Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bola Pilihan

European Super League: Kita Dukung atau Boikot?

19 April 2021   13:41 Diperbarui: 19 April 2021   14:28 558 25

Pagi ini (19/04), seorang jurnalis sepak bola ternama Fabrizio Romano, membuat sebuah pengumuman yang sangat mengejutkan. Ia mengumumkan kalau akan ada 12 tim besar Eropa yang akan menjadi partisipan European Super League alias ESL.

Ke-12 tim tersebut antara lain adalah Barcelona, Real Madrid, dan Atletico Madrid (Spain), lalu ada Manchester United, Manchester City, Tottenham Hotspur, Chelsea, Liverpool dan Arsenal (England), serta AC Milan, Inter Milan, dan Juventus (Italy).

Sejauh ini, sepertinya berita tersebut valid, karena berasal dari Fabrizio Romano yang memang terkenal dengan akurasi berita yang diberikannya. Jadi, bisa dibilang ke-12 klub yang disebutkan diatas, telah setuju bergabung dengan ESL, yang secara tidak langsung merupakan tandingan FIFA dan UEFA.

Dikabarkan juga, kalau format kompetisi dirancang untuk 15 tim pendiri serta 5 klub tambahan berdasarkan prestasi di kompetisi domestik, jadi masih ada 3 slot tersisa bagi klub-klub elite Eropa untuk bergabung sebagai tim pendiri. ESL sendiri akan diketuai oleh Florentino Perez, dan Andrea Agnelli serta Joel Glazer selaku asistennya.

Sejauh ini, jumlah suporter yang mengecam adanya European Super League memang lebih dominan ketimbang yang mendukung, namun bukan berarti jumlah pendukung ESL pun sedikit.

Berdasarkan poll yang dilakukan akun Instagram @433, ada 61.373 orang yang terang-terangan menolak ESL dilaksanakan. Sedangkan dari kubu pendukung ESL, ada sekitar 7929 suara. Vote hanya diambil hingga pukul 11:00 tanggal 19 April 2021, dan ketika artikel ini diterbitkan angka yang tertera sudah berubah.

FIFA dan UEFA sendiri mengecam adanya ESL dengan menyebut kompetisi tersebut hanya didasari kepentingan pribadi. Mereka pun kompak akan mengambil langkah apapun untuk mencegah kompetisi ini terlaksana.

Beberapa langkah yang diambil adalah dengan melarang pemain ESL untuk bermain di kompetisi manapun, termasuk larangan membela negara mereka di Piala Dunia. UEFA pun mengajak suporter dan politisi untuk bersama-sama menolak ESL.

Tapi sebenarnya, apa sih yang membuat kompetisi European Super League ini begitu dikecam? Berikut sudah saya rangkum 3 alasan pokok kenapa European Super League banyak ditolak, khususnya oleh tim-tim kecil dan kalangan suporter.

1. Kompetisi UCL dan Lokal Kehilangan Keseruannya

Efek domino pertama adanya ESL adalah jelas kompetisi UCL dan kompetisi lokal macam Premier League, Serie A, La Liga, dan lainnya, akan kehilangan keseruannya. Tak hanya keseruan, mereka juga berpotensi mengalami kerugian dari sisi hak siar dan popularitas.

Ambil contoh La Liga misalnya. Seperti yang sudah menjadi rahasia umum selama ini, popularitas La Liga berasal dari duo raksasa Barcelona dan Real Madrid, plus Lionel Messi.

Sekarang, bayangkan Barcelona dan Real Madrid tidak ada di La Liga. Apakah penonton masih akan mengikuti La Liga? Tentu tidak. Karena paling-paling pertandingan seru yang bisa ditonton paling hanya Sevilla, Valencia, dan Real Sociedad.

Masalahnya, pendukung suporter ketiga klub diatas, tidak sebanding jumlahnya dengan suporter Barcelona dan Real Madrid. Jangankan 3 klub diatas, total suporter seluruh klub La Liga pun apabila digabung, saya masih belum yakin bisa mengalahkan jumlah suporter Barcelona dan Real Madrid.

Hal yang sama terjadi di kompetisi lainnya, yang kehilangan klub elitenya masing-masing. Bayangkan, Super Big Match Premier League nanti adalah Leicester City vs Everton. Super Big Match Serie A adalah Atalanta vs Napoli. Tentu pertandingan tersebut kalah pamor dengan El Classico ataupun Derby Manchester.

UCL pun akan hambar rasanya. Tanpa adanya saingan dari klub Italia, Inggris, dan Spanyol, UCL hanya akan menjadi rebutan antara Paris Saint Germain (PSG) dan Bayern Munich saja.

Kalau sudah begitu, perlahan fans akan bosan dan mau tidak mau, berpindah menonton European Super League (ESL). Dan otomatis, hak siar ESL akan naik drastis seiring dengan turunnya hak siar di kompetisi lokal dan UCL.

2. Tidak Ada "Underdog Stories" di Masa Depan

Menilik dari rancangan kompetisi ESL itu sendiri, dapat kita simpulkan bahwa tidak akan ada lagi "Underdog Stories" atau kisah-kisah klub kecil yang secara mengejutkan berhasil menjadi juara.

Beberapa cerita "Underdog Stories" yang fenomenal misalnya FC Porto dan Mourinho yang menjuarai UCL di tahun 2003/2004, atau Leicester City yang secara mengejutkan tampil sebagai kampiun Premier League tahun 2015/2016.

Cerita-cerita "Fairy Tales" macam itu tak akan bisa kita temui lagi andaikata ESL benar-benar jadi dilaksanakan. Bagaimana tidak, coba sebut siapa "underdog" di ESL saat ini? Tidak ada.

Tim-tim yang dianggap "lemah" seperti Arsenal, Atletico, AC Milan, hingga Tottenham Hotspur pun punya kans yang sama besarnya untuk menjadi juara. Jadi, apakah saya akan kagum andaikata Arsenal jadi juara ESL? Hmm, "B aja" sih ya sepertinya, enggak kaget-kaget amat tuh. Karena memang pada dasarnya klub-klub yang bertanding di ESL memang hanya klub yang "Dianggap elite" saja.

3. ESL Menggunakan Closed-system yang Memperkaya Klub Pesertanya

Seperti yang sudah banyak diketahui juga oleh penggemar sepak bola, ESL sendiri dianggap sebagai bentuk keegoisan para pemilik klub yang money-oriented, dan dianggap menodai prinsip sepak bola yang berdasarkan "Open Competition" atau persaingan terbuka.

Karena pertandingan hanya akan berfokus di klub yang itu-itu saja, maka otomatis klub yang sudah tersebut kaya akan semakin kaya, dan klub lain (diluar ESL) akan semakin kehilangan pundi-pundi uang mereka. Bahkan bukan tak mungkin, cepat atau lambat, klub diluar ESL akan mengalami kebangkrutan akibat kurangnya pemasukan.

Bila hal itu benar-benar terjadi, maka semakin terlihat bahwa sepak bola di era modern ini yang semakin money-oriented, sehingga terciptanya kesenjangan antara klub-klub besar dan klub-klub dibawahnya.

Dan seperti yang kita singgung sebelumnya, tak akan ada lagi klub-klub yang dianggap semenjana macam FC Porto, Leicester City, ataupun West Ham di musim 2020/2021 ini di masa depan. Karena klub-klub yang bertanding di ESL memang hanya klub yang sudah besar, dan klub "kecil" tak punya kesempatan sama sekali untuk ambil bagian.

***

Namun, agar tak terkesan artikel yang hanya menyajikan satu sisi perspektif, akan saya sajikan argumen balasan dari sudut klub-klub yang menyetujui ESL.

Saya menduga, klub-klub yang mendukung ESL ini adalah mereka yang kecewa dengan kepengurusan para petinggi FIFA dan UEFA, hingga akhirnya secara terang-terangan mendirikan ESL sebagai tandingan/perlawanan terhadap UCL (FIFA dan UEFA).

Kekecewaan tersebut adalah mengenai para petinggi organisasi tersebut yang seringkali terlibat tindakan korupsi, yang secara langsung juga memakan pundi-pundi uang yang harusnya menjadi milik klub-klub besar yang bertanding di UCL tersebut.

Di 2019 misalnya, ada nama Manuel Burga, Eduardo Deluca, dan Jose Luis yang terlibat korupsi. Atau di 2017, dimana mantan Direktur Keuangan FIFA yakni Julio Grondona, yang terlibat suap terkait hak siar. Belum lagi yang terbaru adalah skandal suap untuk pemenangan Rusia dan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022.

Namun yang paling mempengaruhi adalah tidak transparannya pembagian hasil dari pertandingan para klub-klub besar tersebut di UCL. Salah satu sumber bahkan menyebut penghasilan mereka apabila ikut ESL bisa minimal 5x lebih besar ketimbang UCL.

Yup, klub-klub besar yang menyetujui ESL merasa UCL terlalu "pelit" soal pembagian hasil dari pertandingan mereka dan uang yang diberikan dari hasil bertanding di UCL tidak sebanding dengan pengeluaran dan effort yang mereka berikan.

Dengan dua alasan pokok tersebutlah, akhirnya ke-12 klub besar tersebut membulatkan tekat mengikuti ESL dan sepertinya akan "bodoamat" dengan sanksi yang diberikan UEFA dan FIFA.

***

Untuk penulis sendiri, posisinya masih sama seperti sebelumnya, yakni menolak European Super League. Namun, stance penulis masih bisa berubah kedepannya mengingat alasan klub-klub pendukung European Super League itu sendiri juga terbilang kuat dan valid. Bagaimana tanggapan Kompasianer?

KEMBALI KE ARTIKEL