Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Sharing Hulya 4

21 Oktober 2019   21:52 Diperbarui: 21 Oktober 2019   21:59 1 0

Arab Saudi

Dulu saya kira Arab identik dengan Islam. Yaa ga salah juga siih...bagi umat muslim tanah arab, khususnya Mekah dan Madinah adalah tanah haram (tanah suci), ada Ka'bah di Mekah, makam Rasulullah di Madinah, dan jejak-jejak perjuangan Rasul beserta kaum muslimin.
Saya mau berbicara mengenai Arab Saudi khususnya. Tanpa bermaksud SARA, rasis, mohon maaf saya tidak bermaksud untuk menjelekkan image sebuah negara, pun di dalamnya kepemimpinan raja. Saya hanya sedikit terkesima akan perubahan kebijakan pemerintah Arab.
Diketahui, Arab Saudi banyak mengadopsi syariat Islam ke dalam peraturan fan kebijakan pemerintah. Kalau boleh saya tuturkan terutama kebijakan terhadap wanita. Misal saja, Arab Saudi pernah mengeluarkan larangan wanita untuk melakukan beberapa aktivitas, seperti: mengendarai mobil/motor sendiri, mungkin ini bisa dikaitkan dengan anjuran syariat Islam agar wanita hanya pergi ke luar bersama mahramnya. Saya juga baru tahu bahwa dulu sempat diberlakukan larangan wanita untuk mengikuti ajang kompetisi olahraga apapun jenisnya dan larangan untuk mencoblos dalam pemilu.
Ada beberapa perubahan kebijakan pemerintah terhadap rakyatnya, yaitu dengan dicabutnya larangan seperti: wanita boleh mengendarai mobil/motor sendiri, mengikuti ajang olahraga, memilih hingga mencalonkan diri dalam pemilihan.
Perubahan dalam kebijakan di atas sebagian dimaknai sebagai kemajuan, pemberian kesempatan yang sama antara pria dan wanita. Sebagian lainnya memaknai kebijakan jni adalah sebuah kemunduran...( You know what I mean, so I will not explain any further)
Hal yang baru-baru ini membuat terkejut adalah "konser BTS di Arab". Saya bukan ngefans bukan pula haters. Cuma saya sedikit terheran di pemerintah arab saudi yang dulunya konservatif, perlahan membuka diri tak mau tertinggal dari negara-negara liberal dunia, ikutan demam K-Pop. Sebelum BTS, ada SuJu yang lebih dahulu mengetuk pintu Saudi.
Bahasannya bisa panjang, mulai dari segi budaya, ekonomi, agama, hingga politik. Sekali lagi, Hulya ngeri kalau mau bahas detil, ngeri disomasi, dipenalti, bahkab dijeruji. Maksud Hulya nulis ini, Cuma pengen ngeluarin isi kepala yang sedikit bingung harus ikutin trend apa nilai Islam konservatif (waduh salah lagi kalo nulis konservatif, maksud Hulya syariat Islam yang sarat kehati-hatian).
Belum lama Hulya nonton youtube salah seorang penceramah Indonesia ternama. Beliau tanpa ragu mengatakan bahwa nonton bioskop haram hukumnya. Sebabnya adalah: 1) kegiatan nonton film di bioskop tidak merugikan apabila ditinggalkan; 2) banyak kegiatan lain yang lebih bermanfaat dikerjakan di rumah atau di majelis ilmu; 3) hati-hati maksiat dan mudharat di bioskop (karena kan di sana sudah pasti gelap, tidak ada hijab bagi laki-laki dan perempuan, dalam sebuah ruangan tertutup). Kira-kira begitu yang beliau sampaikan. Hulya sih merasa penjelasan ustadz masuk akal, cuma memang Hulya akui belum bisa sepenuhnya menjalankan hal-hal syar'I seperti itu, dan seringkali ada pemikiran liberal muncul Hulya cenderung ikut yang lebih "longgar". Hulya masih belajar teman-teman, jadi maafkan kebodohan diri ini.
Nah, nyambung lagi ke Arab Saudi, pemerintahnya kini membolehkan warganya untuk menikmati film di bioskop, padahal dulu sempat dilarang.
Mungkin untuk sebagian kita akan mikir, yaa gapapa...yaa bagus...ada kemajuan...lebih terbuka terhadap dunia luar...dsb. Tapi sempat juga terbersit, wahh gila yaa....kalau Arab Saudi, di mana muslim banyak "berkiblat" aja udah segitu terbukanya, apa kata netijen Indonesia yang beratus ribu kilometer jauhnya dari sumber kebudayaan islam?
Hulya di sini terketuk nulis gini ga maksud menggurui, atau sok pintar. Cuma mau kasih teropong aja, supaya kita lebih berwawasan dan berpikir lebih jauh lagi.
Wassalam..

KEMBALI KE ARTIKEL