Mohon tunggu...
KOMENTAR
Bahasa

Keanggunan yang Tergadaikan Rupiah

27 Desember 2012   08:01 Diperbarui: 24 Juni 2015   18:58 161 0
Menguap lalu lembab...

Entah,hanya itu yang tiba-tiba melintas di otakku, ketika jemari ini perlahan menuliskan guratan atas apa yang ingin disampaikan. Hati..mengapa masih menyimpan sakit? mengapa masih merasa sesak? berulang kali aku ingin menegaskan “bebaskan hatimu,jangan terlalu menikmati dengan perih atas apa yang seharus nya bisa kamu nimati dengan senyuman”.

(Dan) masih ingin kubisikkan “Tersenyumlah,kunci rapat bendungan kekalutan yang senantiasa bergelayut manja dibenakmu, jangan pernah berharap keramahan itu akan didapat disaat karat dihatinya masih begitu akut".

Biarlah waktu yang akan menjadikan setitik perubahan irama pada tapakan kedepan nya,tidak baik terlalu berlama-lama untuk mengenang. Kuseka butiran bening di dahi siang ini, tidak ingin terhenti untuk tetap melanjutkan rentetan cerita yang tidak tahu batas akhir nya. Tiba-tiba aku teringat atas ulasan buku yang pernah kubaca mengenai gema kehidupan, satu tekadku ialah bagaimanapun dan seperti apapun kondisi kedepan, just face! Hidup tidak untuk menunggu, berpangku tangan dan bermanja.

Sedikit tertatih dalam langkah yang kadang menganak darah lebih mulia dibanding dengan menikmati pujian sembari membusungkan dada terhadap sesuatu yang tidak begitu jelas akan kebenaran nya. Sekarang, Apalagi sebenarnya yang ingin ego manusia kedepankan? tidak berartikah kata ma’af? tidak berartikah kata damai atas yang ingin disama ratakan? bukan kah memanusiakan manusia lebih mulia daripada meneguk habis kenikmatan “ seorang diri” sementara yang tengah dilumat berteriak keras untuk segera dimuntahkan???
ketika berat dan sesak nafas ini mendapati kesombongan yang terpampang,mengapa harus ada pengemis kedamain di dunia ini? kesombongan sudah menjadi darah dan bahkan setiap denyutan diperhitungkan dengan rupiah. Tidak ingin terlalu menjudge something yg mungkin belum sepenuhnya terpenuhi...ahhh lupakan kabut itu, biarkan awan kelam menimpakan butiran hujan nya siang ini, tidak ada harapan yang ingin ku sampaikan, hanya saja semoga irama kehidupan kedepan nya tidak menjadikan kekuasaan egomu merajai setiap detakan nadimu kawan:)

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun