Mohon tunggu...
KOMENTAR
Puisi Pilihan

Takbiran

30 Juli 2020   21:14 Diperbarui: 30 Juli 2020   21:14 52 7
Nafas kehidupan tersengal-sengal bersama waktu
Mengeja-ngeja latah keagungan Tuhan Yang Satu
Kudengar suara itu lantang menderu-deru
Memenuhi langit merangkul bintang dalam gelagat bisu

Di Langgar, Mesjid, Mushola itu kini mudah didapati segelintir orang sedang merayu
Melumat habis kalimat takbir, tahmid dan tahlil menjadi satu
Lantunan itu membentuk lagu
Sesekali garaunya tak jauh beda dengan nada merancu
Hanyut jauh terseret-seret takaran rasa yang terselip dalam pilu

Aku mematung dalam angan memahat satru
Sementara akal bulusku mencecar kesanksian satu-persatu
Meracik pertanyaan dingin terdikte kuasa picik bahasa nafsu
Dan bibir duaku telanjur lacur dalam mencucu
Menaruh celah sedikit curiga namun sesaat kemudian berhasil kusapu

Apa iya, malam ini kaum muslimin sejagat sedang lena iterbopong rindu?
Menyebut-nyebut asma kekasih sejatinya dengan teramat syahdu
Entahlah, gerangan sejak kapan mereka-mereka menjadi pecandu?
Tak ada awal cerita seberapa akut dan sesungkan apa dirinya enggan mengaku

Dari pojok kamar, terkadang dua gendang telingaku terseok-seok menyaring seru
Memilah-milah tikungan tajam kata yang saru
Antara persimpangan keliru dan palsu
Antara kegamangan dan kaku

Jelas, rasa penasaranku itu tidak pernah sama sekali mau tertipu
Tergadai kebisingan hilir-mudik kendaraan yang terus-terusan dipacu
Kini perayaan itu benar-benar telah tersekat kelam seujung kuku
Tersatire hening seorang Bayu

Sejenak aku termakan tegun, kalap dalam sayu
Entah muntahan sesungutan acakadut apa yang harus aku lontarkan
Sesaat setelah segerombol orang lebih asyik  berpawai dengan dangdut koplo
Mengganti kekhusyukan berkhalwat dengan berjoget riya'

Sementara di angkringan-angkringan itu lebih banyak  tertengger anak muda
Sibuk bercinta ria dengan gudget-nya
Rokok tergamit dua jemari tanpa henti
Wedang itu sibuk melenyapkan dirinya

Oh, Tuhan, rumahmu telah tersewakan banyak pada pemabuk nan sakau
Kunci daun pintunya telah terkulum pencacau
Sesekali kuintip mereka terkadang menyibuk diri dalam pirau sembari terpikau-pikau
Lantas banyolan akut apalagi yang hendak membelalakkanku dalam balau?

Ah, aku tersandung jauh dalam efouria gila zaman edan
Dan dulu, hanya puas terkesima dengan bajau begud-bedug berirama


Tulungagung, 30 Juli 2020

KEMBALI KE ARTIKEL


LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun