Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Batas

8 Juli 2020   17:59 Diperbarui: 8 Juli 2020   18:39 64 3



Jika batas sudah dilampaui maka sebuah kesetimbangan tidak lagi bisa dikatakan setimbang. Jika batas sudah dilampaui maka sebuah reaksi kimia yang tadinya mengarah ke kanan, bisa berbalik menjadi ke kiri bila itu adalah reaksi reversible. Jika batas sudah dilampaui, maka sebuah koordinat sudah bukan lagi sebuah wilayah A, melainkan sudah menjadi wilayah B. Jika batas sudah dilampaui, saat berkendara di jalan tol, maka akan ada tanda nama sebuah wilayah yang dicoret. Melintang. Oleh karenanya sering ada gurauan "Jakarta Coret". Artinya, ya, sudah tidak lagi dalam teritorial Jakarta. Jika batas dilampaui, maka bayangkan kita sedang menuju luar angkasa, tak lagi kita ada di mesosfer, melainkan sudah berada di termosfer. Jika batas sudah dilampaui, maka zona waktu pun bisa berganti. Tak lagi WIB, melainkan WITA. Dan seterusnya.

Maka jika sebagai tamu, kita sudah melampaui batas saat berkunjung ke perkampungan adat, barangkali kita tidak bisa lagi disebut sebagai tamu.

Masyarakat Baduy baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar, tentunya tidak bisa "disamakan begitu saja" dengan kita. Cara mereka meneguhi adat istiadat, adalah jalan hidup. Maka bila benar-bear kita datang ke sana sebagai seorang tamu, barangkali harus ditata terlebih dahulu mulai dari niatan yang ada di hati.

Apabila kini, kita, sudah mulai melampaui batas, maka ada baiknya semua pihak menginjak dalam-dalam dahulu "rem" sejenak dua jenak tiga jenak, untuk saling introspeksi. Jangan karena masyarakat Baduy itu sangat santun dan tidak pernah menolak kedatangan tamu karena adanya pesan leluhur, maka lantas kita terlalu berbondong-bondong ke sana. Sudah berbondong-bondong, jam malam pun dilanggar pula. Jangan karena mereka penuh senyum, maka kita bisa seenaknya membuang sampah di wilayah mereka. Jangan karena daya tarik uang, maka semua pihak bernyala-nyala mata berlomba-lomba, mengumpulkan sebanyak-banyaknya. Hingga kita lupa.

Kita. Ya kita semua. Para tamu ini, para pembawa tamu, dan komponen di dalam sistem masyarakat Baduy sendiri yang tanpa sadar turut menjadi bagian dari sistem pariwisata yang sengaja tak sengaja serta tanpa disadari. Sebuah sistem terbangun secara sangat perlahan. Tanpa terasa. Kita. Kita semua.

Jika menjadi tamu, maka bersilaturahmilah.

Barangkali perlu batas jumlah. Hanya sekian orang dalam satu minggu, misalnya.
Barangkali perlu batas waktu. Hanya Sabtu atau Minggu, misalnya. Hanya jam sekian sampai jam sekian, misalnya.
Barangkali perlu batas-batas kaidah, dan "paugeran" yang diterjemahkan ulang, untuk dipatuhi. Dikenai sanksi untuk pelanggarnya.

Tidak semata-mata komoditi.
Mengunjungi Baduy adalah mengunjungi "leluhur terdekat" kita. Seperti para pejalan yang menuju gunung. Menuju ketinggian. Menuju tempat yang "luhur".

Kita semua tahu seberapa porak porandanya Baduy karena ulah para "tamu". Baca saja kejadian ekstrim yang terjadi beberapa waktu lalu. Kriminal. Sadis.
Kejadian itu - barangkali - adalah sebuah kaca benggala dimana sudah sedemikian "sadisnya" kita kepada mereka. Baduy tidak pernah bernada hentak dalam bicara. Tapi apakah mereka tidak terluka?

Apakah kita akan mengulang lagi tabiat "para penjajah" negeri ini?

Tidak, Kawan, saya bukan ahli antropologi yang paham betul mengenai Baduy. Tapi setidaknya, saya memiliki rasa dari hati untuk mereka.

Jangan lampaui batas.
Jika itu tuntunan, perlakukan ia sebagaimana ia adanya. Sebagai tuntunan.
Bukan tontonan.

(Tulisan ini adalah juga upaya saya untuk introspeksi diri)

Rainan Pager Wesi, 8 Juli 2020.

KEMBALI KE ARTIKEL