Mohon tunggu...
KOMENTAR
Travel Pilihan

Minum Cap Tikus, Pengunjung Jadi Pandai Menari

3 Juni 2020   04:03 Diperbarui: 3 Juni 2020   10:37 126 27

Perjalanan dari Jakarta menuju Kabupaten Halmahera Barat Provinsi Maluku Utara cukup melelahkan. Wisatawan yang akan berkunjung ke Halmahera Barat harus menggunakan pesawat dari Jakarta ke Makassar. Kemudian ganti pesawat tujuan Ternate.

Tiba di Ternane, perjalanan ke Halmahera Barat lebih menegangkan. Tidak ada transportasi udara, satu-satunya jalan harus melintasi laut. Warga Ternate sudah terbiasa menggunakan speed boat (kapal cepat) ke Halmahera Barat. Rombongan kami akhirnya mendatangi Pelabuhan Dufa Dufa untuk mendapatkan speed boat dengan tujuan Teluk Jailolo Halmahera Barat.

Rute Ternate-Teluk Jailolo merupakan laut dalam dengan ombak yang cukup besar. Karena speed boat dipacu dengan kecepatan tinggi, beberapa penumpang sering terombang-ambing. Bagi warga setempat mungkin hal itu sudah biasa. Namun anggota rombangan kami merasa kaget. Bahkan ada satu anggota rombongan mukanya membentur badan speed boat, hingga pelipisnya berdarah.

Benar-benar pengalaman yang menakutkan. Perut serasa mual, karena speed boat naik turun menghantam ombak. Beberapa penumpang yang seperjalanan dengan kami, bercerita kalau lagi beruntung, di lintasan laut Ternate-Teluk Jailolo bisa bertemu dengan kawanan lumba-lumba.

Akhirnya sampai juga di Teluk Jailolo dengan selamat. Di sana bisa menikmati keindahan Teluk Jailolo, yang perairannya lebih tenang. Cukup terkenal keindahan Teluk Jailolo, hingga grup musik sekelas Band Noah tertarik untuk manggung dan tercatat sebagai band pertama pentas di atas air laut.

Kunjungan kami berlanjut ke rumah adat Halmahera Barat yang disebut Sasadu. Di tempat tersebut tampaknya disiapkan acara penyambutan. Warga setempat memang terbiasa kalau ada tamu melakukan pesta penyambutan di rumah adat Sasadu.

Yang bikin kaget, terutama bagi saya, bukan masalah meriahnya penyambutan yang dilakukan warga. Namun suguhan pembukanya, yang membuat saya berpikir bagaimana cara menolaknya. Ya, setiap pengunjung yang datang dan hendak masuk ke rumah adat Sasadu, disuguhi sejenis minuman yang baunya cukup menyengat.

Warga setempat menyebut minuman penyambutan itu sebagai Cap Tikus. Sejenis minuman tradisional dan masuk kategori minuman keras. Walau begitu, minuman tersebut dijadikan sebagai lambang persahabatan. Jadi tidak ada alasan bagi pengunjung untuk menolak suguhan minuman itu. Menolak bisa berarti tidak mau bersahabat.

KEMBALI KE ARTIKEL