Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud

Korsleting

25 Juli 2021   22:17 Diperbarui: 26 Juli 2021   19:57 49 2

Senin kemarin dan pagi hari ini menjadi hari berbeda dibanding hari-hari sebelumnya. Keadaan kota Atambua kelihatan nyaris menyerupai kondisi normal sebelum wabah corona melakukan agresinya. Ramai kendaraan berlalu-lalang menyebabkan "keributan normal." Kumpulan manusia pada titik-titik tertentu menjadi pemandangan biasa. Aneh, kita berada dalam fenomena terbalik. Setelah sekian hari dilarang untuk berkumpul-kumpul, melihat orang-orang membuat kerumunan jadinya malah terlihat ganjil dan dalam hati bertanya," Mengapa mereka harus berkumpul?" Saat kita melihat keramaian-keramaian itu, kita memasuki dunia yang terbalik! Persis dalam film-film fiksi Hollywood. Well, apakah sutradara-sutradara bule sana punya kemampuan meramal masa depan?

Pasar Baru pun tak luput dari keramaian itu. Pangkalan ojek yg biasanya lengang kembali dipadati kendaraan. Bahkan tempat jualan meluber sampai ke badan-badan jalan. Para pedagang lebih agresif dari sebelumnya. Kelihatan ada semacam balas dendam dari mereka untuk kembali secepatnya melariskan dagangannya demi memenuhi kebutuhan hidup yang lain. Telah beberapa hari kantong menipis. Ya, wabah ini membuat pendapatan mereka jatuh bebas serupa gunungan gletser yg runtuh di Antarktika sana.

Tentu saja, karena apa yang bisa didapat mereka berbanding lurus dengan tingkat keramaian. Semakin ramai, transaksi makin sering terjadi, peluang uang masuk semakin besar. Dengan imbauan pemerintah untuk melarang warga berkumpul (yang menyebabkan kesepian dan kesunyian melanda), otomatis pendapatannya juga ikut menurun.

Situasi ini bagai menghadapi buah simalakama. Serba salah. Pilihan yang diberikan oleh orang-orang pintar kepada mereka adalah: mereka harus tetap makan atau mereka akan mati. Belum pernah dalam hidupnya, mereka diberi pilihan serumit itu. Seolah-olah batas antara kehidupan dan kematian sudah setipis tripleks 3 mm.

Tapi benarkah pilihan hidup mereka serumit itu? Jawabannya adalah......mungkin tidak. Pilihan yang terlihat rumit itu hanyalah dari sudut pandang kita.

Semenjak corona menghiasi tajuk-tajuk berita, berseliweran istilah-istilah semisal wabah, penyebaran, karantina, isolasi, hand sanitazer, cuci tangan dlsb. Bagi kita mungkin terlihat biasa, bahkan teramat biasa. Semua istilah itu mudah dipahami. Mudah pula menjelaskan ke orang lain. Namun bagi mereka, itu sesuatu yang teramat canggih dan tinggi. Mereka mendengar, namun semua yg didengar cuma berputar-putar di kepala saja. Mereka mengangguk tanda paham padahal tak jua mengerti. Ini persis seperti dulu saya pada saat matakuliah Kalkulus IV duduknya selalu paling depan, selalu nampak serius menyimak dan selalu mengangguk-angguk lagaknya seperti paling paham, padahal tak tahu apa-apa.
Isolasi bagi mereka adalah benda berbentuk lingkaran yg tengahnya bolong serupa kue donat, terbuat dari plastik yang satu sisinya punya daya rekat, biasa dipakai anaknya untuk mengerjakan ketrampilan sekolah. Cuci tangan, ah, itu kan biasa yang selalu diteriakan petugas dari Puskesmas saat penyuluhan setiap bulannya entah sejak tahun berapa. Bukan hal yang baru dan sejauh ini tak pernah ada cerita orang langsung mati karena lupa cuci tangan sepulang dari kebun atau habis BAB. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Mereka tak habis pikir bagaimana orang-orang kota yang nampak tangguh itu bisa ketakutan begitu rupa dengan flu, bersin dan batuk sampai-sampai harus menutup mulut dan hidung dengan secarik kain sehingga semuanya nampak seperti perawat dan dokter di Puskesmas. Apa sekarang semua orang punya ijazah keperawatan atau kebidanan?
Biasanya jika ada yang bersin, mereka hanya sesaat kaget, lalu spontan memaki orang tsb karena bersinnya seperti tembakan meriam bambu jelang tahun baru yang mengagetkan dan membuat jantung copot. Lalu semuanya kembali normal. Yang terjadi hanya jadi angin lalu saja. Ia tak akan menjadi kenangan. Sedikit pun. Bekas bersinnya hanya cairan sepele yang tidak dianggap, bakal hilang, menguap entah ke mana. Flu, bersin dan batuk bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Jadi maaf, tak perlu repot-repot memakai masker.
"Kami bukan perawat. Kami juga bukan bidan. Lagian kami tak terbiasa memakai masker."
"Pernah keponakan memberi satu namun kami jadinya sulit bernapas, seperti ada yang menahan lubang hidung kami."
"Masker pun terlalu mahal buat kami. Kami terbiasa membeli barang hanya untuk makan, minum dan keperluan sekolah anak saja."

