia di jalur ini sebagai relawan, dan sebisa-bisanya memberi kemanfaatan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Cukup tidak cukup pasti semesta akan cukupkan, sebagaimana bunyi quote hebat, "cukup", itu "lebih dari cukup" dari Marchella FP, dalam buku "Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini." Itulah kesejatian kebahagiaan.

Yogya, akhir Desember 2020.

KEMBALI KE ARTIKEL