Mohon tunggu...
KOMENTAR
Catatan

Emak-Emak, Waspada Nonton Film Romantis!

28 November 2011   08:34 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:06 406 4

Mungkin banyak yang mencibir nyinyir dengan bibir terkiwir-kiwir bila saya mengatakan bahwa saya sukaaaaa banget lihat film atau serial Korea. Mungkin Anda berpikir, ini emak-emak korban K-Pop kali ya? Dengan tegas saya katakan, tidak! Saya bukan korban K-Pop yang belakangan ini marak di negara kita ini. Saya sudah menyukai film dan serial Korea sejak lama. Sejak sinetron Cinta F*tr* tak putus-putusnya ditayangkan di televisi. Jadi, bisa dikatakan bahwa saya ini korban K-Pop prematur.

Sebenarnya sekarang malah saya sudah banyak bertobat. Dulu saya bisa menghabiskan akhir pekan untuk menonton serial Korea dari pagi sampai pagi lagi. Sekarang saya hanya menonton serial Korea yang ditayangkan stasiun televisi nasional sekitar dua jam per hari. Ini kemajuan lho, kemajuan yang sangat pesat bagi saya untuk mengurangi waktu di depan televisi, hehehe….

Dua tayangan serial Korea yang saya ikuti di televisi nasional selama beberapa bulan ini tentu membuat para emak seperti saya melambungkan mimpi hingga ke awan-awan sambil mesem-mesem sendiri. Kedua serial Korea tersebut mengambil tokoh utama wanita usia 30-an, dengan penggambaran karakter sosok ibu satu anak yang sangat biasa, tidak begitu cantik, seksi, ataupun stylist. Melekatkan karakter yang dimiliki pemirsa emak-emak pada umumnya.

Istimewanya, tokoh emak-emak dalam kedua serial tersebut mendapatkan “durian runtuh” karena disukai pria-pria berondong nan tajir. Dalam serial “Oh, My Lady!” tokoh emaknya yang culun ditaksir seorang pemuda yang berprofesi sebagai artis dan model top Korea. Sedangkan dalam serial “Queen of Reversal”, tokoh emaknya yang super judes, seperti saya, ditaksir oleh seorang pemuda pewaris perusahaan kosmetik terkenal di Korea. Bukan sekedar ditaksir, mereka pun akhirnya hidup bersama dan berbahagia selama-lamanya.

Nah, di sinilah mimpi para emak-emak dilambungkan. Jujur, kita semua tentu pernah bermimpi seperti ini: andai saja masih ada pria imut yang melihat inner beauty-ku di balik daster lusuh ini; andai saja masih ada pria romantis dan full care yang sering mengirimkan kata-kata romantis untuk menyapa hatiku. Begaimana jika, ternyata eh ternyata itu bukan sekedar andai-andai lumut (*temannya andhe-andhe lumut) saja tapi benar-benar menyapa kita dalam kehidupan nyata. Pria seperti itu muncul seperti indahnya bintang jatuh di hadapan kita. Rasanya oh rasanya…, hidup kita berjalan penuh romantisme sendu ala serial Korea. And everything ia about love and love…. Dream comes true!

Jadi, para emak tercinta, saran saya satu, tepuklah jidat Anda dengan keras saat Anda selesai menyaksikan film romantis dan serukan “wake up, Mom!” Mengapa saya sarankan seperti ini? Karena kita, para wanita yang lebih sering hidup dikuasai perasaan, sering pula terhanyut dalam dunia fiksi, dan meluruhkan kemampuan kita untuk membedakan antara fiksi dan kenyataan. Betapa inginnya kita hidup di dunia fiksi yang telah kita saksikan setelah seluruh rasa dan pikiran kita hanyut di dalamnya. Berharap ada kehidupan yang lebih indah penuh bunga-bunga romantisme menggantikan kehidupan pernikahan yang mungkin saat ini kita rasa cukup membosankan. Berharap masih ada pria super romantis yang diantar Tuhan untuk mengubah hidup kita dari emak-emak upik abu menjadi seorang Cinderella. Dan dalam sebuah kehidupan pernikahan dengan kecukupan rejeki yang diberikan Tuhan, suami yang baik, bahkan anugerah anak-anak yang lucu, kita masih menjadi seorang Cinderella yang berkhayal bengong di muka pintu sambil berharap seorang pangeran datang mengantarkan sebelah sepatu kaca lain yang sempat hilang.

Mari kita bedakan antara fiksi dan dunia nyata. Jangan menghabiskan hidup untuk menghidupi romantisme kisah fiksi, mimpi-mimpi kita. Lihatlah kenyataan yang ada di sekitar kita, dan mari kita hidupi apa yang telah kita pegang secara nyata saat ini. Bila memang hidup kita tak sesempurna dan seromantis kisah film maka marilah memiliki kekuatan untuk tidak berlari dari kenyataan yang ada. Mari berjuang, kita hadapi, sambil berdoa dan berusaha semaksimal mungkin agar semuanya bisa menjadi lebih baik.

Bila saya menggunakan kata “fiksi” di sini bukan berarti mengajak kita untuk anti fiksi. Tidak. Sampai saat ini saya masih suka fiksi. Menikmati film dan serial romantis. Bahkan, suka menulis fiksi. Tapi, kita harus mengingatkan diri untuk selalu melihat kembali dunia nyata kita. Dunia yang mungkin tidak seindah dan seromantis kisah fiksi tapi adalah dunia yang paling berharga bagi kita. Hati-hati, terkadang kita terlena hidup di alam mimpi, memberi kesempatan pihak-pihak lain yang sesuai impian kita untuk masuk di dalam kehidupan kita. Berujung pada rusaknya kehidupan nyata yang telah kita bangun bertahun-tahun, yaitu kehancuran keluarga kita.

Kesannya saya seperti bicara ngalor ngidul, dari K-Pop sampai sepatu kaca Cinderella. Sebenarnya pesan saya satu, jangan membuka diri atau menggunakan kesempatan untuk berselingkuh. Jangan korbankan kehidupan nyata keluarga yang telah Anda bangun bertahun-tahun. Ketika Anda terlena karena rayuan dan sanjungan seorang pria yang mengalun bagai lantunan kata Khalil Gibran, maka putar kembali rekaman janji pernikahan yang pernah Anda ucapkan di hadapan Tuhan dan orang-orang yang Anda cintai.

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun