Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi

Puisi | Jejak Setapak di Jalan Kecil yang Kaki-kaki Kecil Kami Lalui

19 April 2021   00:40 Diperbarui: 19 April 2021   01:09 33 2

Kami menyusuri jalan-jalan kecil yang kami gunakan bertahun-tahun lalu.
Ketika tanah bebatuan berupa jalanan kecil setapak.
Ketika kaki-kaki kecil kami belajar menapak.

Kami menyusuri jalan-jalan kecil yang kami gunakan bertahun-tahun lalu.
Ketika ingatan belum bertumpuk banyak.
Ketika alam belum banyak memberikan pengalaman alami pada masa kanak-kanak kami.

Kami menyusuri jalan-jalan kecil yang kami gunakan bertahun-tahun lalu.
Ketika belukar menggores betis mungil kami.
Ketika akar timbul membuat kami terjungkal.
Dan tubuh mungil kami masih belum tahu bagaimana caranya bertahan.

Kami menyusuri jalan-jalan kecil kenangan yang kami jalani dulu.
Mengenang banyaknya hal-hal besar dan luar biasa yang bisa kami terima dengan pikiran kami yang sederhana dan naf.
Dan menyimpannya dalam lubuk terdalam hati dan pikiran kami.
 
Kami menyusuri jalan-jalan kecil kenangan yang kami jalani dulu.
Menggenggam jemari mungil satu dengan yang lain,
Mengumpulkan keberanian untuk tidak ragu,
Melakukan apa yang kami suka dan terus berjalan.

Berjalan, terus berjalan.
Berbagi ingatan atas lajur-lajur jalan yang kini tampak memanjang.
Bergandengan tangan, berjalan bersisian dan menjadi sahabat seumur hidup.

Jalan-jalan kecil yang kaki-kaki kecil kami pernah jalani,
tawa lebar yang nyaris tak bisa dihentikan,
Menjadi jejak berwarna sebanyak pelangi,
membentuk bayangan kenangan di permukaan hayat.

Ingatan akan tawa itu
yang mengikat hati kami karib.
yang teguhkan langkah kecil di jalan yang tak setapak.
yang kuatkan kaki di jalan-jalan lebar kini.
***

April 2021

KEMBALI KE ARTIKEL