Mohon tunggu...
KOMENTAR
Travel

Menikmati Lintasan Sejarah di Museum Wayang Sendang Mas Banyumas

25 Februari 2012   09:50 Diperbarui: 25 Juni 2015   09:35 1956 3

Pukul 09.00 WIB, Panas terik, lembab menerpa perjalanan saat kami berboncengan berkendaraan motor dari Purwokerto menuju kota lama Banyumas, ditempuh dalam duapuluh menit. Dalam rangka napak tilas kenangan bersama teman yang datang dari Samarinda Kalimantan Timur sedang cuti. Kala waktu tinggal di Purwokerto 38 tahun yang lalu suka bareng nonton pagelaran wayang kulit.

Tepat, Pukul 09.20 WIB kami tiba di Museum Wayang Sendang Mas Banyumas. Sesampainya di dalam kami ditemani penjaga Museum Pak Indra. Dari penjelasanya, kami baru tahu nama Museum ada dua versi nama Sendang Mas. Versi pertama merupakan kependekan dari Seni Pedalangan Banyumas untuk memberi nama gagrag Banyumasan yang berbeda dengan gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta. Versi kedua menyebutkan nama Museum Sendang Mas berasal dari nama sumur kecil di belakang pendopo Si Panji yang sampai sekarang masih mengeluarkan air. Diameter sumur 0,5 meter dengan kedalaman kurang lebih 2 meter.

Museum ini berdiri 31 Desember 1983 atas prakarsa bapak Soepardjo Rustam, bersama Senawangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia) dan tokoh-tokoh Banyumas lainnya. Museum ini, berada di kompleks Pendopo Duplikat Si Panji, Banyumas, di jalan Kawedanan no. 1 atau Jl. Gatot Soebroto No. 1. Dulu merupakan bekas pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas sebelum dipindah ke Purwokerto. pada masa pemerintahan bupati ke-14 RT Martadireja II (1832 - 1882), yang berjarak sekitar 15 kilometer dari  Purwokerto. Museum  wayang Sendang Mas menempati bangunan yang bercirikan limasan berada diatas tanah seluas 0,20 Ha dengan luas bangunan seluas 252 m2.

Koleksi Museum Sendang Mas, antaralain Wayang Gagrag Banyumasan tempo dulu dan sekarang, Gagrag Yogyakarta, Wrayang Krucil, Wayang Prajuritan, Wayang Kidang Kencana, Wayang Golek Purwa, Wayang Golek Menak, Wayang Suluh, Wayang Beber, Wayang Kulit Purwa, Wayang Suluh, Wayang Golek Purwo, Wayang Golek Menak, Wayang Krucil, Wayang Beber, Gamelan Slendro, Calung/Angklung, Kaligrafi Huruf Jawa, Wayang Suket/Adam Marifat, Banyumas Tempo dulu, dan masih banyak lagi. Selain itu terdapat benda Tosan Aji, Buku perpustakaan dan arkeologi yang memamerkan sejumlah peninggalan peralatan dari bahan baku batu dan kayu.

Di museum, kami juga melihat dan mengetahui secara persis kekhasan gagrag Banyumasan, terletak pada salah satunya adanya tokoh Bawor yang pada gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta disebut sebagai Bagong. Gending yang ditampilkan pada gagrag Banyumasan adalah gending kembangglepang dan gending-gending Banyumasan lainnnya, sedangkan pada gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta dipakai gagrag Ngayogyakarta maupun Surakarta gending Sulukan, pangkur, dan sebagainya.

KEMBALI KE ARTIKEL