Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Aku, Kamu, dan Tentang yang Ingin Kutuliskan Sampai Seribu

29 Mei 2012   09:18 Diperbarui: 25 Juni 2015   04:38 209 1

Aku menuliskan ini, kalau-kalau kamu lupa bahwa ada perbincangan-perbincangan ini yang kita lakukan dulu.

Entah berapa puluh atau ratusan kali kita sudah saling berbagi cerita. Kadang di kafe, di toko buku, di rumahmu, atau di jalan raya. Aku menikmati setiap momennya. Kalau kamu? Menikmatinya juga?

Dan di antara banyaknya momen-momen itu, ada bagian-bagian dimana aku tidak bisa lupa. Mungkin seperti sebuah peristiwa penting dunia yang kemudian dibukukan untuk menjadi sejarah agar tidak ada yang lupa. Bedanya, ini bukan sejarah dunia, dan aku tidak membukukannya. Aku hanya menuliskannya.

Sebenarnya tetap bisa disebut sejarah juga, tapi mungkin sejarahku, bukan sejarah penting bagi orang lain, apalagi (mungkin) bagimu. Karena sebenarnya ini hanya mengungkapkan, banyaknya kalimat yang selama ini aku sembunyikan. Ya, kita selalu berbincang. Tapi yang kamu tidak tahu, sering kali aku mengatakan sesuatu, tapi sebenarnya yang ingin kukatakan bukan itu.

Jadi ini, aku mencoba mengingatkanmu dan memberitahumu apa yang dulu sebenarnya ingin kukatakan kepadamu. Semuanya adalah perbincangan kita apa adanya, kecuali yang dicetak miring dan sengaja aku kurung. Itu adalah kalimat yang tidak pernah kusampaikan kepadamu. Alasannya sederhana, kalimat itu memang masih terkurung sampai sekarang, kecuali kamu yang merusak kurungannya dengan membaca tulisan ini. Setelah itu, kalimat itu akan bebas dan terbang seperti burung. Tidak lagi terpenjara dalam kurungan buatan, tapi juga tidak bisa lagi digenggam karena kalimat itu akan langsung terbang begitu kurungnya kamu rusakkan.
Oya, kalaupun kamu membaca ini, aku tidak meminta apa pun. Aku hanya ingin kamu tahu kalimat-kalimat yang kusembunyikan selama ini. Hanya itu. Dan aku sengaja menulisnya acak, karena sebenarnya memori tentangmunya terlalu banyak.
Ini.


1.
“Mungkin kita harus berhenti melakukan ini, bertemu sering kali,” katamu sambil mengaduk jus jambu.
(Jangan! Nanti bagaimana kalau aku rindu?)
“Iya, mungkin kamu benar,” kataku. Semoga kamu tidak mendengar nafas panjangku.

KEMBALI KE ARTIKEL