Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Mengenang Edhi Sunarso, Seniman Pematung Legendaris Indonesia

19 Agustus 2019   15:40 Diperbarui: 19 Agustus 2019   15:48 200 18

Menyusuri Kota Modern Metropolitan Jakarta tentunya sering dijumpai beberapa monumen berupa patung-patung dan megah dan menjadi landmark ataupun icon kota.

Seperti halnya Patung Selamat Datang di depan di sekitar Hotel Indonesia, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, dan ataupun Patung Dirgantara di perempatan kawasan Pancoran.

Namun sepertinya tak banyak yang mengetahui siapakah sebenarnya tokoh dibalik  pembuatan patung-patung tersebut.

Oleh karena itu, Penulis mencoba membagi sedikit tulisan mengenai pembuat patung nonumental tersebut.

Menurut berbagai sumber dan informasi bahwa ternyata tokoh dibalik berdirinya monumen patung tersebut adalah seorang seniman patung yaitu Bapak Edhi Sunarso.

Diceritakan bahwa garis hidup yang ditempuh oleh beliau dilalui dengan penuh keprihatinan.
Sejak bayi usia tujuh bulan telah terpisah dari orang tua kandungnya dan dibawa oleh orang tua angkatnya ke Jakarta.

Dari orang tua angkatnya Bapak Edhie Sunarso mengetahui bahwa dirinya lahir di Salatiga pada hari Selasa Wage tahun 1932, tanpa diketahui tanggal dan bulannya.

Pada suatun ketika saat beliau bersekolah di HIS Kemayoran tahun 1939 terjadi musibah kebakaran besar yang disebabkan oleh jatuhnya pesawat di daerah perkampungan.

Saat itu beliau sedang bersekolah dan sejak peristiwa tersebut beliau tak lagi pernah bertemu dengan sosok orang tua angkatnya. Lalu semenjak itu beliau dibawa oleh salah seorang gurunya dan disekolahkan di daerah Pegaden Baru, Subang.

Setelah para Proklamator Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia maka muncul kesadaran dari para pemuda untuk menjaga kemerdekaan Indonesia dari gangguan pihak asing.

Sama seperti anak-anak seusianya, sejak usia 13 tahun Bapak Edhi Sunarso juga sudah turut bergabung berjuang dengan para pemuda pejuang lainnya di sekitar daerah Subang.

Saat itu beliau menjadi kurir surat dan peluru, kemudian karier beliau meningkat menjadi komandan tim sabotase. Tim tersebut bertugas mengganggu konvoi pasukan Belanda yang melintas di daerah Subang, Kalijati, dan Pamanukan.

Sampai akhirnya beliau tertangkap juga oleh pasukan Belanda di daerah Pegaden Baru. Saat itu usianya baru 14 tahun. Meskipun masih muda belia, pihak penjajah Belanda menganggap Edhi Sunarso merupakan pejuang yang sangat berbahaya maka beliaupun ditahan secara berpindah-pindah mulai dari Subang, Cibinong, Pamanukan, Purwakarta, Bandung, hingga akhirnya dibawa ke Nusakambangan.

Namun karena usianya yang masih muda belia maka beliaupun akhirnya dikembalikan ke penjara Bandung. Kemudian selama menjalani masa tahanan tersebut bapak Edhi Sunarso menekuni seni melukis dan belajar bahasa Inggris.

Kemudian berkat jerih payah usaha dari organisasi wanita Persatuan Ibu-Ibu Rantai Emas Negara Pasundan, akhirnya Bapak Edhi Sunarso dibebasan dan pada saat itu usianya telah menginjak 17 tahun.

Lalu sejak saat itu beliau pergi ke Yogyakarta menyusul induk pasukannya yang telah hijrah
ke Yogyakarta. Perjalanan menuju Yogyakarta pun tidak dilaluinya dengan mudah karena terhalang oleh garis demarkasi yang dikenal dengan nama Garis Van Mook.

Di Yogyakarta beliau sempat bertemu dengan orang tua kandungnya sendiri dan disinilah diketahui bahwasanya memiliki nama lahir Wiryanto. Namun Edhi Sunarso akhirnya memilih meninggalkan keluarga dan melanjutkan perjalanannya ke induk pasukannya.

Masa Berkarya beliau sebagai Seniman
dimulainya di Yogyakarta setelah menemukan informasi keberadaan pasukannya, ternyata didapat informasi bahwa mereka telah longmarch kembali ke Jawa Barat.

Pada saat itu kondisi kota Yogyakarta penuh dengan pemuda- pemuda yang pegang senjata dan bergaya seperti cowboy. Selain itu di setiap sudut kota, tembok-tembok bangunan dipenuhi lukisan- lukisan bertema perjuangan.

Karena terbawa suasana dengan apa yang terjadi pada masa itu Bapak Edhi Sunarso akhirnya turut serta melukis di sebuah tembok.

Pada saat itu beliau berkenalan dengan seorang pemuda bernama Hendra Gunawan seorang yang berprofesi sebagai pelukis dan kebetulan saat perkenalan tersebut ternyata keduanya  sama-sama berasal dari Jawa Barat.

Oleh Hendra Gunawan, Edhi Sunarso kemudian ditawari menjadi siswa luar biasa di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI). dan beliaupun tak menampik penawaran tersebut maka sejak itu beliau mulai belajar di ASRI.

Selain belajar di ASRI, Edhi Sunarso juga
bergabung dengan sanggar Pelukis Rakyat yang dipimpin oleh Hendra Gunawan. Pada
perkembangan selanjutnya sanggar Pelukis Rakyat mulai terpengaruh dengan seniman- seniman Lekra.

Hal tersebut  membuat Edhi Sunarso tidak nyaman dan akhirnya beliau memutuskan keluar dari sanggar Pelukis Rakyat.

Pada tahun 1953 Edhi Sunarso mengikuti ajang lomba patung dunia di London yang mengusung tema The Unknown Political Prisoner Prisoner.

Saat itu beliau menjadi satu-satunya pematung dari Asia yang mengikuti perlombaan terdebut. dalam ajang lomba tersebut Bapak Edhi Sunarso membuat patung sosok tahanan dari Boven Digoel.

Setelah melalui rangkaian penilaian oleh dewan juri maka karya Edhi Sunarso diumumkan menduduki peringkat ke-27. Namun beberapa hari kemudian beliau membaca sebuah artikel tulisan karya Prof. Sardjito dari UGM yang menyatakan wakil dari Indonesia menempati peringkat kedua.

Usut punya diusut ternyata hasil penilaian dewan juri sebelumnya mendapatkan berbagai protes keras karena dianggap tidak objektif, sehingga diadakan penilaian ulang dengan merahasiakan nama pematung dan negara asal.
 
Setelah dinilai ulang ternyata buah karya Bapak Edhi Sunarso menduduki peringkat kedua. Maka berlatar belakang dari itu akhirnya semenjak saat itu beliau memantapkan dirinya untuk meniti karir sebagai seorang seniman pematung profesional. Suatu saat ada momen yang selalu dikenangnya yaitu saat perkenalannya dengan Presiden Soekarno saat acara peresmian Tugu Muda di Semarang pada tahun 1953.

KEMBALI KE ARTIKEL