Mohon tunggu...
KOMENTAR
Cerpen

Gangguan

15 Januari 2020   19:00 Diperbarui: 15 Januari 2020   19:01 14 0

"Ayo dilihat dulu supaya nggak nyesel. Siapa tahu ternyata mukanya tompelan, atau jarinya kurang satu," gurau Kyai Yunus dengan terkekeh.

Duh, entah seperti apa wajahku. Mungkin sudah mirip kepiting rebus. Kyai Yunus tak henti-hentinya menggodaku.wajah ini rasanya memanas.

"Nggih, Kyai."

Pelan, aku mengangkat wajah. Di hadapanku,    duduk seseorang dengan wajah tertunduk. Jilbab biru membingkai wajahnya yang cantik. Hidungnya mancung, bertengger di atas bibir yang tipis. Kulitnya hitam manis, tapi tidak mengurangi kecantikannya. Tubuhnya tidak gendut, tidak juga kurus dengan tinggi tak lebih dari 150 centimeter.

"Ehemm ... lihatnya jangan lama-lama. Nanti malah nggak bisa tidur." Lagi-lagi ucapan  Kyai Yunus membuat wajahku memerah. Apalagi seisi ruangan tergelak mendengar ucapan Kyai Yunus.

"Kyai, apa langsung kita halalin aja nih,  hehehe ...," cetus seseorang. Begini ini kalau ta'aruf dan nadzor mengajak teman. Bakalan jadi bahan godaan.

"Nanti dulu, biar mereka istikharah dulu. Supaya lebih mantap. Masing-masing tadi sudah tahu kelebihan dan kekurangannya. Jadi nanti, pekan depan Ahmad harus sudah punya jawabannya. Gimana?"

"Nggih, Kyai. Insyaa Allah."

Ah, entah sudah seperti apa rupa wajahku ini.  Aku melirik gadis di depanku. Jarak kami hanya di batasi meja berbentuk persegi panjang. Kulihat tangannya menjalin sedari tadi. Dia juga pasti sama gugupnya denganku. Ada gelenyar di dada ini, terasa hangat. Semoga ini menjadi awal yang baik.

***

"Sah!"

Semua orang di ruangan Masjid berteriak. Ada lega menyusup. Rasa gugup yang tadi muncul berangsur hilang. Jujur, aku sudah tidak sabar melihat gadis yang sekarang sudah sah menjadi istriku.

Aku berbalik, ketika langkah istriku mendekat. Jantungku berdegup kencang. Dia bak bidadari dengan dandanan yang tidak terlalu mencolok. Terkesan natural, tapi mampu menonjolkan kecantikannya. Jilbab dan gamis putih yang dikenakan menambah paripurna kecantikannya.

Mataku tak bisa beralih menatapnya. Senyumnya yang mengembang dengan wajah tertunduk, membuatku gemas. Aduhai, jantungku makin berdetak kencang.

Dua temannya di sisi kiri dan kanan membimbingnya untuk mendekat. Dia duduk tepat di sampingku. Menandatangani buku nikah dan beberapa lembar kertas dari KUA yang tadi sudah aku tandatangani.

"Ayo salaman dulu sama, suaminya, Mbak," ujar Pak Penghulu.

Dia masih menunduk. Sepertinya dia malu untuk menyodorkan tangannya. Bibir tipisnya terus tersenyum mendengar godaan orang-orang yang ada di ruangan. Akhirnya, aku beranikan mengambil tangannya. Dingin, dan sedikit berkeringat. Diciumnya punggung tanganku dengan takzim. Lalu kupegang kepalanya seraya  membisikkan doa.

Seluruh ruangan riuh, mengoda kami. Pipi istriku memerah, menahan malu. Kalau tak ingat di depan banyak orang, sudah kucubit pipinya.

Satu persatu, orang-orang memberikan selamat pada kami. Kulirik wanita di sebelahku, matanya merah. Menatap tajam. Tersenyum, tapi lebih mirip seringai. Ada yang aneh dengannya.

Aku berpaling, karena ada yang menghampiri dan memberikan selamat.

