Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Mengintip [Buku] Kedai 1001 Mimpi

10 Maret 2013   02:53 Diperbarui: 24 Juni 2015   17:02 1285 0

Desas-desus

“..Sepanjang tahun ada ratusan bayi lahir dari rahim seorang TKW.. Pelaku pemerkosaan seringkali tidak ditindak tegas karena kurang bukti dan sanksi. Kalau korban lapor, bisa jadi malah difitnah.” (Vabyo, 138).

“Jadi kalau di Indonesia berbuka puasa dengan yang manis-manis, di Saudi berbuka dengan berbuat najis.” (Vabyo, 216).

“Kenapa bila kita melawan orang yang sering membawa nama Allah kita sering dikira melawan Tuhan? Apa dengan begitu mereka merasa menjadi Tuhan?” (Vabyo, 228).

“Tau gak, saya dulu sering berharap neraka itu cuma hoax. Tapi melihat para pemerkosa dan penindas sesama yang kebal hokum, saya jadi berharap neraka benar-benar ada.” (Vabyo, 230).

“Aku menemukan ironi lain, kenapa kelakuan homo ini justru terasa paling edan di negara yang paling keras menghukum para pelaku homoseksualnya ini.” (Vabyo, 264).

“Bolehkah aku bertanya, kenapa di sini aku sering menemukan manusia dengan nama islami tapi kelakuan biadab?” (Vabyo, 300).

“Gue kadang ngerasa di sini orang-orang lebih hobi saling nuduh kafir dibanding mempertebal iman masing-masing.” (Vabyo, 400).

“Datang ke Saudi itu harus siap diperkosa. Baik jiwa atau raga.” (Vabyo, 417).

“Menteri Tenaga Kerja Saudi, Ghazi Al Gosaibi, mengeluarkan statement menghebohkan: Saudis are arrogant and racist.” (Vabyo, 423).

“Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain.” (Vabyo, 426).

*****

Akhirnya saya miliki buku ini, Kedai 1001 Mimpi.

Sebuah buku setebal 444 halaman yang mengungkap kisah nyata Valiant Budi Yogi a.ka. Vabyo, seorang penulis yang “sengaja” menjadi TKI di Arab Saudi.

Agak “aneh” mengingat Bang Valiant adalah seorang lulusan hukum Universitas Padjadjaran yang mengawali kariernya sebagai penyiar, web designer, editor, creative director, penulis, dan akhirnya terjun bebas jadi TKI.

Keinginannya yang menggebu untuk bisa bekerja dan tinggal di luar negeri, khususnya negara-negara Timur Tengah, mendorongnya untuk menjalani walk in interview saat ada iklan lowongan kerja di sebuah kedai kopi internasional bertempat di Kingdom of Saudi Arbia.

Tujuannya tak sekedar mencari pengalaman, tapi lebih dari itu dia ingin membuktikan sendiri rasanya menjadi TKI dan menuliskan pengalamannya dalam sebuah buku. Sebuah langkah yang kelewat nekat dan “gila”, menurut saya.

Sebelum buku ini dilaunch bulan Mei, selama masih menjadi TKI, Bang Valiant selalu menuliskan kisah sehari-harinya di Saudi lewat blog pribadi dan akun twitternya yang berjudul Arabian Undercober. Saat itu dia beberapa kali mendapat komentar memojokkan dari beberapa pihak di blognya. Banyak yang menuduhnya telah melakukan fitnah terhadap islam karena ia secara terang-terangan membongkar kebusukan sebuah negara dimana islam lahir di sana. Agak miris, mengapa yang dihujat justru yang membongkar kebenaran?!

Pada saat kasus pancung Ruyati, TKW asal Jawa Barat, tersiar di media, Bang Valiant diundang sebagai nara sumber dalam acara Apa Kabar Indonesia (AKI) Pagi di TVOne. Dan di sanalah dia menceritakan semua kisah suka dukanya menjadi TKI. Pengalaman berharga yang katanya tak akan pernah ia dapatkan di Universitas manapun.

Dia menjadi barista (bartender khusus kopi) di sebuah kedai kopi bernama Sky Rabbit Coffeeshop di kota Al Khobar. Awalnya dia optimis akan mempertebal keimanannya selama bekerja di negara lahirnya islam tersebut. Tapi yang didapat justru sebaliknya, ia kerap menemukan keganjilan dari orang-orang Arab yang ia jumpai sehari-hari.

Mulai dari atasannya yang semena-mena maen perintah dan yang lebih membuat darahnya mendidih saat dia dilarang menunaikan sholat jumat untuk membersihkan ruangan kafe. Asisten managernya yang suka menggelapkan uang hasil penjualan kafe, menyiksa mentalnya sebagai orang jujur dengan memberi ultimatum untuk tetap memakai susu basi dengan alasan bahan baku cappuccino latte mahal, tissue bekas untuk dipakai kembali, dan gelas plastik yang seharusnya hanya untuk sekali pakai dimintanya untuk dicuci dan dipakai lagi. Rekan kerjanya yang hobi menyelipkan kotoran idung a.k.a upil ke dalam muffin dan ludah ke dalam minuman. Hueks!!

Seakan belum puas dengan keganjilan orang-orang di tempat kerjanya, Bang Valiant harus mengalami trauma yang cukup dahsyat sebagai seorang lelaki normal saat dia beberapa kali hampir menjadi korban perkosaan para om-om berbulu yang notabene homo. Kenyataan yang membuatnya berkesimpulan, tidak hanya TKW yang menjadi korban perkosaan, TKI laki pun punya kesempatan yang sama.

