Mohon tunggu...
KOMENTAR
Sosbud Artikel Utama

Dunia Yang Terenggut

20 September 2012   01:26 Diperbarui: 25 Juni 2015   00:12 804 22

Ketika melihat keceriaan anak-anak, apa yang terlintas di pikiran kita? Mungkin, bukankah seharusnya anak-anak hidup bahagia? Tertawa lepas, bernyanyi, bermain dan berlari kesana-kemari seolah tak mengenal lelah.

Anak-anak bagaikan kertas polos yang melihat dunia penuh dengan warna, tidak sekedar hitam putih. Mereka selalu ingin tahu, selalu bergerak, selalu berpetualang  dan mencoba hal baru hingga orang tua menyekatnya dengan kata: “Jangan!”

Tetapi sayang tidak semua anak beruntung. Banyak anak yang terenggut dari dunia mereka. Di usia bermain mereka harus mengemis, mengamen, menjadi pedagang asongan atau menjadi pemulung. Kehidupan mereka sangat rentan, mulai dari pelecehan, pemerkosaan dan terjerumus menjadi pengguna NAPZA ((narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya).

Berapakah jumlahnya? Menteri  Sosial, Salim Segaf Al Jufri mengatakan, jumlah anak telantar di seluruh Indonesia mencapai sekitar 4,5 juta anak dan tersebar di berbagai daerah. Anehnya data Kementerian sosial hanya menyebutkan angka dua ratus tiga puluh ribu (230.000) anak jalanan di Indonesia. Masalah bertambah pelik karena banyak pejabat daerah setingkat camat dan lurah yang tidak menyadari keberadaan anak-anak tersebut di daerahnya.

Padahal merekalah generasi pewaris negara ini. Sumbangsih apa yang bisa diharapkan apabila semenjak kecil sudah teradiksi NAPZA? Berikut beberapa dampak negatif pengguna NAPZA :

  • Gangguan pada sistem saraf (neorologis) : kejang-kejang, halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan saraf tepi.
  • Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) : infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah.Gangguan pada kulit (dermatologis) : penanahan, bekas suntikan dan alergi.
  • Gangguan pada paru-paru (pulmoner) : penekanan fungsi pernapasan, kesukaran bernafas, pembesaran jaringan paru-paru, pengumpulan benda asing yang terhirup.
  • Dapat terinfeksi virus HIV dan AIDS.

Menghadapi kompleksitas masalah anak terlantar, Mensos Salim Segaf Al Jufri mengeluh minimnya anggaran yaitu sebesar Rp 281 milyar pertahun. “Hanya cukup untuk mengatasi kurang lebih 175 ribu anak”, ujar pak Mensos.

Jadi apakah kita hanya bisa ikut mengeluh bersama pak Mensos? Kami, mewakili para ibu sependapat bahwa ada banyak cara bijak daripada sekedar memberi uang pada anak terlantar karena hanya akan menjerumuskan mereka ke dalam jurang yang lebih kelam. Beberapa cara itu antara lain:

  • Memberikan donasi (uang , baju bekas layak pakai) pada komunitas peduli anak terlantar, karena komunitas tersebut mengetahui kebutuhan anak-anak gelandangan dan pengemis (gembel), pemberian uang langsung pada anak yang bersangkutan hanya akan dipergunakan untuk membeli lem atau produk yang mengandung zat aditif lainnya.
  • Membentuk  kelompok peduli anak terlantar atau ikut bergabung dengan kelompok yang sudah ada seperti Rumah Cemara (Bandung) dan Save Street Child (ada di setiap kota). Kelompok/ komunitas ini sangat fleksibel sehingga sukarelawan bisa memilih hari berkegiatan. Mereka juga sangat mengerti kebutuhan anak terlantar yang biasanya sudah terlanjur malas belajar. Sering anak-anak tersebut hanya mengharapkan kenyamanan dan merasa senang didengar. Sesederhana itu.
  • Sibuk? Tidak punya waktu? Bagaimana sebagai pengganti uang sedekah kita memberi nasi dan lauknya? Apabila terlalu mahal, berikan saja air mineral dan makanan kecil.
  • Apabila memungkinan, beri mereka buku gambar untuk diwarnai dan pensil warnanya. Tidak harus baru. Bekas anak/keponakanpun jadilah. Mungkin anak-anak tersebut hanya akan memandangi gambar-gambar yang ada, kemudian melupakannya. Tetapi kita telah memberi mereka kesempatan melihat dunia lain selain dunia jalanan.

Jika anak-anak terlantar mendapat kesempatan memilih, pastilah mereka tidak menghendaki hidup beratapkan langit sepanjang harinya. Merekapun ingin mempunyai keluarga yang menyayangi dan disayanginya. Mereka ingin sandang pangan tercukupi, pendidikan, kesehatan dan jauh dari berbagai ancaman.

Jadi mengapa kita tidak mencoba memberikan salah satunya?

Berikut ini foto anak-anak dimana mereka seharusnya berada dan kebahagiaan yang seharusnya mereka rasakan.

Tumbuh kembang secara fisik di dapat anak-anak dari makanan sehat ... yuk! ajak anak-anak untuk melihat sekitar, di sudut jalan, di persimpangan lampu merah, di kolong jembatan, di bantaran sungai, di gubuk tanpa jendela masih ada anak-anak lain yang tak bisa makan bahkan kelaparan, sisihkan sedikit saja uang jajan kalian akan membuat mereka menghadiahkan ucapan terimakasih dan seulas senyuman ^_^

Hasil kolaborasi @Dewi Laily Purnamasari dan @Maria Hardayanto

Untuk memeriahkan Weekly Photo Challenge : Foto Kolaborasi

Sumber data :

Kompas.com

Republika online

BNNP

KEMBALI KE ARTIKEL