"Selamat ya, Barakallah. Semoga samawa." Sidik menjebat erat tanganku.

"Ya, Allah. Istri njenengan kenapa?" teriak Sidik. Jarinya menunjuk ke sampingku. Spontan menoleh, ternyata istriku jatuh pingsan.

Kutepuk pipinya, tak ada respon. Dia seperti tertidur pulas.

"Bangun, Dek. Kamu kenapa?"

Semua orang sekarang mengerubungi kami.
Mertuaku ikut panik.

"Ahmad, diangkat saja. Bawa kerumah."

"Nggih, Pak."

Kuangkat tubuh wanita yang sudah halal ini, membopongnya bersama Bapak. Menuruni tangga-tangga Masjid dengan susah payah. Untung saja Masjid tak jauh dari rumahnya. Tak kuhiraukan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari orang-orang yang datang ke Masjid.

Sesampai di rumah, kubaringkan tubuh istri ke ranjang yang sudah di hias dengan kelambu dan sprei putih mengkilat. Aku duduk di tepi ranjang, sekali lagi mencoba membangunkan dengan menepuk wajahnya

"Kasih minyak kayu putih hidungnya, Mad," perintah Bapak, diletakkannya minyak kayu putih di tangan ini. Aku mengangguk.

Aku meneteskan minyak kayu putih ke jari telunjuk dan mendekatkannya ke hidung istri.    Kepalanya bergerak. Matanya terbuka, memerah. Dia menyeringai menatapku. Tiba-tiba dia tertawa mengerikan. Suaranya melengking. Aku bangun, mundur memberi jarak.

Ayat kursi dan ayat-ayat yang lain kulirihkan sambil menatap istri yang masih tertawa. Bapak dan orang-orang berdatangan ke kamar.

"Bapak, nyuwun sewu, saya minta air di gelas."

"Kenapa dia, Ahmad?" tanya Bapak.

"Sepertinya ada yang iseng, Pak. Nggak papa. Kalau boleh saya minta air di gelas." Mataku tak lepas menatap istri yang masih tertawa.

"Iya ... Par! Ambilkan air di gelas. Cepat!

Tergopoh-gopoh, orang yang diperintahkan Bapak pergi dan kembali dengan segelas air di tangannya.

"Ini Mas airnya."

Aku menerimanya dengan cepat.

" Terima kasih, Mas. Maaf aku tutup pintunya ya." Ya, aku tidak ingin istriku jadi tontonan.

 Kemudian, kubacakan air itu dengan ayat-ayat rukyah dan meniup air di gelas tiga kali. Meletakkan gelas di atas nakas, lalu menghampiri istriku.

Kupegangnya tangan sambil membaca ayat-ayat rukyah. Matanya melotot. Dia menggeram seperti binatang buas. Tangannya yang bergerak ingin mencakar, terpaksa aku mengeratkan pegangan. Tubuhnya berontak. Sementara ayat-ayat rukyah masih terus aku baca.

Lama-lama tubuh itu melemah. Matanya tertutup lagi. Tapi napasnya sudah mulai teratur. Aku mencoba menepuk wajahnya lembut.

"Bangun, dek. Ayo bangun!" bisikku di telinganya.

Perlahan matanya membuka. Dia terkejut, bangun dari tidur dengan gugup.

"Aku kenapa, Mas. Kok tiba-tiba ada di kamar?

Aku tersenyum, menenangkannya.

"Nggak papa. Sepertinya kamu kecapean. Tadi pingsan. Jadi aku bawa ke kamar. Maaf kalau aku lancang menggotongmu tanpa ijin."

"Iya, Mas. Nggak papa. Maaf kalau sudah merepotkan."

Istriku tersenyum malu. Aku sodorkan air minum yang tadi sudah kurukyah

"Minumlah!"

Dengan malu-malu, dia meminumnya sampai habis. Lega rasanya. Biarlah dia tidak perlu tahu apa yang terjadi. Biar kami bisa menjalani hari bahagia ini tanpa terganggu dengan apapun.

KEMBALI KE ARTIKEL