Dia harus ekstra sabar menghadapi para pelanggan coffeeshop-nya yang masyghul, mulai dari yang punya hobi mamerin alat kelaminnya, yang kaya raya dengan laptop super canggih tapi gak bisa mengoperasikannya, yang gayanya sok kebarat-baratan, yang suka masturbasi di toilet saking baru liat cewe di luar. Belum lagi berurusan dengan Muttawa a.k.a polisi syari’ah yang menuduuhnya kafir hanya gara-gara namanya yang tidak islami.

Kalau di Indonesia kita lihat para wanita pekerja seks komersial berpakaian minim, di Arab lebih miris lihatnya. Bagaimana tidak, gadis baik-baik dan wanita jalang tak ada bedanya, sama-sama memakai abaya dan cadar. Biasanya mereka beroperasi di kafe-kafe dalam ruangan yang sejatinya hanya dibuat khusus untuk family section dengan cara menyamarkan identitas sebagai suami istri sah. Dibalik cadarnya, para wanita Arab tetap berdandan menor dan pakaian minim yang biasanya mereka sibak saat sudah berada di bilik kafe. Hukum rajam dan peraturan yang mengharuskan memakai abaya hitam+cadar tak lantas bisa memberantas praktek pelacuran.

Tak heran kalau orang baik-baik pun bisa saja terpaksa harus menjadi budak pemuas nafsu para baba atau menjadi penari tiang di kalangan homo.

Sebuah ironi yang membuat mata hati seorang Valiant menangis saking tidak relanya nama islam harus rusak justru karena ulah pemeluknya. Dan lebih ironi lagi saat dia menuliskan kisahnya, justru ia dianggap memfitnah uslam.

Sebuah buku yang bikin campur aduk. Miris dengan realita yang ada. Ngakak dengan segala keluucuan yang keceplosan. Dan nangis di beberapa paragraph, seperti saat Bang Valiant dikutuk masuk neraka karena membela dan memeluk seorang anak perempuan tujuh tahun-an yang ditampar dan dijambak oleh ayahnya. Dengan spontan dia balik mengutuk si ayah garang tersebut, “Why are you treating her like an animal, even an animal has right to be loved!” Sungguh pemandangan yang mengiris hati.

Ingin marah saat ada seorang om-om gundul bermuka masyghul yang dengan pongah menceritakan hobinya kawin wisata di puncak Bogor Indonesia hanya untuk memenuhi libido bejatnya. Hingga Bang Valiant nyaris baku hantam dengan om-om tersebut dengan makian tajamnya, “Dengan segala hormat. Bisa anda bayangkan, puluhan juta jiwa warga negara Indonesia datang ke Saudi untuk mensucikan hati. Dan anda datang ke Indonesia cuma buat menganiaya para wanita kami?!”

Juga terharu saat dia beberapa kali ditolong oleh seorang Imam Masjid, seandainya semua orang Saudi sesantun Imam Masjid itu. Dan nasihat dari Sang Imam yang masih dia ingat betul dalam benaknya, “..Dulu islam terkenal dengan para ilmuwan dan penemuannya, sekarang lebih sering disebut dalam berita terorisme, dan kelakuan bejat sebangsanya. Rasul SAW pernah bilang, islam memang dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya.”

Pada akhirnya saya salut dengan langkah yang ditempuh Bang Valiant. Setelah kembali ke tanah air, dia mengirim email dan melaporkan segala bentuk praktek manipulatif yang terjadi di tempat kerjanya, Sky Rabbit Coffeeshop, -mulai dari pemalsuan laporan keuangan, penggunaan susu basi, gelas plastik dan tissue bekas-, kepada pihak yang paling berwajib, yakni ke kantor pusat Sky Rabbit Coffeeshop yang berada di New York, Amerika. Hingga akhirnya kasus di coffeeshop tersebut diselidiki dan para pelakunya ditindak tegas.

Dan lagi-lagi saya salut dengan keberaniannya membongkar semua kisahnya melalui buku yang ia tulis ini.

Saya sudah baca buku ini 3 kali, dan sensasi bikin nangis masih saja datang kala membacanya. Bang Valiant sampe bilang di twitternya, “Ya ampun, kamu hebat sampe baca 3X. Makasi banyak, osya!”

Dan saya bales, “Tak ada yang lebih hebat selain berani melawan tirani dengan membongkar kebusukan lewat tulisan seperti Kakak!”

Nampaknya, daftar penulis favorit saya nambah lagi. Ah, saya memang terlalu mudah jatuh cinta dengan seorang penulis seperti dia. Dan buku ini patut dibaca, khususnya bagi orang-orang yang keukeuh ingin jadi TKI/TKW. Bang Valiant pernah bilang, alangkah baiknya jika para TKI/TKW dibekali ilmu bela diri. Cukup masuk akal mengingat bahaya yang selalu mengintai para saudara kita di sana.

Di akhir note ini, saya ingin mengutip sebuah pesan dari Rosulullah Muhammad SAW, seperti juga dikutip oleh Bang Valiant di halaman terakhir tulisannya:

Message from Heaven

All mankind is from from Adam dan Eve, an Arab has no superiority over a non-Arab nor a non-Arab has any superiority over an Arab; also a white has no superiority over black nor a black has any superiority over white except by piety and good action. (The Prophet Muhammad’s Last Sermon)

KEMBALI KE ARTIKEL