Kebanyakan mereka dalam nyaris seluruh hidupnya berada dalam lingkaran yang itu-itu saja. Perigi, kali, pikul air, tofa rumput, tanam jagung, tanam ubi, kumpul adat, tembakau sek, cari kayu, ikat sapi, kasih makan sapi, buat pagar, potong kayu, Herman Hery, Setya Novanto, itulah daftar istilah dalam hidupnya. Beberapa lebih beruntung telah mengenal sinetron Anak Langit, Cinta Suci atau Mario Klau. Tak ada istilah KFC, caffe, email, download, pertanggungjawaban keuangan, laporan bulanan, dikejar target waktu dan banyak istilah lain yang memusingkan kepala, bahkan untuk kita.

Maka ketika ramai pemberitaan mengenai wabah virus Covid-19, itu hanyalah sekedar berita biasa, toh setiap hari ada berita kematian di televisi. Orang di Wuhan, Itali dan Amerika Serikat sana bolehlah mati ratusan orang setiap harinya bak nyamuk yang setiap harinya mati disemprot baygon, namun selagi di sini belum ada kematian karena corona, itu hanyalah dongeng belaka yang tak bakal terjadi di dunia nyata Rai Belu. Sejauh ini semuanya nampak sempurna buat warga Belu. Doa-doa yang didaraskan siang malam diyakini didengar Tuhan.

Well, mungkin situasinya tidak selalu seperti itu. Mereka di pasar mungkin sangat tahu konsekuensi pilihan hidupnya. Mereka rentan terpapar. Mereka tahu pasti bahwa seluruh dunia sedang berada di dalam dilema besar. Tak pernah seluruh negara sekompak ini dalam rasa dan tindakan, tindakan untuk menghindari keramaian dengan alasan apapun. Mereka, dan juga kita, berada dalam kesatuan rasa itu. Namun apadaya, kita semua tak bisa seratus persen menghindari roman kehidupan berjudul corona ini.

Kita semua, tanpa kecuali, telah tersedot masuk ke dalam medan pertempuran. Kita berada di tengah sementara musuh berada di mana-mana, di delapan penjuru mata angin. Siapa saja bisa tewas kapan saja dihantam sang musuh kecil yang ironisnya, sebenarnya hanya ingin mempertahankan hidupnya di dalam sel-sel manusia. Kedua pihak sebenarnya sama-sama ingin mempertahankan diri, lalu tanpa sadar bertranformasi menjadi penyerang satu sama lain. Tujuannya hanya satu: bisa kokoh berdiri di akhir pertempuran sambil mengibarkan panji kemenangan. Seandainya bisa dilakukan gencatan senjata.....

Jika diibaratkan arus listrik, inilah saatnya kutub positif bersentuhan langsung dengan kutub negatif. Saat kita ke pasar atau pusat keramaian lainnya, kita dihadapkan pada dua pilihan: ingin tetap makan supaya jangan mati atau berkeras ke sana dan akan mati.

(Tulisan ini telah diposting di akun fb penulis 7 April 2020)

JAVARIO

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan