Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bisnis Artikel Utama

Nasionalisme Timnas di SCM Summit

15 April 2015   19:20 Diperbarui: 17 Juni 2015   08:03 23 1

Timnas Indonesia adalah tim yang selalu dicintai penggemarnya. Tak pupus walau telah berkali kali kalah. Terjerembab dalam pahitnya tersungkur diajang internasional. Namun itu tetap saja tak membuat Timnas Indonesia dimusuhi dan ditinggalkan penggemarnya.

Di ajang SCM Summit penulis melihat semangat itu. Walau ketika termin tanya jawab dibuka pada sesi tujuh pagi hari ini. Luapan kekesalan dari sebagian penyedia barang dan jasa dalam negeri ketika mengajukan pertanyaan tetap saja kecintaan kepada industri hulu migas terpancar dari 'protes' mereka. Buktinya mereka tetap meneruskan untuk mengikuti rangkaian  SCM Summit hingga sore hari.

Memang produksi dalam negeri belum maksimal dalam mengisi rantai suplai. Entah karena prasyarat kontraktor yang tak terpenuhi atau kapasitas produksi yang tak sesuai tenggat waktu. Serbuan produk impor yang nyatanya lebih miring memang membuat pelaku produsen dalam negeri mengelus dada , sakitnya tuh disini. Persaingan usaha antar produsen di Industri hulu migas memang mengandung bobot teknologi dan bobot investasi yang tak sedikit.

Namun kecintaan mereka kepada produksi dalam negeri tak luntur. Dengan segala fasilitas yang terbatas, penyedia barang dan jasa dalam negeri terus merangkak dan tak mengenal kata mundur. Dalam sebuah wawancara dengan beberapa produsen dalam negeri. Tak ada kata lain selain tetap berproduksi walau serapan produksi dalam negeri belum beranjak secara signifikan. Kandungan TKDN yang terus digenjot pemerintah. Transaksi Bank Nasional juga terus membuat pundi keuangan bank nasional terisi. Belum lagi pekerja Indonesia yang menjadi mayoritas di Industri hulu migas.

Pada Diskusi dan pemaparan sesi tujuh terungkap , ada kendala tumpang tindihnya ketentuan yang membuat harga barang dalam negeri tidak ekonomis dan cenderung menjadi lebih mahal. Belum lagi tingkat tender yang hanya mensyarattkan angkaTKDN pada kisaran  15  %. Tentu hal ini akan mengalahkan produk dalam negeri.

Melihat gejala ini , Hery Margono selaku Ketua Divisi SKK Migas bidang rantai suplai membuat terobosan dengan vendor development. Ada celah dimana timbul kesenjangan antara syarat yang diminta kontraktor KKS dengan hasil produksi penyedia jasa dan barang dalam negeri. Celah ini bisa dikurangi dan ditambal dengan upaya pembinaan yang terarah dan terstruktur sesuai hasil pemetaan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Hasil yang didapat tidaklah seperti membalikkan tangan. Proses pembinaan para vendor tentu akan melibatkan beberapa pihak termasuk kementerian . Termasuk melibatkan para peneliti dan pengembang teknologi dalam negeri. Karena kita tahu

KEMBALI KE ARTIKEL