Mohon tunggu...
KOMENTAR
Nature Artikel Utama

Taman, Ruang Publik yang Terabaikan

12 September 2012   23:41 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:33 1259 26

Taman atau ruang terbuka hijau (RTH) merupakan ruang publik yang manfaatnya amat dirasakan oleh warga tetapi diabaikan pemenuhannya oleh pemerintah. Keberadaan RTH tidak hanya berfungsi menyaring polutan, menjaga kelestarian, keserasian dan keseimbangan ekosistem. Tetapi juga menunjang meningkatkan kualitas hidup warga, mengurangi tekanan mental dan ajang kreatifitas.Tapi kenyataannya, rata-rata kota besar belum mampu mencapai 20% RTH publik total dari luas kawasan.

Warga pun bersaing dengan tuna wisma menggunakan RTH untuk sarana berolah raga, bersilaturahmi, latihan seni musik, festival kuliner atau hanya sekedar duduk-duduk santai. Bagi kaum tuna wisma, RTH lambat laun menjadi kawasan yang nyaman untuk tempat melepas penat hingga dijadikan lahan tempat tinggal. Akibatnya ketika dilakukan pembersihan, hal ini malah menjadikan RTH kawasan tertutup untuk warga yang ingin berekreasi di sana seperti di Taman Maluku, Bandung karena alasan estetika.

Kini, kawasanTaman Maluku yang dulu terkenal sebagai kawasan mejeng waria dan menjadi tempat praktek asusila ini telah bersih dan tertata dengan baik setelah revitalisasi. Meski di luar pagar yang berhadapan dengan patung pastor Verbraak ada bak sampah besar yang selalu menyebar wangi semerbak. Sayang, tingginya pagar dan rapatnya gembok yang mengunci setiap gerbang menutup rapat akses warga untuk sekedar mampir menikmati sejuknya udara di taman.

Bagaimana dengan taman yang lain?

Mari kita tengok Taman Lansia yang berada di Jl Diponegoro,Bandung. Di hari libur di sekitar kawasan ini cukup ramai dikunjungi warga untuk berekreasi sehingga dimanfaatkan pula oleh kaum pedagang untuk menggelar dagangannya.

Taman di tengah kota ini pun telah dibenahi oleh pemerintah setempat sehingga menjadi salah satu RTH yang dipilih warga sekitar untuk berolah raga. Entah karena namanya, warga yang terlihat sering bertandang ke taman ini pun sebagian besar kelompak berusia lanjut. Maka, jangan heran bila menjumpai pasangan paruh baya asik duduk di bangku taman menikmati sekitarnya. Rindangnya pepohonan yang ada di taman cukup meneduhkan dari paparan sinar matahari. Kemarau panjang dan cukup panas, membuat beberapa kembang kertas ungu (bougainvillea) berguguran di sekitar taman. Masih kurang pekanya warga terhadap kebersihan lingkungan, menghadirkan beragam sampah plastik yang ditinggalkan begitu saja sehabis bersantai di taman seakan bersaing dengan kembang kertas,"Dia atau aku yang layak di taman ini?"

Bergerak sedikit ke pusat kota ada Taman Dewi Sartika atau Taman Balai Kota Bandung di Jl Merdeka. Tak banyak yang mengetahui bahwa taman yang dulu bernama Pieterspark ini adalah taman tertua di Bandung yang dibangun pada 1885. Maka bisa diperkirakan usia pepohonan di sana pun sudah ratusan tahun. Berbagai pepohonan “sepuh” nampak menghiasi taman, mulai pohon kihujan, johar, damar, tanjung, bungur, cemara laut menaungi segerombolan burung berceloteh riang, berloncatan diatas dedaunan kemudian terbang diantara pepohonan. Mereka nampak jinak ketika berloncatan di rumput yang hijau. Tak menghiraukan kebisingan lalu lintas. Mereka seolah hidup dalam habitatnya. Banyak pakan disitu. Banyak kawan disekelilingnya.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun