Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Pilihan

Rekonstruksi Pendidikan: Budaya dan Moralitas

2 Mei 2020   07:42 Diperbarui: 2 Mei 2020   08:11 170 0
“Pendidikan bukan hanya menjadikan manusia Indonesia cerdas dan pintar, tapi upaya memanusiakan manusia”.
- Joko Widodo

5 tahun yang lalu, presiden Joko Widodo berkunjung ke jambi menemui suku anak dalam, tepatnya di desa bukit Suban, kecamatan air hitam, kabupaten sarolangun. Tentunya ini agenda penting, sehingga kehadiran presiden begitu di sorot media nasional dan regional setempat. Salah satu agenda kunjungannya ialah menawarkan sebuah tempat tinggal dan pendidikan yang layak bagi suku anak dalam yang biasa kami sebut sanak (Kubu) istilah jambi.

Ya, pentingnya pendidikan dalam peradaban suatu negara, dibangun dari kelompok kecil yang kita sebut sebagai masyarakat, berkelompok, majemuk, yang hingga hari ini masih ditemukan hidup berdampingan, saling merangkul lahir di hutan rimba.

Tidak ada perbedaan di antara kita melainkan sebuah tempat tinggal. Jauh sebelum presiden datang, anak anak mereka telah hadir sebagai siswa-siswi yang ikut berproses dalam pendidikan sekolah dasar, dan jenjang yang lebih tinggi. Prestasi yang patut kita apresiasi adalah lulusnya  seorang prajurit yang hidup pada keluarga rimba, salut.

Tentunya warga kompasianer pasti terkejut bukan?

Barangkali sempat ada berfikir masih jauh dari kata modern. Ya, tradisi budaya masih melekat di tubuh mereka, tapi mind mereka sama seperti kita pada umumnya.

Pertanyaannya, apa yang menjadi motivasi mereka?
Mereka menjawab. “Pendidikan”.

Inilah sebuah peradaban yang sesungguhnya dalam membentuk karakter anak bangsa, pentingnya pendidikan anak sejak usia dini. Pendidikan perlu dibangun atas kesadaran dan support negara dalam membangun karakter dan mental anak agar semangat dalam belajar dan upaya membangun moralitas diri.

Pembukaan UUD 1945 Alinea 4, menyebutkan"melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial". Artinya pendidikan adalah cita cita besar dalam kehidupan kita bernegara.

Kemudian sejauh mana perkembangan untuk pendidikan hari ini? Apakah sejalan dengan cita-cita negara atau masih berlanjut pada kampanye jokowi 5 tahun lalu dalam mengunjungi taman rimba tersebut.

Tan pernah berkata. “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan”.

Tentunya pendidikan menjadikan kita untuk cerdas dalam mengambil keputusan, serta tiada henti untuk selalu belajar. Kemudian bagaimana dengan sasaran akhir yang disebut Tan yaitu memperhalus perasaan?

Ini yang menjadi ambiguitas  dalam kacamata publik melihat para akademisi, aktivis, praktisi yang lahir dari rahim pendidikan yang tinggi, sementara sering terjadi pertikaian, perbedaan pendapat dan seolah-olah paling benar.

Bagaimana kita untuk menjawab dari kalangan akademisi?

Kita belum tuntas dalam poin akhir “memperhalus perasaan” tentunya ada kaitannya dengan moralitas seperti apa yang dikatakan Tan, ini menjadi kritikan pedas buat kita, bagaimana pun kita dalam menyampaikan sebuah pesan perlu adanya etika yang harus kita jaga. Yaitu sebuah kebenaran berlandaskan pada moralitas.

Poin penting tujuan pendidikan menurut Tan ini tentunya menjadi landasan kita dalam berprilaku sebagai seorang yang terdidik yang lahir pada pendidikan modern saat ini.

Sejati seorang yang terdidik, apa yang mereka dengar, ucapkan, selaras dengan perbuatannya. Sehingga kita bisa melaksanakan apa yang di maksud Tan dalam tujuan pendidikan tersebut dalam aktualisasi di kehidupan masyakarat.

Selamat hari pendidikan nasional
Tut Wuri Handayani.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun