Mohon tunggu...
KOMENTAR
Politik

Luar Biasa, Prabowo Setia Menanti Pilpres 2024

12 Juli 2019   00:39 Diperbarui: 12 Juli 2019   00:43 1324 2

Luar biasa, Pak Prabowo. Anda memang petarung sejati, tak kenal lelah walau sudah tiga kali kalah berturut-turut. Dari 2009, 2014, dan terakhir 2019. Bodoh amat! Pokoknya hajar terus, urusan belakangan. Orang sabar disayang Tuhan. Mungkin begitu prinsip Anda.

Tiga kali kalah beruntun rupanya tak membuat Prabowo patah arang. Masih ingin mencoba lagi untuk keempat kalinya. Di Pilpres 2024 nanti, itulah keempat kalinya Prabowo terjun sebagai kontenstan Pilpres. Satu kali cawapres dan kini sudah dua kali capres, ditambah satu kali lagi (nanti) sebagai capres. Atau bila ditotal, butuh waktu selama 20 tahun.

Lalu apakah ada jaminan Prabowo bakal menang di Pilpres lima tahun mendatang? Di atas kertas sejauh ini, memang begitu adanya. Belum ada tandingan Prabowo, masih tetap menjadi capres yang paling berpeluang menggantikan Jokowi. Tentu dengan asumsi tidak ada revisi UU Pilplres yang membatasi kekuasaan seorang presiden paling banyak dua periode saja. Sebab kalau itu ada, Jokowi kemungkinan besar juga kepengen mencalonkan kembali untuk ketiga kalinya. Bisa repot lagi nanti Prabowo.

Sinyal keinginan Prabowo kembali terjun ke Pilpres 2024 sebetulnya bisa dilihat dari sikap politiknya saat ini. Pertama, soal wacana rekonsiliasi dengan kubu Jokowi. Walau didorong banyak pihak, Prabowo hingga saat ini belum bersedia melakukan pertemuan dengan Jokowi. Prabowo seperti mengulur-ulur waktu, mencari "waktu" yang tepat.

Manuver Prabowo ini pun bisa dimaklumi bila dikaitkan dengan ambisinya merebut kursi RI-1. Sebab bagaimanapun, target utama Prabowo hingga lima tahun ke depan adalah menjaga dan merawat kesetiaan para pendukungnya. Tidak bisa dipungkiri, kelompok pendukung Prabowo baik di tataran elit maupun akar rumput masih sangat kuat dan solid.

Sehingga dalam upaya merawat kesetiaan itu, Prabowo mau tidak mau wajib menjaga jarak dengan Jokowi yang sudah "terlanjur" dibenci pendukung Prabowo. Menjalin kemesraan dengan Jokowi walau hanya sekadar basa-basi politik, rawan disalahartikan sebagai bentuk pengakuan kekalahan di Pilpres 2019. Terlebih lagi, Prabowo dan pendukungnya secara nyata tidak pernah mengakui kemenangan Jokowi walau tetap menghormati putusan MK.

Masih dalam kaitan rekonsiliasi itu, kini muncul isu pemulangan pendiri FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS) yang telah setahun lebih berada di Arab Saudi. Kubu Prabowo mendorong agar Jokowi memulangkan HRS meski permintaan itu sebetulnya tidak masuk akal. Itu karena kepergian HRS ke Saudi bukan atas keinginan Jokowi sendiri sehingga tidak punya kewajiban untuk memulangkan.

Maka bisa ditarik kesimpulan sementara, Prabowo boleh dikatakan sebenarnya tidak ingin HRS dipulangkan ke Tanah Air dalam waktu dekat ini. Momentumnya harus dicari dan ditentukan. Kapan lagi kalau bukan mendekati Pilpres 2024, misalnya tahun 2023 nanti. Nah, dalam kurun waktu 4 tahun ini, "pengaruh" HRS terhadap kelompok pendukung Prabowo wajib dijaga terus-menerus. Jangan sampai luntur apalagi dipengaruhi iming-iming kekuasaan.

Jika boleh dinamakan strategi politik, maka strategi politik Prabowo tersebut yakni menjaga jarak dengan Jokowi dan mengulur kepulangan HRS, merupakan modal raksasa sekaligus menjadi ancaman serius bagi capres baru nantinya. Dengan dua modal itu, Prabowo di atas kertas sudah bisa dikatakan telah memenangi Pilpres 2024.

Pun begitu, Prabowo masih tetap memiliki misi tak kalah penting lainnya. Yakni meredam "the new rising star" berikutnya, yang kelak menjadi pesaing. Bintang baru bersinar itu bisa saja muncul dari kubu mana saja. Mungkin saja Sandiaga Uno yang telah memiliki pengalaman sebagai cawapres, atau AHY yang memang telah dipersiapkan SBY sejak lama. Tak menutup kemungkinan juga akan muncul tokoh baru, mirip kemunculan Jokowi, yang justru kembali berubah menjadi mimpi buruk bagi Prabowo.

Namun yang jelas, Prabowo tampaknya masih mempunyai ambisi kuat untuk menjadi Presiden RI. Tak peduli harus bertarung sebanyak empat kali. Luar biasa, Pak Prabowo!

KEMBALI KE ARTIKEL